Posted in Sharing

Tidak Ada Doa yang Sia-sia

Aku percaya itu.

Tidak pernah ada doa yang sia-sia. Begitulah faktanya. Jangan tanyakan kenapa doaku tidak pernah terkabul. Tapi, coba cek hatimu. Mungkin saja apa yang kamu harapkan belum saatnya kamu dapatkan, atau Allah tahu kamu tidak perlu itu, tapi Allah akan memberi lebih dari apa yang kamu harapkan. Tidak perlu berfikir dengan logika. Cara Allah memang tidak pernah disangka-sangka.

Pembaca setia Komorebi pasti pernah membaca postinganku yang berjudul Kiki Pildacil Zaman Now. Yaitu, postingan yang didalamnya terdapat cerita tentang Rifqi alias Kiki Pildacil dan kebetulan saat itu adalah ulang tahunnya yang ke 18. Disana aku menuliskan sebuah harapan dan doa untuk Rifqi. Anehnya, postingan tersebut paling laku keras di kalangan pembaca. Setiap hari, selalu ada saja yang membaca postingan tersebut. Banyak yang membaca postingan tersebut, artinya banyak juga yang membaca harapan dan doaku untuknya. Alhamdulillah wa syukurillah, biidznillah Rifqi di umur ke 18 menuju 19 tahun dia berhasil mendapatkan keinginannya yaitu menjadi mahasiswa Turki.

Menjadi mahasiswa Turki seperti apa yang ia inginkan

Satu tahun lalu, kita pernah mendiskusikan permasalahan beasiswa ke Turki lewat YTB. Persyaratan yang mudah membuat semangat kita terbakar. Saat itu, ia masih di pondok tahfidz untuk daurah 30 Juz. Suatu malam dia bilang, ”Udah kaya Bocah Mersin, belum?” Ya, Bocah Mersin adalah mahasiswa Indonesia yang kuliah di Turki dengan nama asli Fauzan. Aku dan Rifqi saat itu memang explore mahasiswa Indonesia yang kuliah di Turki. Salah satunya adalah Bocah Mersin.

Masih jadi Bocah Bandung

Alhamdulillah, sekarang ia menjadi mahasiswa Turki tepatnya di Universitas Sakarya dengan mengambil jurusan Arsitektur.

Bocah Sakarya

Ada juga cerita temanku satu lagi. Namanya Billah. Dia ingin sekali menjadi Dokter, tetapi 2017 lalu dia mau masuk fakultas kedokteran tapi tidak bisa mengambil SNMPTN karena tidak terdaftar untuk bisa mengambil SNMPTN. Saat itu, aku yang masuk daftar boleh mengambil SNMPTN justru di sia-siakan begitu saja. Karena aku sudah bertekad untuk menghafalkan Al-Qur’an. Akhirnya Billah mengambil jalur SBMPTN, tapi gagal. Dia mengambil ujian mandiri juga gelombang pertama di Universitas Muhammadiyah Jakarta, namun lagi lagi perjuangannya gagal. Ia tidak mau menyerah. Dia terus mencoba untuk ujian di Universitas lain dan juga Universitas yang sama yaitu UMJ di gelombang kedua.

Ia pernah bilang padaku kalau misalkan dia masuk fakultas kedokteran, ia akan mentraktir teman sekelas. Suatu hari dia ng-chat dan bilang ”Lu inget gak? Gua pernah ngomong kalau gua bakalan traktir temen-temen sekelas”. Aku jawab dengan polos, ”Iya, tahu”. Selanjutnya aku baru sadar kalau ia diterima di fakultas kedokteran UMJ. Dia juga menyampaikan kalau ini adalah balasan dari sebuah kebiasaan aku yang selalu memanggil dirinya dengan sebutan Pak Dokter.

Maasya Allah. Memang, doa itu tidak pernah ada yang sia-sia. Peristiwa di atas biasanya aku gunakan sebagai pengingat diri, kalau Doa tidak pernah ada yang sia-sia. Hanya saja, kita merasa sombong kepada Allah. Untuk berdoa saja, merasa tidak perlu. Jadi, apa harapanmu? Mungkin dengan menulis harapan-harapan , kita akan lebih sering dengan tak sengaja membaca harapan-harapan kita dan itu adalah sebuah doa.

Advertisements
Posted in Sharing

Jangan Kotori Niat Baik dengan Maksiat

Memang, segala rencana tidak bisa dengan mudah untuk di wujudkan. Kenyataan juga harus berbeda dengan perencanaan. Niat baik tak pernah selalu berjalan dengan mulus. Selalu ada godaan syetan yang melintas. Mengotori niat baik yang membuat pahala terhapus.

Apa kabar hati?

Apa kabar iman?

Ada yang bilang, “Salah satu ujian dari seorang penghafal adalah ingin menikah. Ada juga salah satu anugerah seorang penghafal adalah ada yang mengajak menikah”.

Menikah bukan suatu perkara yang mudah. Menikah perlu persiapan mental dan fisik. Menikah perlu persiapan untuk membangun cinta. Tidak selalu perihal cinta, tapi perihal bagaimana membangun generasi Qurani dengan penuh cinta. Menikah semakin akrab di telinga dengan nikah muda. Nikah di umur yang terbilang muda. Ah, menurutku di zaman dahulu nikah selalu di usia muda. Seperti yang di ceritakan Mama.

Menikah adalah ibadah, dimana separuh dari ketaqwaan kita di sempurnakan. Membangun rumah tangga dalam ketaatan. Mendidik keluarga dengan penuh kesabaran.

Menikah bukan hanya karena kita jatuh hati pada seseorang yang menarik hati. Tapi, menikah karena agamanya, itu sangat di anjurkan.

Proses sebelum menikah, biasanya ada yang dinamakan Ta’aruf atau perkenalan. Bukan pacaran. Tapi terkadang, ada pacaran di bawah naungan ta’aruf. Ngakunya ta’aruf tapi nyatanya seperti orang pacaran. Na’udzubillah. Niat baik, tolong jangan di kotori dengan maksiat. Proses ta’aruf juga bukan berarti dia adalah jodoh kita. Maka dari itu, akhwat seharusnya lebih siap kalau ada ikhwan yang mengajak ta’aruf. Harus siap dengan apa yang Allah rencanakan. Baik itu mungkin akan berlangsung ke pelaminan atau mungkin akan berujung jadi tamu walimahan.

Syetan memang tidak mau berhenti menggoda anak cucu Adam. Lagi suka sama seseorang, syetan bilangnya pengen deket-deketan. Jadi stalker sejati demi mencari tau si doi. Lagi ta’arufan, syetan bilangnya komunikasi perlu. Padahal tidak ada yang terlalu penting untuk tidak dibicarakan. Hati bilang cukup tapi nafsu bilang santai, ini hanya sebatas ini itu saja, kok. Tidak berlebihan. Dan kita, lebih memilih nafsu. Kita terlalu sibuk menutupi kebenaran dibandingkan kejahatan.

Jadi, tolong! Jangan kotori niat baik dengan berbuat maksiat.

Posted in Sharing

Muslim Taat

Bismillahirrahmanirrahim
Dengan segala kerendahan hati izinkan aku untuk berbagi, bukan maksud menggurui hanya membagi ilmu dari guru. Jika ada kebenaran di dalamnya itu datangnya dari Allah, namun apabila ada yang salah itu mutlak datangnya dari diri yang fakir ilmu ini.

Manusia diciptakan tidak lain hanya untuk beribadah. Beribadah banyak caranya. Tidak hanya sholat, sedekah, puasa, zakat. Senyum dengan ikhlas kepada saudaramu pun ibadah. Membantu orang lain pun ibadah. Membuang paku di jalan pun ibadah. Niat dengan lillah, segala kebaikan yang kita lakukan insya Allah akan menjadi nilai ibadah.

Apakah kita sadar, saat minum saja kita sudah melakukan ibadah. Pertama, minum dengan tangan kanan. Kedua, minum sambil duduk. Ketiga, membaca basmallah. Ke-empat, tidak minum seperti unta. Itu termasuk cara yang di contohkan Rasul, sebagai panutan kita. Mau masuk kamar mandi, baca doa lalu masuk menggunakan kaki kiri terlebih dahulu. Keluar kamar mandi kaki kanan terlebih dahulu, baca doa. Kalau kita sudah biasa disiplin dengan cara seperti itu, insyaallah hidup ini berkah. Visi yang sudah di bebankan kepada kita sebagai manusia yang tak lain untuk beribadah, kita jalankan dengan baik.

Karena seorang muslim, bukan hanya tercetak dalam KTP beragama Islam. Tapi, hati yang bersih, perilaku yang baik, tutur katanya tidak menyakitkan melainkan penuh makna dan menyenangkan hati orang lain.

Ayo, menjadi muslim yang taat😂

Posted in Sharing

Pesan Bapak Tentang Nikah Muda

Nikah muda sebenarnya belum waktunya, belum mapan kehidupannya maupun ilmunya. Seharusnya, mapan dulu terutama di bidang ilmunya. Karena, jika sudah menikah, terkadang untuk mencari ilmu itu sulit. Makanya dari waktu muda, itu adalah kesempatan emas mencari ilmu. Ilmu, sedikit saja, tidak perlu panjang-panjang. “Sakalimah asal kabawa ka imah”. Maksudnya, kalau kita mendengarkan satu cerita, kita harus faham. Maksud ‘kabawa ka imah’ (Kebawa ke rumah) di praktekkan. Seperti kita membaca ta’awudz, “Aku berlindung kepada Allah” nah kita berlindung kepada Allah, hati-hati kita harus tahu artinya dan di praktekkan. Berlindung, berarti kita dekat dengan Allah, tingkah laku harus benar. “Dari godaan Syetan yang terkutuk”, yang terkutuk itu adalah yang di belenggu, bahwa perilaku kita jangan sampai seperti Syetan. Harus spserti manusia biasa. “Ari ta’awudz meni lekoh ari kalakuan siga jurig” berarti itu belum benar ta’awudznya.

Di teruskan membaca Basmallah. “Dengan menyebut nama Allah”, insyaa Allah 99 terucap dalam kalimat ‘Bismillah’. “Yang Maha Pengasih”, mau kristen, katolik, budha, konghuchu, maupun Hindu, oleh Allah pasti di beri rizki tapi tidak di cintai. “dan Yang Maha Penyayang”, Allah sayang sama kita, sudah jelas. Allah sudah jelas sayang sama kita, kita harus sayang kepada makhluk Allah, semua makhluk Allah pasti sayang kepada kita. Seperti halnya Bung Fiersa, dalam Konspirasi Alam Semesta. Hakikatnya, semua alam ini berkonspirasi. Saling kerterkaitan. Sang Maha sudah jelas sayang kita, kita juga harus sayang makhlukNya, maka MakhlukNya akan sayang pada kita.

Jangan panjang-panjang ngaji mah, itu aja di tela’ah, ucap si Bapak.

Sekarang masalah nikah muda, pertama ilmu belum mapan, kalau kurang ilmunya menimbulkan pertengkaran, yang di kejar cuma dunia, sebab banyak kebutuhan. Kalau kita sudah tahu Allah, mudah. Kalau kita berdo’a pasti di kabulkan. Kenapa do’a kita tidak di kabulkan? Sebab, kita tahu ilmunya. Coba cek, ketika kita berdo’a, pikiran kita ke Allah, gak? Engga. “Ya Allah turunkan rezeki yang halal dan barokah”, jangan bilang halal dan barokah. Sebab sama Allah di beri rezeki, gak zakat, gak sedekah, barokah gak? Engga. Mintanya jangan seenaknya kita “Ya Allah aku minta diturunkan titipan rezeki olehMu, rezeki yang berlimpah, serta aku bisa membawanya di jalan yang di Ridhoi Allah”. Jangan sampai kita berdo’a, Ya Allah aku ingin motor buat ojeg. Siapa tahu Allah memberi bis. Jadi, jangan sampai do’anya di patok oleh kita sendiri. Tapi, kita juga harus bisa membaca diri kita sendiri. Pertama syariat, hakikat, tarekat, dan ke empat ma’rifat terakhirnya sampai sepuluh, Rahmatan lil ‘alamin. Kasih sayang Allah, lil ‘alamin yang berarti untuk seluruh alam. Perilaku kita harus bisa sampai sana, rahmatan lil ‘alamin. Jangan sampai kita terus menerus syari’at, hakikatnya tidak dilaksanakan. Kita berusaha menjadikan rumah tangga sakinah mawaddah warahmah, itu hal mudah. Anak kecil aja bisa. Sekarang, harus bagaimana? Harus tau ilmunya. Pertama, ada yang pernah mati suri mengatakan 80% di neraka adalah perempuan. Apa sebabnya? Padahal perempuan mudah untuk masuk surga kalau punya ilmunya. Kalau perempuan mengabdi kepada suami. Kalau kata suami “Jangan keluar sebelum akang pulang”, diam saja di rumah, jangan sampai keluar rumah seperti shopping. Kalau keluar rumah itu sudah masuk dosa besar. Ada juga perempuan yang masuk ke surga, seperti apa? Yaitu yang taat kepada suami. Misalnya, suami pulang kerja, siapkan air 1 gelas. Kalau dulu si istri siapin tongkat, “Kang, kalau saya salah, silahkan pukul”. Sekarang, gak ada yang kaya gitu.

Surga tidak hanya di akhirat saja. Di dunia juga ada. Begitu pun neraka. Contoh, adanya jembatan shiratal mustaqim yang diibaratkan rambat 1 helai di bagi 7. Di dunia, dalam 1 minggu itu di bagi 7. Dari ahad sampai sabtu. Dari 7 hari itu, kalau kita tergelincir, garansi sampai akhirat juga akan masuk ke neraka. Ucapan kita, harus baik. Tingkah laku, harus baik. Tekad, harus baik. Ucap, tekad, tingkah laku harus sama. Kalau kita membaca ta’awudz, harus sampai sama. Sekarang, ingin kita di jauhkan dari godaan syetan, tapi tingkah laku seperti syetan. Bukan menjauh. Jadi, kalau nikah muda tanpa mempersiapkan ilmu, sulit. Sebab banyak kebutuhan, ngejarnya materi. Kalau memang sudah siap nikah dengan umur yang cukup juga ilmunya, ibadah tidak akan terlunta-lunta. Sebab, orang-orang dulu pernah berkata, “Ibadah mumpung masih muda, sebab nanti kalau sudah punya istri/suami, banyak kebutuhan. Belum anak nangis lagi sholat, pipislah, beraklah, jadi terhambat”. Apabila kita tau ilmunya, kita tidak akan pernah meninggalkan sholat, kecuali ada halangan di perempuan. Karena itu Bapak berpesan “Sok cari ilmu, udah punya ilmu mah gampang, rezeki mah datang sendiri. Karena Bapak pengalaman. Usaha ini itu, tapi jauh dari Allah. Hanya tau saja ada Allah. Shalat aja. Tidak tau artinya. Kita jauh dari Allah, rezeki juga susah. Peribahasanya ingin 10 ribu aja, sampe keringat dari mata”.

Memang jodoh itu Allah yang atur. Tapi, kita harus tau nama siapa sama siapa, tempat tinggalnya dimana. Kalau jodoh nya bagus, tempat bagiannya bagus, tidak sulit mencari rezeki. Pasti ada jalan. Kalau jodohnya kurang pas di tambah tempatnya minus, minus lah hasilnya. Meskipun berdo’a sampai mengeluarkan air mata darah juga. Karena nama adalah do’a. Seperti Fetti. ‘fa’ dan ‘ta’. Ta nya di kasroh. Lahir senin, “Cageur, bageur, hoki”. Perilakunya serba mengalah. (Dalam hati, iya bener juga, sih. Wkwkwks). Dari pada ribut mending mengalah, pasti gitu kan? (Ketawa ketiwi dah kaya kuda). Tapi, mengalah untuk menang. Nanti, setelah orang lain bicara, baru bicara. Rezekinya, setiap kali di butuhkan pasti ada. Ada juga yang namanya ‘Alif’ ‘ghin’, contoh Agus. Sableng kelakuannya.

“Misalkan orang awam tidak faham dengan arti namanya, bagaimana caranya bisa tau?”

Doa. Misalkan kita ingin punya jodoh yang baik, baik untuk kita, baik di sisi Allah. Insya Allah, Allah mempertemukannya dengan yang baik. Sebab, doa tersebut di ijabah. Jangan sampai meminta kepada Allah jodoh yang ganteng, mapan, banyak uangnya, salah. Sebab nanti dalam agamanya kurang. Karena, tidak di sebutkan yang mengerti dalam agama, sekufu sama kita, justru harus lebih tinggi dari kita, karena jodoh itu untuk imam di dunia sampai akhirat. Mudah-mudahan mendapatkan jodoh yang di ridhoi oleh Allah, bisa menjadi imam, insya Allah di kabulkan.

“Apa yang menjadikan kriteria lelaki untuk di nikahkan dengan anak Bapak?”

Yang terpenting harus punya dasar ilmu agama, bisa ngaji, keluaran pesantren (sepertinya, line utama, nih). Soalnya rezeki ngikutin, asal bagus, plus namanya.

“Bagaimana kalau misalkan ada lelaki yang melamar salah satu dari 3 anak perempuan Bapak, sedangkan si anak Bapak ini masih jauh dari kriteria untuk siap menikah?”

Kalau belum mapan, jangan dulu serius. Lelaki juga harus lebih dari perempuan, baik dari segi umur, maupun ilmunya. Sebab, nanti yang akan jadi pemimpin. Kalau pemimpin adalah bawahan, bakalan terseret-seret, dari segala bidang.

“Bagaimana kalau yang melamar punya penghasilan sedikit tapi sudah hafal quran, ilmunya tinggi, sholeh, sip dah?”

Nah, itu yang di cari. Masalah dunia Allah yang atur. Yang terpenting kita tahu ilmunya. Sebab, mengaji itu susah. Manusia sekarang punya anak, kuliah biar gak susah cari kerja. Salah. Fondasi dulu yang kuat. Otomatis bangunan kuat, sebaliknya kalau fondasi asal-asalan bangunan akan roboh. Bapak mah gak muluk-muluk punya menantu insinyur, pengusaha besar, engga.

Semoga bermanfaat.

Posted in Sharing

Tentang Sebuah Kain

Cadar tentu bukanlah sebuah tanda kalau orang yang memakainya sudah menjadi perempuan yang sempurna, sholehah, tidak. Tidak selalu bisa dikatakan seperti itu. Tetapi, tidak bisa dikatakan juga yang memakai cadar semuanya tidak baik, tidak. Apalagi dikatakan teroris, oh itu salah besar. Di islam, kami tidak di perintahkan untuk saling menyakiti. Bahkan ke orang yang beda agama dengan kita saja, islam mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik.

Cadar merupakan salah satu tanda muslimah. Karena muslimah itu bagaikan mutiara. Sedangkan mutiara itu ada di dasar lautan, tentunya tidak sembarang orang yang bisa mengambil atau menyentuhnya. Harga sebuah mutiara pun mahal. Hanya orang tertentu yang bisa membelinya. Bukankah begitu? Begitu juga dengan seorang muslimah. Muslimah mahaaaal. Tidak boleh dengan murahnya memberikan segalanya kepada orang yang bukan mahram. Tidak mudah untuk di sentuh, tidak mudah untuk di gombali. Kamu mahal, wahai muslimah. Seharusnya diri kita lebih di jaga. Apalagi jangan sampai kita mudah untuk menjadi korban para php. Ada yang gombal, baper. Ada yang perhatian, baper. Jangan baper sebelum ada jabatan tangannya bersama walimu. Cukup baper setelah halal saja. Tidak ada kata ‘I love you’ sebelum menandatangi buku nikah.

Cadar bagiku adalah sebagai pengingat. Pengingat ketika syetan merayuku untuk bergabung bersamanya dalam perbuatan keji. Tapi, alhamdulillah selama ini memang benar-benar nyaman dengan memakai cadar. Jujur, keluargaku tidak ada yang memakai cadar, untuk pakaian syar’i saja bisa di bilang masih proses.

‘Bagaimana pendapat orangtua?’

Alhamdulillah, orangtuaku mendukung. Orangtuaku mengizinkan aku bercadar, walaupun mereka selalu bilang aku lebih cantik tidak memakai cadar. Apakah itu termasuk orangtuaku belum ridho? Ah, aku melupakan sesuatu yang penting itu. Biar nanti ku tanyakan.

Banyak kejadian lucu selama aku memakai kain yang bernamakan cadar itu. Mulai dari panggilan yang terdengar mengejek sampai yang menghormati. Ada yang manggil ninja, pencuri bahkan pernah ada seorang nenek yang berpapasan dengan aku dan nenek itu bilang ‘Ih meni sieun/ ih takut’. Antara sedih, malu dan lucu juga, sih sebenarnya. Candaan kaum lelaki juga tidak sama seperti ke perempuan lainnya. Mereka malah memberikan salam, atau manggil dengan ‘Bu Haji’. Pernah juga aku berpapasan dengan lelaki di jalan yang lumayan sempit, dan lelaki itu benar-benar nempel ke dinding, takut kalau dia bersentuhan denganku. Itu merupakan sebuah kehormatan karena merasa lebih terjaga dan lebih di hormati. Masalah banyak yang memandang itu sudah menjadi kebiasaan. Yang terpenting jangan lupa menyipitkan mata, tanda kalau kita tersenyum kepadanya, dan sebuah tanda juga, kalau kita juga menghargai mereka.

Posted in Sharing

19 Tahun Sudah

Di hari pertama bulan penuh maghfirah dan keberkahan ini seperti mengawali diriku yang baru. Ya, 19 tahun sudah aku membawa diriku mengarungi samudera kehidupan di lautan dunia. Tidak ada yang spesial. Hanya saja, aku butuh perenungan dan perencanaan yang lebih mendalam tentang kemana diri ini harus ku bawa pergi untuk sebuah tempat pulang?

Baca selengkapnya

Posted in Sharing

Hidupkan Sendi-sendi Islam

Kemarin, aku menghadiri acara Talkshow di Masjid Al-Ihsan JakaPermai, Bekasi bersama Ust. Burhan Sodiq dan Fuadbakh dengan tema “Yang Muda Yang Kreatif”. Tema yang diangkat begitu inspiratif mengingat keadaan zaman sekarang yang sudah sedikit demi sedikit seolah agama menjauhkan dari kehidupan karena efek dari ke-kreatifan. Umat islam sekarang sudah di rusak akidahnya, ibadah, sampai akhlaknya hasil dari kreatifnya bangsa luar. Begitu mudahnya tiga hal penting itu di rusak dengan satu senjata yaitu “Sosial Media”. Tidak hanya yang muda, yang tua juga ikut terjajah oleh sinetron-sinetron luar yang berdampak pada akidah. Anak-anak sudah terkontaminasi imajinasinya, akidah yang masih lemah semakin lemah karena tidak ada tontonan yang edukatif bagi mereka. Yang seharusnya idola mereka adalah Baginda nabi, tergantikan oleh tokoh-tokh fiktif seperti spiderman, batman, sampai superman yang tidak punya malu memakai celana dalam tapi dipakai di luar. Sedangkan umat islamnya masih berdebat dengan masalah “Tidak boleh menggambar makhluk hidup secara utuh”, sedangkan yang terjadi di masyarakat, mengikuti zamannya, anak-anak butuh tontonan yang sama level kekreatifannya, kerennya dengan film barat tapi menyampaikan ajaran agama. Karena anak-anak itu belajar harus secara have fun. Memerintah anaknya untuk mengaji tapi, orangtuanya nonton sinetron, main facebook, update status tidak jelas di WA, si anak ini butuh role model. Butuh contoh untuk di contoh.

Anak muda zaman sekarang, di hebohkan lagi dengan kehadiran oppa oppa korea. Setiap hari yang didendangkan bukan lagi ayat-ayat al-quran tapi lagu-lagu korea yang dia sendiri tidak tahu artinya. Gaya baju ingin seperti orang Korea padahal badan berlipat-lipat tidak lurus seperti Yoona SNSD.  Kulitnya ingin diubah menjadi putih, kinclong, sampai warna kulit wajah dan tangan tidak lagi sama. Yang jadi pegangannya bukan lagi Qur’an tapi benda kotak yang super canggih. Ada juga yang hijrah ikut-ikutan zaman. Masih mending lah mau ikutan kajian. Walaupun sebelum berangkat kajian update status di snapgram dan sosmed lainnya.

Sampai kapan anak muda menikmati hasil karya orang lain? Sampai kapan yang muda terus menerus di jajah oleh bangsa lain? Tidak maukah untuk berubah. Tidak mau meluruskan kembali generasi islami. Jangan sampai mau akidah kita di rusak, ibadah kita terganggu karena aktifitas yang sia-sia, jangan sampai akhlak kita hanya bergantung pada moralnya saja sedangkan spiritualitasnya kurang. Sering-sering, deh anak muda sekarang nge-cas iman dengan mengikuti kajian-kajian, kembangkan potensi diri agar kita bisa berdakwah lewat apa yang kita sukai.Fuadbakh kemarin mengatakan “APAPUN PROFESIMU, DAKWAH ADALAH KEWAJIBAN”. Sampaikanlah meskipun satu ayat. Ajak teman-teman kita, masyarakat di lingkungan kita untuk berbuat kebaikan, mencegah perbuatan yang buruk dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah. Karena hal ini adalah poin penting yang wajib ada di setiap muslimin dan muslimah.

Minimal kita mengubah kebiasaan kita. Dimulai dari yang terkecil saja. Misalkan sholat tepat waktu, sholat selalu berjama’ah di Masjid. Apalagi yang laki-laki di haruskan untuk berjama’ah di Masjid. Selalu berbagi, saling tolong menolong, gunakan waktu kita untuk beribadah dengan sebaik mungkin. Jangan hanya waktu kita di pergunakan untuk scroll si dia yang belum pasti. Allah yang sudah pasti tujuan kita tapi malah kita abaikan. Kamu sehat?

Perbanyak lagi waktu berdiskusi dengan Allah. Curhatkan semuanya ke Allah, jangan lari ke sosmed. Tidak baik, ah aib kita di sebar-sebar di khalayak. Coba kita lebih bijak lagi dalam menggunakan sosmed.

Ini sebagai challanges kita sebagai anak muda karena ke depannya mungkin generasi muslim ini akan lebih di jajah lagi dengan hadirnya kecanggihan teknologi.

Terus semangat kawan-kawan yang di rahmati Allah dalam membela agama Allah.

Syukran,

Terimakasih,

Thanks,

Arigatou,

Tessekur  ederim,

Nuhun.