Posted in Puisi

Catatan Oktober 2018

Meski luka tidak secepatnya sembuh setidaknya aku bisa mengobati walau perih

Meski namanya tak pernah terpatri dalam hati setidaknya harapan yang tidak pasti yang kau gantungi membuat aku menanti

Meski bait rindu yang Tak berujung temu slalu ku syairkan

Kamu takkan pernah tahu

Bagaimana bodohnya aku menunggumu

Kenapa mesti mengenalku kalau akhir yang kau pilih adalah DIA

Advertisements
Posted in Puisi

Senja Tak Sama pun Rasa

Rindu ini masih. Alunan yang sama dengan melodi yang sama. Tidak ada yang berbeda. Aku dan kamu pun masih sama. Sama seperti dahulu, aku yang mengagumimu dan kamu yang mengagumi nya.

Rindu ini akan tetap sama. Meski jarak terbentang luas memisahkan antara kita. Tentang waktu yang berbeda. Dan begitupun rasa yang berbeda.

Entah, rindu ini masih tetap sama seperti setahun lebih yang lalu. Dunia nyata yang tak berpihak untukku bertemu dengan mu. Hanya dunia maya yang berpihak. Itupun hanya sekedarnya.

Entah, rindu ini terus memeluk. Di penghujung hari, senja indah tak terlukis. Kamu, masih sama dengan rasa itu dan aku masih sama dengan rindu ini.

Rindu semakin erat memelukku. Erat, begitu erat. Aku mendadak menjadi seorang pelupa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Di temaram malam yang tetap kelam aku meminta. Agar kau tahu. Bahwa aku disini. Aku masih disini tetap bertahan dengan rinduku. Rindu yang entah kapan akan berbalas temu. Rindu yang entah kapan akan berbalas rasa. Rindu yang entah kapan akan berujung.

Untukmu, pencuri hati. Aku masih disini. Menunggumu.

Posted in Bloggers' Challenges

#BC69 : Salam Rindu dari Fetty 

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan Bloggers’Challenges yang ke-69 dari Roby dengan topik “Perpisahan”. Kali ini aku buat dalam bentuk puisi. 
Semalam, aku bermimpi 

Saat itu aku dibawa ke masa putih abu-abu lagi

Memakai seragam putih abu-abu dengan kerudung rawis putih

Di gebrak untuk mengikuti upacara senin pagi 

Mimpiku berlanjut ke memori usang yang belum pernah pergi 

Masih selalu terngiang di pikiran, terasa di hati

Cerita mondok sambil sekolah, mungkin membuat orang lain iri

Atau tidak sama sekali 

Bangun tidur pagi sekali 

Mengambil wudhu pun mengantri, apalagi mandi

Di gebrak pula di suruh mengaji

Sampai di pengajian kantuk tak tertahan sampai akhirnya tidur lagi

Kalau ada talaran mana mau untuk mengaji 

Apalagi talaran Amsilati

Selesai ngaji harus segera sekolah pagi

Kalau tidak, datanglah akang berpeci

Semangat sekolah karena akan bertemu si doi

Eh ternyata si doi di ambil sahabat sendiri

Jadinya sakit hati 

Untung tidak sampai bunuh diri 

Bolos menjadi penghias hari

Karena pelajaran yang kurang mengerti 

Apalagi Fisika bersama Pak Dedi

Pelajarannya rumit sekali

Belum pernah jatuh cinta sampai saat ini

Yang ada hanya benci

Lebih asyik kalo berorganisasi

Masuk Paskibra walau tubuh kurang tinggi 

Ikut lomba LKBB sampai se-provinsi

Walau juara hanya sesekali 

Tapi pengalaman tak pernah terganti

Ngaji sore menjadi kewajiban bagi santri

Ngaji malam apalagi 

Tertidur di kelas selalu ku alami 

Kabur-kaburan adalah kegiatan sehari-hari

Kalau merasa suntuk di asrama putri 

Dari yang dekat sampai yang jauh aku pergi

Akan di hukum pun aku tak peduli

Karena aku ingin senang kembali 

Senin adalah hari yang di tunggu-tunggu santri putri 

Karna hp di bagi

Walaupun WA, grup yang memenuhi 

Bukan si doi

Ah, kasihan sekali

3 tahun aku alami 

Walau akhirnya perpisahan menghiasi

Air mata trus membasahi 

Karena sedih sekali

Tanpa putih abu-abu telah pergi 

Perpisahan terasa berat karena di tangisi

Tapi aku tak tahan lagi

Semuanya menjadi sibuk sendiri-sendiri

Untuk mengejar mimpi 

Melihat kegiatannya hanya di Instastory 

Walaupun sepintas tapi rinduku terobati 

Sahabat-sahabat Fetty, 

Semoga kita bisa bertemu kembali. 

Bekasi, 15 Februari 2018

Posted in Self Challenge

Challenge #23 : Mystery 

5 bulan berlalu. Aku disini. Maaf bukannya aku tidak merindu padamu. Tapi, aku tidak bisa berlama-lama disini. Mungkin cukup sampai disini. Akan ku tabung lagi, rasa rinduku padamu. 

Terimakasih selalu menjadi ruang ku untuk menapaki semesta dan melihat betapa indahnya senja. Hanya satu yang kurang saat aku melewati keindahan denganmu. Ya, hanya satu. Kamu pasti tau itu. 

Bila ada segelintir orang yang merindukanku, Sampaikanlah padaku. Tapi, aku rasa tidak mungkin. Bantu semesta menjelaskan pada mereka. Tak perlu banyak tanya. Aku kan baik-baik saja. Aku malas untuk menjabarkan semuanya. Karena aku pun tak tahu apa yang akan terjadi detik selanjutnya, menit selanjutnya, jam selanjutnya. Bahkan hari-hari selanjutnya. Aku tidak tahu. Hanya saja saat ini, aku masih terus merangkai kata untuk ku sampaikan padamu. Sungguh menjadi teka-teki. 

Jogja, 27 November 2017

Posted in Self Challenge

Challenge #19 : Pembodohan

Ah seharusnya kau tak perlu sesedu itu

Salahmu sendiri masuk dalam lingkaran kehidupannya 

Membuat kau menjadi orang yang selalu berharap 

Menyiksa diri sendiri (lagi) 

Belum puaskah kamu setelah jejaknya tak lagi ada dalam hidupmu tapi kau mencari jejak lain dengan cerita yang sama

Dengan rasa yang sama

Dengan jalan yang sama

Kamu perlu berjalan jauh pergi dari rutinitas biasa

Perlu berjalan jauh pergi dari manusia manusia saat ini 

Ya, kamu perlu itu

Setelah selesai menyelesaikan cerita sad ending kau tidak perlu menambah cerita sad ending kembali

Sudah, ini untuk yang terakhir. 

Dari 3 kali cerita. 

Sungguh anak malang. 

Posted in Puisi

Hanya Ini, Untukmu 

Sahabat, sudah lama kita tak berjumpa 

Tak ada lagi waktu untuk saling bertukar kisah

Kita sudah dipisahkan oleh masa yang berbeda 

Sahabat, tak ada lagi waktu untuk kita bersama 

Tak ada lagi waktu untuk kita berjuang bersama

Tak ada lagi waktu untuk kita menuliskan sejarah bersama 

Dalam rinduku tetap terpahat namamu, sahabatku 

Putaran kisah seolah tak berhenti di pikiranku

Terbayang 

Teringat selalu saat kita berjuang untuk sebuah organisasi 

Masih terbayang saat kita keluar jam pelajaran hanya untuk membeli selembar kain

Berusaha ikhlas untuk mengorbankan waktu, uang, dan energi hanya untuk sebuah organisasi 

Paskibra 

Di sanalah ruang untuk mengenalmu

Tehnical meeting yang harus kita hadiri

Waktu yang harus kita sisihkan

Uang yang harus kita keluarkan

Tasik – banjar sudah biasa

Kebingungan saat kita akan pulang 

Materi yang harus kita berikan pada Capas

Dadaha yang menjadi tempat kita berkumpul dengan yang lain

Saat sama-sama harus menggebrakkan lapangan

Mengetarkan hati

Berusaha sekuat tenaga untuk konsentrasi 

Mengibarkan sehelai kain demi Indonesia 

Klise klise film saat kita satu kelas, Akson  

Kenangan kita yang terlalu banyak untuk dikenang 

Cerita kabur dari sebuah penjara suci sudah biasa dilakukan 

Pergi ke rumah teman hanya untuk mencari makan gratis 

Membuat sejarah untuk nanti di kenang dan di ceritakan

Kelas yang dijadikan rumah makan

Dijadikan studio rekaman 

Dijadikan sebuah ruang ganti di balik tirai 

Cerita-cerita asmara yang kita uraikan 

Marah, kesel, bahagia saat kita menceritakannya

Saat perkemahan yang membuat cerita itu nan romantis 

Organisasi juga yang menjadi wadahnya

Masih ada sisa obrolan-obrolan kala hujan tiba di mushola Galunggung itu 

Masih ada canda tawa di kedinginan Galunggung kala malam itu

Masih ada sisa sisa suka duka kala itu 

Menceritakannya membuat aku rindu 

Aku ingin memeluk mu erat

18 tahun lalu, ibumu menangis bahagia menyambut kehadiranmu

Setelah 9 bulan lamanya ia mengandungmu, akhirnya hadirlah seorang anak perempuan 

Harapannya selalu sama seperti ibu yang lain

Ia menginginkan anaknya menjadi anak yang berguna 

Yang juga berbakti pada kedua orangtuanya

Ia membesarkanmu

Ia merawatmu dengan kasih sayang

Ia selalu memberikan kehangatan 

Ia selalu tahu apa yang kamu mau

Hingga sampailah aku ditakdirkan bertemu dengan gadis anggun dan cantik

Hanya ini, untuk mu

Selamat berkurangnya umur, sahabatku 

Doğum günün kutlu olsun 

Happy Birthday 

Sugeng ambal warso

Wilujeng tepang taun

Semoga menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan yang lain

Tetap menjadi temanku yang selalu mengingatkan 

Tetap menjadi sahabatku walau jarak memisahkan 

Kalau pun tak ada waktu untuk kita berjumpa, kenang lah aku

Semoga kita bertemu di Jannah-Nya 

Maaf hanya ini, untukmu 

Amaliah Fitri 

3 Oktober 2017