Posted in Puisi

Bapak

Bapak

Aku sayang Bapak

Bapak yang selalu menasihati bahwa di dunia ini hanyalah sementara

Semuanya Allah yang mengatur, kita yang menjalani

Usiamu makin bertambah, namun jatah umurmu semakin berkurang

Aku yang selalu sedih saat mendengar tawamu riang di sebrang sana

Sedih, karena kita akan berpulang

Bapak

Jangan pernah tinggalkan aku sendiri terpekur di dunia yang fana

Jika ingin pulang, ajaklah aku, Pak

Bapak

Sehatlah selalu

Teruslah beri aku semangat untuk menuntut ilmu

Karena Bapak bagaikan air sejuk yang melegakan dahaga

Bapak sumber yang aku cari

Bapak adalah harapan

Entah sejak kapan aku menjadi begitu merengek manja kepadamu

Biarkan aku menjadi anak kecil di matamu

Bapak, aku tau hidup ini hanya sementara

Yang bernyawa akan lekas pulang

Tapi, aku tak akan sanggup melihatmu pulang sendiri

Bawa aku ya, Pak

Atau lihat aku

Lihat aku sampai aku bisa mengamalkan ilmuku

Lihat aku sampai menjadi apa yang Bapak inginkan

Lihat aku sampai Bapak menjabat tangan yang akan membimbingku

Lihat aku sampai Bapak melihat cucu yang bertambah

Lihat aku selalu, Bapak

Bapak

Rekaman-rekaman nasihat masih terngiang di kepala

Masih adakah waktu untuk aku terus bersama Bapak?

Masih adakah ruang untuk aku mencurahkan segala kesah?

Bapak

Aku sayang Bapak

Advertisements
Posted in Puisi

Catatan Oktober 2018

Meski luka tidak secepatnya sembuh setidaknya aku bisa mengobati walau perih

Meski namanya tak pernah terpatri dalam hati setidaknya harapan yang tidak pasti yang kau gantungi membuat aku menanti

Meski bait rindu yang Tak berujung temu slalu ku syairkan

Kamu takkan pernah tahu

Bagaimana bodohnya aku menunggumu

Kenapa mesti mengenalku kalau akhir yang kau pilih adalah DIA

Posted in Puisi

Senja Tak Sama pun Rasa

Rindu ini masih. Alunan yang sama dengan melodi yang sama. Tidak ada yang berbeda. Aku dan kamu pun masih sama. Sama seperti dahulu, aku yang mengagumimu dan kamu yang mengagumi nya.

Rindu ini akan tetap sama. Meski jarak terbentang luas memisahkan antara kita. Tentang waktu yang berbeda. Dan begitupun rasa yang berbeda.

Entah, rindu ini masih tetap sama seperti setahun lebih yang lalu. Dunia nyata yang tak berpihak untukku bertemu dengan mu. Hanya dunia maya yang berpihak. Itupun hanya sekedarnya.

Entah, rindu ini terus memeluk. Di penghujung hari, senja indah tak terlukis. Kamu, masih sama dengan rasa itu dan aku masih sama dengan rindu ini.

Rindu semakin erat memelukku. Erat, begitu erat. Aku mendadak menjadi seorang pelupa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Di temaram malam yang tetap kelam aku meminta. Agar kau tahu. Bahwa aku disini. Aku masih disini tetap bertahan dengan rinduku. Rindu yang entah kapan akan berbalas temu. Rindu yang entah kapan akan berbalas rasa. Rindu yang entah kapan akan berujung.

Untukmu, pencuri hati. Aku masih disini. Menunggumu.

Posted in Puisi

Luka September

Saat itu, masih mengenakan seragam putih abu-abu. Terdapat banyak rasa di dalamnya. Masalah percintaan menjadi masalah yang paling nyentrik dalam masa putih abu-abu. Tentang rasa yang terus dipendam ditambah bumbu cemburu yang tak berhak. Sampai pada penghujung masa, kita mengakhiri dan sama mengakui.

Kau wanita baik, aku tidak pantas untukmu, katanya. Penghujung yang dramatis dan masih penuh misteri. Aku tidak mau bergulung dalam masa lalu. Aku sudahi dengan permisi. Setidaknya teka-teki itu tidak membuatku menyesal kembali walaupun penasaran membakar diri.

Tetiba, setelah hidup damai tanpa ada rasa cinta selain cinta padaNya, kau hadir. Mengubah warna dalam hidup. Warna yang kau bawa berbeda. Bukan warna biasa layaknya remaja kebanyakan. Rasa damai yang berubah jadi gundah. Rasa tenang yang berubah jadi remang. Kau hadir dengan banyak ambisi. Saat itu padahal aku pun sama-sama masih baru mengenal. Hari demi hari. Penantian demi penantian kau buat aku jauh terbang tinggi. Terlaaalu tinggi. Saat itu pula goresan takdir membawaku jatuh dalam jurang terdalam.

Kau wanita baik, aku tidak pantas untukmu, katanya. Penuturan kalimat yang sama dari orang yang berbeda membuatku geram sendiri.

Ah, kali ini mengalami luka yang lebih besar. Tapi, aku mempunyai Allah yang maha besar. Sehingga pada akhirnya luka itu bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu berusaha mengobati. Karena untuk move on kita tak perlu melupakan hanya merelakan. Memetik hikmah dalam peristiwa tersebut. Meski masih banyak pertanyaan, cukup lah sampai disini. Tak perlu lagi ada yang ditanyakan jika ini memang jalannya. Karena, dengan ini aku tahu. Bahwa kau bukan yang terbaik untukku.

Posted in Puisi

Hanya Ini, Untukmu 

Sahabat, sudah lama kita tak berjumpa 

Tak ada lagi waktu untuk saling bertukar kisah

Kita sudah dipisahkan oleh masa yang berbeda 

Sahabat, tak ada lagi waktu untuk kita bersama 

Tak ada lagi waktu untuk kita berjuang bersama

Tak ada lagi waktu untuk kita menuliskan sejarah bersama 

Dalam rinduku tetap terpahat namamu, sahabatku 

Putaran kisah seolah tak berhenti di pikiranku

Terbayang 

Teringat selalu saat kita berjuang untuk sebuah organisasi 

Masih terbayang saat kita keluar jam pelajaran hanya untuk membeli selembar kain

Berusaha ikhlas untuk mengorbankan waktu, uang, dan energi hanya untuk sebuah organisasi 

Paskibra 

Di sanalah ruang untuk mengenalmu

Tehnical meeting yang harus kita hadiri

Waktu yang harus kita sisihkan

Uang yang harus kita keluarkan

Tasik – banjar sudah biasa

Kebingungan saat kita akan pulang 

Materi yang harus kita berikan pada Capas

Dadaha yang menjadi tempat kita berkumpul dengan yang lain

Saat sama-sama harus menggebrakkan lapangan

Mengetarkan hati

Berusaha sekuat tenaga untuk konsentrasi 

Mengibarkan sehelai kain demi Indonesia 

Klise klise film saat kita satu kelas, Akson  

Kenangan kita yang terlalu banyak untuk dikenang 

Cerita kabur dari sebuah penjara suci sudah biasa dilakukan 

Pergi ke rumah teman hanya untuk mencari makan gratis 

Membuat sejarah untuk nanti di kenang dan di ceritakan

Kelas yang dijadikan rumah makan

Dijadikan studio rekaman 

Dijadikan sebuah ruang ganti di balik tirai 

Cerita-cerita asmara yang kita uraikan 

Marah, kesel, bahagia saat kita menceritakannya

Saat perkemahan yang membuat cerita itu nan romantis 

Organisasi juga yang menjadi wadahnya

Masih ada sisa obrolan-obrolan kala hujan tiba di mushola Galunggung itu 

Masih ada canda tawa di kedinginan Galunggung kala malam itu

Masih ada sisa sisa suka duka kala itu 

Menceritakannya membuat aku rindu 

Aku ingin memeluk mu erat

18 tahun lalu, ibumu menangis bahagia menyambut kehadiranmu

Setelah 9 bulan lamanya ia mengandungmu, akhirnya hadirlah seorang anak perempuan 

Harapannya selalu sama seperti ibu yang lain

Ia menginginkan anaknya menjadi anak yang berguna 

Yang juga berbakti pada kedua orangtuanya

Ia membesarkanmu

Ia merawatmu dengan kasih sayang

Ia selalu memberikan kehangatan 

Ia selalu tahu apa yang kamu mau

Hingga sampailah aku ditakdirkan bertemu dengan gadis anggun dan cantik

Hanya ini, untuk mu

Selamat berkurangnya umur, sahabatku 

Doğum günün kutlu olsun 

Happy Birthday 

Sugeng ambal warso

Wilujeng tepang taun

Semoga menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan yang lain

Tetap menjadi temanku yang selalu mengingatkan 

Tetap menjadi sahabatku walau jarak memisahkan 

Kalau pun tak ada waktu untuk kita berjumpa, kenang lah aku

Semoga kita bertemu di Jannah-Nya 

Maaf hanya ini, untukmu 

Amaliah Fitri 

3 Oktober 2017


Posted in Puisi

Komorebi 

Cahaya matahari yang menelusup menyusuri melalui celah dedaunan. 

Kenapa Komorebi? 

Karena aku suka. Aku suka saat cahaya matahari yang memaksa masuk melalui celah daun mengenai mataku. Wabi-sabi. Ketenangan dan energi positif yang aku dapatkan. Hanya kehangatan yang aku rasakan. Seolah-olah menyingkirkan balutan selimut kerinduan di malam lalu. Membuka mata untuk melihat teka-teki. 

Posted in Puisi

Cipasung 

Tempat di bawah pelangi

Tempat singgah nya rahmat dan nur ilahi

Ada sesuatu hal yang di rindukan disana 

Tentang tanah leluhur kami 

Tatar patilasan para kyai

Tempat para santri mengaji 

Mengukir kata dalam balutan kenangan yang abadi 

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana

Tentang suasana yang hadir ditiap penjuru asrama

Suasana yang bergema kala malam tiba 

Suasana yang merebak kala pagi tiba

Suasana yang melelahkan kala siang tiba

Suasana yang menggemaskan kala petang tiba

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana

Tentang para pejuang dengan kawannya menggapai asa bersama

Menimba ilmu dengan kitab kitab kuningnya 

Yang diwarnai gelak tawa, canda, duka dan bahagia 

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana 

Tentang pengurus yang menjengkelkan kala adzan tiba 

Dengan suara lantang menggema menembus langit dan gendang para mujahid agama

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana 

Tentang syair syair yang dinyanyikan kyai kala mengaji

Bait perbait mengiang diruang madrasah 

Logatan logatan cepat yang tak terkejar dan hilang arah

Jua wejangan yang mengendap di relung jiwa

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana

Tentang sajadah yang terhampar rapi di masjid dan majlis

Untuk bercengkrama dengan sang maha Asih

Juga tempat para pejuang menyelipkan sisa-sisa kelelahan bersama air mata yang menetes dalam mata yang rindu akan keluarga dan kampung halaman

Ada sesuatu hal yang di rindukan di sana 

Tentang surat cinta untuk bertukar kabar

Terselip dalam dalam kertas kuning penuh logatan

Untuk Menyampaikan rasa melalui tarian-tarian tangan 

Yang Terhalang tembok tak terpandang

Demi rindu rindu itu 

Mimpi yang kita mimpikan mari wujudkanlah

Cita cita yang kita ciptakan mari capailah

Berjuanglah

Kareng jihad sebenarnya baru saja di mulai

Demi rindu rindu itu

Mari menjadi sinar purnama dan mentari yang selalu menyinari semesta

Karena itulah tugas terakhir kita dari pondok tercinta

Demi rindu rindu itu

Mari teruskan keringat para ulama untuk nusantara 

karena jika bukan kita

Siapa? 

Sampaikanlah kertas kuning kita yang penuh dengan goresan tinta

Tebarkan lah cinta untuk memperindah Manusia

Cipasung telah memberikan 1 juta pelajaran dan apa arti kehidupan

Demi rindu itu 

Maka Jagalah nama baik nya 

Buktikan bawha kita adalah lulusan pesantren dengan prestasinya

Karena, kita harus menjadi santri santri jadi sejati

Pict by : Video Perpisahan Cipasung

(kac17)