Posted in Puisi

Hanya Ini, Untukmu 

Sahabat, sudah lama kita tak berjumpa 

Tak ada lagi waktu untuk saling bertukar kisah

Kita sudah dipisahkan oleh masa yang berbeda 

Sahabat, tak ada lagi waktu untuk kita bersama 

Tak ada lagi waktu untuk kita berjuang bersama

Tak ada lagi waktu untuk kita menuliskan sejarah bersama 

Dalam rinduku tetap terpahat namamu, sahabatku 

Putaran kisah seolah tak berhenti di pikiranku

Terbayang 

Teringat selalu saat kita berjuang untuk sebuah organisasi 

Masih terbayang saat kita keluar jam pelajaran hanya untuk membeli selembar kain

Berusaha ikhlas untuk mengorbankan waktu, uang, dan energi hanya untuk sebuah organisasi 

Paskibra 

Di sanalah ruang untuk mengenalmu

Tehnical meeting yang harus kita hadiri

Waktu yang harus kita sisihkan

Uang yang harus kita keluarkan

Tasik – banjar sudah biasa

Kebingungan saat kita akan pulang 

Materi yang harus kita berikan pada Capas

Dadaha yang menjadi tempat kita berkumpul dengan yang lain

Saat sama-sama harus menggebrakkan lapangan

Mengetarkan hati

Berusaha sekuat tenaga untuk konsentrasi 

Mengibarkan sehelai kain demi Indonesia 

Klise klise film saat kita satu kelas, Akson  

Kenangan kita yang terlalu banyak untuk dikenang 

Cerita kabur dari sebuah penjara suci sudah biasa dilakukan 

Pergi ke rumah teman hanya untuk mencari makan gratis 

Membuat sejarah untuk nanti di kenang dan di ceritakan

Kelas yang dijadikan rumah makan

Dijadikan studio rekaman 

Dijadikan sebuah ruang ganti di balik tirai 

Cerita-cerita asmara yang kita uraikan 

Marah, kesel, bahagia saat kita menceritakannya

Saat perkemahan yang membuat cerita itu nan romantis 

Organisasi juga yang menjadi wadahnya

Masih ada sisa obrolan-obrolan kala hujan tiba di mushola Galunggung itu 

Masih ada canda tawa di kedinginan Galunggung kala malam itu

Masih ada sisa sisa suka duka kala itu 

Menceritakannya membuat aku rindu 

Aku ingin memeluk mu erat

18 tahun lalu, ibumu menangis bahagia menyambut kehadiranmu

Setelah 9 bulan lamanya ia mengandungmu, akhirnya hadirlah seorang anak perempuan 

Harapannya selalu sama seperti ibu yang lain

Ia menginginkan anaknya menjadi anak yang berguna 

Yang juga berbakti pada kedua orangtuanya

Ia membesarkanmu

Ia merawatmu dengan kasih sayang

Ia selalu memberikan kehangatan 

Ia selalu tahu apa yang kamu mau

Hingga sampailah aku ditakdirkan bertemu dengan gadis anggun dan cantik

Hanya ini, untuk mu

Selamat berkurangnya umur, sahabatku 

Doğum günün kutlu olsun 

Happy Birthday 

Sugeng ambal warso

Wilujeng tepang taun

Semoga menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan yang lain

Tetap menjadi temanku yang selalu mengingatkan 

Tetap menjadi sahabatku walau jarak memisahkan 

Kalau pun tak ada waktu untuk kita berjumpa, kenang lah aku

Semoga kita bertemu di Jannah-Nya 

Maaf hanya ini, untukmu 

Amaliah Fitri 

3 Oktober 2017


Advertisements
Posted in Puisi

Komorebi 

Cahaya matahari yang menelusup menyusuri melalui celah dedaunan. 

Kenapa Komorebi? 

Karena aku suka. Aku suka saat cahaya matahari yang memaksa masuk melalui celah daun mengenai mataku. Wabi-sabi. Ketenangan dan energi positif yang aku dapatkan. Hanya kehangatan yang aku rasakan. Seolah-olah menyingkirkan balutan selimut kerinduan di malam lalu. Membuka mata untuk melihat teka-teki. 

Posted in Puisi

Cipasung 

Tempat di bawah pelangi

Tempat singgah nya rahmat dan nur ilahi

Ada sesuatu hal yang di rindukan disana 

Tentang tanah leluhur kami 

Tatar patilasan para kyai

Tempat para santri mengaji 

Mengukir kata dalam balutan kenangan yang abadi 

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana

Tentang suasana yang hadir ditiap penjuru asrama

Suasana yang bergema kala malam tiba 

Suasana yang merebak kala pagi tiba

Suasana yang melelahkan kala siang tiba

Suasana yang menggemaskan kala petang tiba

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana

Tentang para pejuang dengan kawannya menggapai asa bersama

Menimba ilmu dengan kitab kitab kuningnya 

Yang diwarnai gelak tawa, canda, duka dan bahagia 

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana 

Tentang pengurus yang menjengkelkan kala adzan tiba 

Dengan suara lantang menggema menembus langit dan gendang para mujahid agama

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana 

Tentang syair syair yang dinyanyikan kyai kala mengaji

Bait perbait mengiang diruang madrasah 

Logatan logatan cepat yang tak terkejar dan hilang arah

Jua wejangan yang mengendap di relung jiwa

Ada sesuatu hal yang dirindukan disana

Tentang sajadah yang terhampar rapi di masjid dan majlis

Untuk bercengkrama dengan sang maha Asih

Juga tempat para pejuang menyelipkan sisa-sisa kelelahan bersama air mata yang menetes dalam mata yang rindu akan keluarga dan kampung halaman

Ada sesuatu hal yang di rindukan di sana 

Tentang surat cinta untuk bertukar kabar

Terselip dalam dalam kertas kuning penuh logatan

Untuk Menyampaikan rasa melalui tarian-tarian tangan 

Yang Terhalang tembok tak terpandang

Demi rindu rindu itu 

Mimpi yang kita mimpikan mari wujudkanlah

Cita cita yang kita ciptakan mari capailah

Berjuanglah

Kareng jihad sebenarnya baru saja di mulai

Demi rindu rindu itu

Mari menjadi sinar purnama dan mentari yang selalu menyinari semesta

Karena itulah tugas terakhir kita dari pondok tercinta

Demi rindu rindu itu

Mari teruskan keringat para ulama untuk nusantara 

karena jika bukan kita

Siapa? 

Sampaikanlah kertas kuning kita yang penuh dengan goresan tinta

Tebarkan lah cinta untuk memperindah Manusia

Cipasung telah memberikan 1 juta pelajaran dan apa arti kehidupan

Demi rindu itu 

Maka Jagalah nama baik nya 

Buktikan bawha kita adalah lulusan pesantren dengan prestasinya

Karena, kita harus menjadi santri santri jadi sejati

Pict by : Video Perpisahan Cipasung

(kac17) 

Posted in Puisi

Selamat Tahun Baru, Kawan

(Gus Mus) 

Kawan, sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk

Memandang diri sendiri

Bercermin firman Tuhan

Sebelum kita dihisabNya
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya

Musliminkah

Mukminin

Muttaqin

Khalifah Allah

Umat Muhammadkah kita? 

 Khairu Umatinkah kita? 

Atau kita sama saja dengan makhluk lain

Atau bahkan lebih rendah lagi

Hanya budak-budak perut dari kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang Ghaib

Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan

Betapa pun tersiksa

Kita khusyu di depan massa

Dan tiba-tiba buas dan binal

Justru di saat bersamaNya

Syahadat kita rasanya seperti perut bedug

Atau pernyataan setia pegawai rendahan saja

Kosong tak berdaya 

Shalat kita rasanya lebih buruk daripada senam ibu-ibu

Lebih cepat daripada menghirup kopi panas

Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda

Doa kita sesudahnya jauh lebih serius

Kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga 

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal 

Makan minum dan saat istirahat 

Tanpa menggeser acara buat syahwat 

Ketika datang lapar atau haus

Kita pun manggut-manggut

O, beginikah rasanya… 

Dan kita sudah merasa

Memikirkan saudara-saudara kita yang melarat

Zakat kita jauh lebih berat terasa

Dibanding tukang becak melepas penghasilannya 

Untuk kupon undian yang sia-sia 

Kalaupun terkalahkan harapan pun berapa ukuran

Hubaya-hubaya Tuhan menggantinya berlipat ganda 

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri 

Mencari pengalaman spiritual dan material

Mebuang uang kecil dan dosa besar

Lalu pulang membawa label suci

Asli made in Saudi : Haji

Kawan, lalu bagaimana bilamana dari berapa lama 

Kita bersamaNya

Atau kita justru sibuk menjalankan tugas 

Mengatur bumi seisinya 

Mensiasati dunia sebagai khalifahNya
Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar

Mungkin kedudukan kita sebagai Khalifah 

Mempercepat proses kematangan kita

Paling tidak kita semakin pintar berdalih 

Kita perkosa alam dan lingkungan 

Demi ilmu pengetahuan 

Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran 

Melacur dan menipu demi keselamatan 

Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan 

Memukul dan mencaci demi pendidikan 

Berbuat semuanya demi kemerdekaan 

Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman

Membiarkan kemunkaran demi kedamaian 

Pendek kata demi semua yang baik 

Halallah semua sampai pun yang paling tidak baik 

Lalu bagaimana dengan para cendekiawan dan seniman? 

Para mubaligh dan kyai

Penyambung lidah nabi? 

Jangan ganggu mereka

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya 

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana 

Para kyai sedang sibuk berfatwa dan berdoa

Para pemimpin sedang mengatur semuanya 

Biarkan mereka di atas sana

Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

Kawan, Selamat tahun baru 

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk 

Memandang diri sendiri 

Posted in Puisi

Perjalanan 

Aku punya mimpi untuk terbang tinggi 

Bak burung yang bebas mengudara kesana kemari

Dihiaskan kicauan merdu

Maaf

Aku tidak ingin menapaki jalan yang sama 

Aku adalah aku

Dirimu pun menjadi dirimu 

Ini perjalananku

Tak perlu bertanya garis finish perjalananku

Karena aku masih dalam perjalanan panjangku

Bisakah mendukungku? 

Tak perlu menghujat

Jalan yang ku tapakki tak semulus itu

Penuh hambatan 

Penuh rintangan 

Yang membuat aku semakin kuat

Tapi

Akankah aku menjadi sebuah kupu-kupu yang kau harapkan 

Akankah aku menjadi sebuah bunga yang kau impikan

Akankah aku menjadi kebanggaanmu yang akan kau ceritakan 

28 tahun sudah kau berdiri 

Demi menegakkan agama

Demi mencetak generasi muda yang memiliki jiwa pemimpin pemberani berguna bagi Indonesia 

Kulihat diriku

Layaknya abu yang berterbangan kesana kemari mencari tempat untuk singgah

Seperti anak kehilangan seorang ibu

Aku mencari diriku

Aku meniti perjalanan untuk diriku

Demi agamaku

Demu bangsaku

Demi menjaga nama baik dirimu

Komplek Q

Posted in Puisi

Ketika Grup Sepi

Mereka hanya menggunakan mata untuk membaca 

Tanpa menggerakkan jemari untuk membalas

Lanjutkan sebagai puisi, sahutnya

Mulut yang sengaja di diamkan

Mata yang sengaja di buta kan

Telinga yang sengaja di tulikan

Kenapa itu semua bisa terjadi?

Kenapa semua menjadi sebuah bait?

Dan kenapa semua itu sudah jadi kebiasaan? 

Kenapa  juga kalian membuat pertanyaan?

Bila memang semua ini nyata, ini adalah takdir sang maha

Akan kah semua hal tetap sama?

Dan memang itu kebenarannya

Akan kah kesadaran tertutup oleh kebiasaan

Atau mungkin semua ini hanya hayalan semata?

Mengapa begitu banyak pertanyaan yang kau ajukan, sedangkan kita hanya perlu bersyukur

Karna melihat begitu mudah dari pada melakukan

Dan apakah arti semua ini?

Akankah bait-bait ini menjadi sebuah tulisan yang tak ada maknanya sama sekali?

Bila tak bermakna mengapa kita meneruskannya?

Mungkin cukup sampai disini
Dan terima kasih wassalamualaikum

Tidak tidak bagiku ini bukan akhir dari segalanya

Kau telat, salam adalah sebuah perjalanan akhir

Ohnoooooooooo tapi mengapa kau meneruskan kembali?

Aku hanya memberitahu mu

Tapi omongan mu seperti membuka kembali pembicaraan

Yasudah mungkin ini akhir segalanya
Dan siapa yang akan mengakhirinya.
Sumber : Chatting siang bersama grup Alumni Kelas XII IPA 1, SMA Islam Cipasung. (Akson)

 10.47 – 28 Agustus 2017

Posted in Puisi

Aku dan Kerinduan 

Ketika fajar menyapa

Semilir angin masih bergulat menghasut kerinduan padaku

Mentari mulai beranjak meninggalkan peraduannya

Hariku semoga kau tidak lagi tentang rindu

Bait-bait syukur masih tercipta pada mulutku

Rangkaian do’a masih terucap indah pada lisanku

Di tempatku ini aku bertemu rindu

Di tempat ini aku mencari ilmu

Di tempat inilah aku berdiam diri

Bagian – bagian kenangan mulai tersusun 

Melodi  kerinduan semakin terkumpul dalam sebuah syair

Yang berjudul aku dan kerinduan