Diposkan pada Daily Life

Dua Puluh Satu

Terimakasih sudah mengambil keputusan yang benar. Walaupun perjalanannya tidak akan selalu mulus. Pasti capek, harus berjuang siang dan malam, tapi yakinlah kamu kuat, kamu hebat, kamu pasti bisa. Mungkin Allah tidak akan segera membalasnya, tapi lihatlah nanti. Pasti menjadi yang beruntung. Terimakasih sudah mau banyak belajar, belajar nahan ego, belajar menjadi dewasa, belajar menjadi seorang pemimpin, belajar segalanya. Tetaplah seperti Fetty yang selalu semangat, selalu ceria, selalu memberikan yang positif kepada yang lain.

Heeey, terimakasih untuk semua tokoh yang hadir di setiap episode kehidupanku. Terimakasih untuk teman asrama yang sering mendengar celotehanku, kegalauanku, keputus asaanku, kebahagiaanku dan yang lainnya. Karena ku rasa, kalian menjadi peranan yang terpenting dalam hidup. Tumbuh bersama seirama. Semoga kita sukses bersama untuk menggapai satu cita.

Tak lupa dong, sama keluarga. Lingkungan yang paling berpengaruh dalam tumbuhnya Fetty. Maaf, banyak dari harapan-harapan kalian yang belum aku wujudkan. Menjadi orang yang selalu mengamalkan ilmunya di hadapan banyak orang bukan suatu hal yang mudah untuk di gapai. Masih dangkal ilmuku, masih tipis pengetahuanku. Semoga kalian lebih sabar dan masih mengizinkanku untuk terus merantau mencari ilmu.

Teruntuk guru-guru yang memberi banyak ilmu kepada Fetty, terimakasih. Jasamu abadi. Wabil khusus KH. A. Bunyamin Ruhiat Cipasung, Hj. Husnul Khotimah Krapyak, KH. Moh. Najib dan Usth. Umi Masbahah BAQ yang menjadi orangtua keduaku terima kasih. Terutama untuk Umi, yang paling sering face to face, paling sering memberi nasehat, tau kelakuan Fetty seperti apa, tau ilmu Fetty sampai mana dan tau kejelekan Fetty di Asrama seperti apa, terima kasih dan maaf selama ini Fetty suka nyusahin Umi. Suka nangis di depan Umi, hehe.

Yang spesial, terima kasih untuk kamu. Yang dengan adanya sesosok orang sepertu, aku mampu membuat karya untuk diriku sendiri. Mungkin, suatu hari nanti bisa di baca dan di terima oleh banyak orang. Mungkin kamu tidak merasa banyak berkontribusi, tapi tetap aku harus haturkan beribu terima kasih untukmu.

Untukmu Fe, Semoga kedepannya mampu berjuang lebih lagi untuk sesuatu yang harus diperjuangkan. Jangan pernah mengenal kata lelah. Kamu pasti bisa. Kamu mampu, Allah mampu mampukan kamu. Tetaplah menulis walau hanya bisa untuk diri sendiri terlebih dahulu. Semoga suatu saat nanti tulisanmu menjadi tanda bahwa kamu pernah ada. Semangat selalu, jangan pernah merasa tidak aman. Cahaya akan terang pada saat yang tepat, juga cahaya akan redup pada waktunya. Jadi, janganlah merasa iri terhadap apa yang mereka capai, tapi berusahalah. Bahwa kamu mempunyai jalan untuk menuju suksesmu.

Salam komorebi.
Salam lestari.

Mei 17, 2020

Diposkan pada Daily Life

Teman Berjuang

Di penghujung 2019, aku mengadakan acara kecil-kecilan bareng anak asrama. Gak semua, sih, cuma anak asrama 3 dan 4. Jadi, agendanya ada Simaan, Dinner dan Malam Keakraban. Hari kemarin hari super sibuk. Padahal hari libur biasanya cuma rebahan, ehe. Pagi jam 10 kita pergi ke Masjid terdekat untuk ikut kajian Ustadzah Oki tapi sebelumnya sholat gerhana dulu di masjid tersebut. Alhamdulillah, masih ada kesempatan untuk sholat gerhana, soalnya sebelumnya aku gak pernah ikutan sholat gerhana.

Kajian Ustadzah Oki dimulai ba’da dzuhur sekitar jam satu. Alhamdulillah dapet ilmu yang bermanfaat banget. Oke, sekalian aku kasih ilmu yang aku dapetin kemarin, tapi poin intinya aja ya.

Oke lanjut.

Kemarin itu membahas tentang Pintu-pintu hati yang dapat dilalui oleh iblis (diambil dari kitab Minhajul Qasshidin) :

1. Iri, Dengki, Ambisi

2. Amarah, Syahwat, dan Keras hati

3. Mempercantik yang berlebihan dan merasa kurang

4. Kenyang

5. Terburu-buru

6. Cinta harta

7. Buruk sangka terhadap sesama muslim

Insyaallah dibahas di postingan selanjutnya aja mungkin ya?

Nah, selesai kajian itu pas ashar. Jadi, kita sholat dulu dan langsung cus ke pasar buat beli bahan-bahan makanan untuk acara nanti malam. Sebenarnya bisa aja kita pagi ke pasar, tapi ya qadarullah terjadi something. Rencananya kita mau bikin Ayam Kalasan pake tempe dan sambal. Kita juga mau masak mie instan yang di kasih dari orang Malaysia. Terima kasih Mak Cik, Pak Cik dan rombongan. Aku juga sempetin ke apotik gara-gara aku biduran terus. Wkwk. Efek cuaca mungkin ya.

Kurang lebih 45 menit kita di pasar akhirnya kita pulang dan langsung mengeksekusi. Kita di bagi jadi dua tim biar cepet. Ada tim masak dan tim simaan. Aku masuk tim masak. Iya sip, udah bisa dikategorikan menantu idaman, ya. Haha. Dan aku bagian bikin sambel. Pejuang cobek, katanya. Iya, sip dua sambel aku bikin dengan rasa kasih dan sayang.

Ba’da maghrib simaan dimulai. Belum sampe dua juz, adzan berkumandang, jadi melaksanakan sholat terlebih dahulu kemudian lanjut simaan juz selanjutnya. Kali ini simaan dua juz. FYI, kalo kalian gak ngerti apa itu simaan, simaan adalah kegiatan saling menyimak hafalan. Jadi, ada yang membaca Al-Quran dengan hafalannya atau tanpa mushaf maksudnya, dan yang lainnya menyimak hafalan. Begitu, teman-teman.

Sekitar pukul 20.31 langsung menyantap makanan yang sudah di masak.

Setelah itu, kita makaaaaaan.

Setelah selesai, kita dilanjut dengan Malam Keakraban alias Makrab. Kita sebutin resolusi 2020, ya walaupun sebagian tidak terealisasi, gapapa. Kita kan hanya merencanakan Allah yang menentukan. Kebanyak resolusinya tentang ngafal dong pastinya. Ada yang pengen dapet 10 juz tahun ini, 20 juz ada juga yang mau 30 juz di tahun ini. Ada juga yang mau kuliah ke luar negeri, kita doakan semoga yang mau kuliah ke negeri, siapapun kamu semoga dimudahkan segala urusannya. Aamiin. Ada juga yang mau ganti status katanya. Haha. Apapun yang rencanakan, dan apa yang kita impikan itu pasti tercapai. Pasti. Tapi, kita sebagai manusia tidak bisa mengontrol semuanya. Karena Allah lah yang maha sebaik-baik rencana. Allah kadang mengabulkan doanya langsung, ada juga Allah ingin menguji dulu kemampuan hambanya bahkan ada yang di balasnya nanti di hari akhir. Jadi, sebagaianusia cukup bekerja keras, usaha dan do’a. Kalo kunci untuk Al-Quran kata Gus Faqih ( Krapyak) itu ada 3 : Nderes atau murajaah, istiqomah dan yakin.

Setelah membacakan resolusinya, dilanjutkan dengan usulan program agar Pondok Pesantren Bait Ahlil Qur’an ini lebih maju lagi, santrinya lebih giat lagi, semangat lagi dan banyak menuai prestasi. Setidaknya membuat bangga guru kita yang telah sabar mendidik kita, menerima setoran kita yang tak kunjung lancar, dan memperbaiki Tahsin kita dan yang lainnya. Ada program-program yang kita usulkan diantaranya ada yang ingin diadakan Muhadharah atau latihan berpidato agar kita tidak hanya bisa ngaji saja tapi kita juga mampu mengamalkan dengan cara berceramah. Kemudian ada juga yang ingin diadakan pemerataan santri di setiap asrama. Pemindahan asrama. Agar bisa bersosial lebih luas lagi. Kemudian ada yang mengusulkan menerapkan bahasa arab dan Inggris agar santri BAQ mampu bersaing di kancah internasional. Selanjutnya, ada pengusulan siraman rohani untuk akhwat dari Umi, agar senantiasa niat kita yang hampir belok, lurus lagi, tingkah laku kita yang kurang baik diperbaiki lagi, dengan di hadirkannya motivasi seperti itu, semoga santri di sini terus bersemangat dan mempunyai akhlakul karimah tentunya. Adanya pengukuhan organisasi agar yang mendapatkan amanah bisa lebih bertanggungjawab lagi dan yang terakhir aku mengusulkan diadakannya wisuda. Bukan bermaksud riya atau apa, tapi agar bisa menumbuhkan motivasi santri baik yang di wisuda maupun yang belum wisuda. Karena, proses menghafal di program BAQ ini untuk mencapai 30 juz membutuhkan waktu bertahun-tahun jadi lebih baik acaranya konsisten satu tahun sekali dan bertahap per 5 juz. Jadi per 5 juz kita di wisuda. Sebelum wisuda diadakan simaan terlebih dahulu di hadapan penguji dan santri sebanyak yang sudah mereka ambil dalam wisuda tersebut. Misalkan wisuda 10 juz, berarti simaan 10 juz satu kali duduk itu. Kalau bisa juga pas acara wisudanya ada pengujian terbuka, jadi penonton yang hadir di sana bisa memberikan pertanyaan kepada si calon wisuda, tapi baik yang bisa jawab atau tidak tetap di wisuda hanya saja level nilai dari Penguji berbeda. Istilahnya ada Mumtaz maupun Jiddan. Kalau dari awal dia tidak mampu untuk mengambil program wisuda, kalah sebelum perang, artinya di harus di Out, goodbye!!!

Nah, itulah obrolan malam tadi bersama teman berjuangku yang sudah menemaniku selama 2 tahun, ada juga yang satu tahun, dan beberapa bulan. Walaupun begitu aku banyak sekali cerita bersama mereka. Dari ngantri setoran, ikutan kajian sana-sini, berjuang mendapat hafalan, berjuang mendapatkan dia, eh. Cut!

Susah senang aku bersama kalian dan kalian pun selalu ada di setiap keadaan. Aku merasa bersyukur di kelilingi orang orang hebat orang yang baik banget sama aku, terutama. Dan bersama kalian aku banyak belajar. Belajar hemat dari Naya, jajan 5000 sehari, walaupun gak bisa tapi kalo uang dah hampir abis, bisa lah trik itu dipakai. Hehe. Belajar bodo amat dengan sikap orang lain yang benci kita, belajar banyak hal lah pokoknya. Karena kata Umi, di pondok itu tempatnya latihan. Latihan agar ibadah nya baik, bisa Istiqomah dan sebagainya. Terutama masalah kemandirian. Bukan hanya mandi sendiri ya. Hehe

Oh iya, kita sampe pernah kaya kejar-kejaran sama Umi, hehe maaf ya mi. Yang seharusnya kita ngantri jam 09.00 pagi, karena di bukanya jam 09.30 tapi kita udah hadir di depan Warung Wak Nah jam 08.15 gara-gara ingin mendapatkan giliran pertama, ya walaupun di gilir untuk setoran pertama dari asrama satu sampai empat, tetep aja yang mau setoran pagi kita harus mendapatkan giliran setelah asrama yang pertama setoran selesai. Ngerti gak? Ya pokoknya gitulah. Kadang juga ngantri panas-panasan di jam satu siang untuk kelanjutan setoran karena kebanyakan santri, jadi setoran bisa sampe malam. Untuk Umi juga kami haturkan terimakasih sudah mau mendengarkan hafalan kita, walau masih kurang lancar, banyak becandanya, kurang murajaahnya Umi tetep sabar hadapi kita. Maaf, kalau kita mengganggu aktivitas Umi.

Pokoknya BAQ 2019, istimewaaaaaa.

Diposkan pada Daily Life

Bermasyarakat

Sudah hampir 2 tahun aku di Bekasi. Di sini bukan hanya menambah dan menambah hafalan. Tapi, juga belajar banyak hal. Di sini tempat perjalanan mencari jati diri, dan di sini membuat aku sadar bahwa segala keluh, kesah dan resah adalah dari diri kita sendiri. Aku pun belajar banyak hal, tentang bagaimana bermasyarakat dan bagaimana menjadi makhluk yang bertuhan.

Dulu, sering sekali bermasalah dengan teman. Mungkin bisa dibilang wajar, karena kita hidup satu atap, beda kepala, beda pemikiran. Tapi yang tidak wajar adalah masalah yang berkepanjangan seolah masalah itu tak pernah usai sehingga menimbulkan keregangan antar kawan. Dulu juga sering sekali menganggap kita itu butuh sahabat, sahabat yang selalu ada dan selalu menyetujui apa yang aku kerjakan. Itu dulu. Setelah berbagai ujian dan masalah yang harus aku hadapi aku mulai dewasa. Itupun karena salah seorang temanku. Aku biasa memanggilnya Ceuceu. Ia lah yang sering mengingatkanku, dan karena aku juga bertekad ingin mengubah pola pikirku, cara bersosialisasi dan segala macam.

Di 2019 ini dari banyaknya resolusi, hanya satu yang aku capai. Merintis Rumah Qur’an, walaupun begitu, perubahan-perubahan yang ada dalam diriku, atas KeAgungan Allah, aku sangat bersyukur. Karena dengan itu, aku bisa menghadapi kedepannya dengan baik dan bisa bermasyarakat dengan baik tentunya.

Untuk teman-temanku, terimakasih telah mewarnai 2019 dalam episode kehidupan ku.

Diposkan pada Daily Life

Tamu dari Negeri Jiran

Kamis, 5 Desember kemarin, Pondok Pesantren Tahfidz Bait Ahli Qur’an kedatangan tamu dari Al-Muqorrabin, Malaysia. Niat baik dari pimpinan kami adalah pertukaran pelajar, semoga santri dari sini pun bisa pergi berangkat menuntut ilmu ke Negeri Jiran tersebut. Santri dari Al-Muqorrabin itu hendak menuntut ilmu cara memperindah bacaan al-quran, yaitu Maqamat Learning. Seperti yang diajarkan Muzammil. Dan memang ada beberapa santri di sini yang bagus suaranya juga tau kaidah kaidah maqamnya. Tentunya ada juga Ustadz yang mumpuni di bidang tersebut, dan ada jadwal kajian khusus untuk belajar Maqamat.

Hari pertama, aku sebagai panitia, survey tempat yang akan di tempatin sama mereka. Kami menyediakan 3 rumah untuk mereka. Dzuhur, santri Al-Muqorrabin tiba di Bekasi. Kami mampir dulu ke Masjid Al-Azhar, masjid biru. Sholat dzuhur disana, lalu berangkat ke rumah yang sudah di siapkan.

Hari selanjutnya, ada penyambutan bersama santri BAQ. Saling mengenal pondok satu sama lain. Dan saling bertukar cerita juga.

Pimpinan Al-Muqorrabin dan Banin Al-Muqorrabin

Sekitar 15 hari lagi mereka belajar disini, dan tanggal 21 Desember akan diadakan acara perpisahan kemudian mereka akan kembali ke Negeri Jiran hari Senin.

Semoga dari kami, Bait Ahlil Qur’an bisa belajar juga disana. Saling bertukar pengalaman, sharing, dan tentunya menjadi motivasi agar istiqomah dalam menghafal Al-Quran.

Diposkan pada Daily Life

Lebaran Ke-6 di Kota Orang

Sebelumnya di postingan ini aku menceritakan pengalamanku lebaran idul adha di Jogja, sekarang giliran idul adha di Bekasi.Anaknya teh suka banget merantau😂Asal usul kenapa suka banget merantau adalah yang pertama, memang sudah menjadi garis takdir. Yang kedua, emang dari bayi, dari umur 7 bulan udah di ajak jalan-jalan sama Mama. Mama yang asli dari Cikarang dan bertempat tinggal di Tasikmalaya, mengharuskan pergi ke saudaranya untuk bersilaturahmi dengan jarak yang cukup jauh. Di mulai dari usia 15 tahun, kaki ini udah gak betah sama yang namanya diam di rumah. Sebenarnya dari lulus SD udah pengen mondok yang jauh, tapi tidak diizinkan sama orangtua. Sebagai anak, wajib dong mengikuti kemauan orangtua selama gak keluar dari syariat yang ditentukan. Barulah setelah lulus dari SMP, tepatnya SMP 1 Banjar, aku pergi ke Tasik (lagi). Tasik, Kota kelahiran dan pindah ke Banjar semenjak kelas 3 SD. 3 tahun mondok di Ponpes yang cukup terkenal dan lumayan besar, Cipasung tercinta. Sampe sekarang rasa rindu ini tetep untuk Cipasung.

Rindu dengan Bapak yang sangat berkharismatik, dengan suara yang meneduhkan jiwa, menentramkan hati.Setelah boyong dari Cipasung, kemudian melanjutkan mondok di Krapyak, al-Munawwir atas dasar rekomendasi Bapak Kyai.Ketika waktu sowan mau boyong dari Cipasung, Bapakku sempat berbincang dengan Pak Abun, kyaiku di Cipasung. Beliau nanya mau lanjut dimana. Akhirnya ku jawab mau lanjut ngafal Qur’an, pengen cari di Jogja. Beliau nyaranin di Krapyak, pondok yang menciptakan kamus terkenal itu, Munawwir. Dan saat itulah aku baru tau ternyata kamus guedeeee itu karya sang Kyai dari Jogja, yang masyhur. Dan memang pondok Krapyak ini sudah masuk ke dalam list untuk aku survey nanti.Tak bertahan lama mondok di Jogja, selain karena ueeenak tenan, keakehan dolan jadi gak membuat aku fokus, akhirnya aku hengkang. Setelah 5 bulan.Berakhirlah aku di Kota Bekasi. Dan malam takbir di sini tidak seperti malam takbiran di Cipasung maupun di Jogja yang banyak kegiatan, di sini lebih mirip rumah bukan pondok. Tapi mondok. Ada jadwal ta’lim, gitulah pokoknya. Dari 10 orang yang menempati asrama 4, kali ini tersisa 2 orang. Biasanya sering banget berisik, sekarang sepiiiiii. Takbiran dari luarlah yang meramaikan.

Sepulang dari sholat idul adha, kita bersiap untuk makan. Tapi, terhalang oleh adikku yang video call. Setelah menelepon, dateng Ceuceu bawa ketupat dan juga opor. Niat awalnya mau goreng telur, eh dapet rezeki dari tetangga. Berkah banget tinggal deket tetangga, dan bisa saling berbagi.

Kita langsung menyantap ketupat itu.

Setelah makan, kita ceritanya mau beli bumbu masak daging. Kata Ceuceu, gakpapa beli bumbunya dulu, dagingnya nyusul. Haha

Setelah beli bumbu, ada Wa Nah tercinta. Yang selalu mempersilahkan warungnya dijadikan tempat buat ngantri setoran. Entah karna Wa Nah di panggil cantik atau gimana, eh kita di kasih pisang, kerupuk mentah sama gula gratis sama Wa Nah. Etapi, Wa Nah memang terbaik sih. Selalu baik sama kitaaa. Mba Tri, tetangganya Umi juga ikutan ngasih kita gulai. Senangnyaaaaa. Pagi-pagi rezeki nomplok.

Aku dan Ceuceu

Setelah itu, aku pergi ke stasiun Kranji, mau berkunjung ke rumah Nenek ku. Bibinya mamah.

Satu jam perjalanan dari Stasiun Kranji ke Cikarang. Alhamdulillah disambut baik oleh keluarga Mamah, padahal aku gak bisa akrab sama mereka, karena jarang ketemu. Ketemu palingan pas lebaran idul fitri doang, itu pun kemarin Keluarga nenek malah ke Bandung, gak ketemu deh akhirnya. Alhamdulillah sekarang ketemu.

Tiba di rumah Nenek, langsung di suruh makan, makan ketupat, penuh lagi satu mangkok. Enek aku tuuu. Tapi gimana, gak bisa nolak. Haha.

Nenek sedang berkurban hari ini, jadi, aku di ikutan dateng ke mushola setempat buat ngambil daging. Karena dagingnya mau di bagi ke keluarga yang di Sukatani. Keluar dari rumah, lumayan banyak tuh keluarga yang nongkrong di depan rumahnya. Nenek ku woro-woro ke mereka “Ini nih anaknya Mpo Pikah”. Mereka jawab “Anaknya? Eh udah gede ya? Dulu masih di gendong-gendong. Sering banget kesini dari Tasik ke Cikarang. Kirain sape.”

Ah elah po, yakalı aku gak tumbuh. Masa masih di gendong terus. Hadeuuh.

Gak sampe lama di rumah Nenek, ba’da ashar aku langsung pulang. Di anterin sama Nenek ke stasiun, katanya bisa juga jalan. Deket banget malah. Seperti yang Mama ceritain. Ya namanya juga baru ke sini, gak sama keluarga, ya ga tau lah. Trus, aku juga dapet daging sapi dari Nenek, banyak banget. 2kg lebih ada mungkin.

Pulang ke asrama, Ceuceu udah selesai masak kambing. Ada yang di sop lah ada yang di bumbu entah bumbu apa gak ngerti. Dan itu jumlahnya buaaaanyak banget. Aku liatnya kek males makan. Kebanyakan. Di tambah daging dari Nenek. Ba’da maghrib di tambah lagi daging kambing sekitar 5-6kg dari ikhwan. Daging yang udah masak, karena kebanyakan akhirnya kita tukeran daging sama Ikhwan, kita dapet yang mentah dia dapet yang masak. Berlimpah banget dagingnya. Padahal dulu di Cipasung ataupun di Krapyak gak pernah sebanyak ini. Alhamdulillah. Dulu, untuk makan aja susah nyarinya, karena gak ada yang buka. Bersyukur banget bisa mondok di BAQ, Bekasi. Selalu banyak rezeki.

Dah ah ceritanya segitu. Mau nyate aku.

Diposkan pada Hari Ini Produktif

#HIP1 : Persiapan Menjadi IRT?

Menjadi Ibu rumah tangga ternyata tidak semudah yang kita bayangkan

Jum’at Barokah.

Jum’at yang produktif.

Tidak seperti biasanya.

Alhamdulillah.

Jadi ceritanya, temanku yang biasanya suka masak, lagi pulang. Di karenakan neneknya meninggal. Mari kita doakan.

اللهم ا غفرلها وار حمها وعافها واعف عنها

Nah, di karenakan jadwal piket yang tidak kondusif, akhirnya aku yang harus turun tangan. Di asrama, kita ada 4 orang. Satu sakit, satunya lagi gak pernah tanggung jawab dengan pekerjaan rumah satunya lagi yang membantu bersih-bersih rumah. Jadi, aku piket masak setiaaap hari. Kecuali kalo puasa, aku males banget buat masak. Dan ini sudah berjalan hampir satu minggu. Ternyata masak aja aku udah kewalahan. Kalo jadwal piket pun merasa lelah banget. Pagi-pagi harus menyiapkan setoran (setoran jam 07:30), bersih-bersih rumah, siapin sarapan, lebih parah lagi kalo belum murajaah. Lelah bang!!!

Nah, ini udah lumayan ringan, sih. Bersih-bersih rumah di tugaskan ke temen yang lain, walaupun dia juga harus ngajar pagi, dan biasanya aku masak yang simpel untuk makan pagi. Jadi, pagi ini aku masak nasi goreng 👌

Sedangkan untuk makan siang sekaligus sore, aku masak daun singkong rebus untuk lalap, ada sambel, tahu bubuk, dan tempe goreng.

Keadaan dapur

Lumayan membakar kalori, ya memasak tuh.

Sebenarnya aku gak bisa yang namanya masak. Tapi, temanku ini selalu mengajarkanku tentang masak, bukan hanya resep tapi skill nya juga. Seperti, kalo masak apinya jangan terlalu gede, biar aromanya gak terlalu nusuk. Ada kan, orang yang masak sampe meracuni se-kampung. Lebay itu mah namanya. Ya maksudnya bikin batuk-batuk yang ada di rumah. Trus cara bikin sambel banyak untuk beberapa hari, pokoknya seputar memasak lah, yang kebanyakan hal itu di lupakan para emak-emak.

Jadi, inti dari postingan ini adalah : Jum’at aku produktif kali ini, dan ternyata menjadi Ibu rumah tangga itu tidak gampang. Pelajaran, nih buat yang mau nikah muda. Nikah bukan hanya untuk mencari kebahagiaan. Karena kebahagiaan bisa di miliki sebelum menikah. Menikah adalah ibadah. Menyempurnakan keimanan. Sebelum menikah aja tidak taat, tidak beriman, apa yang mau di sempurnakan?

Eh gitu bukan, sih?

Haha

Oke, terima kasih telah membaca kegiatanku hari ini.

Bhaaaaay sheyaaaang👌

Diposkan pada Daily Life

Berburu Buku

27 Februari 2019, sekitar pukul 6.30 WIB kami berangkat. Ini hari pertama Islamic Book Fair alias pembukaan. Sebenarnya aku memilih hari sabtu untuk ke sana, namun tidak di izinkan oleh Umi. IBF ini di buka dari 27 Februari sampai 3 Maret, karena 3 Maret ada acara di Pondok Pesantren, yaitu launching BAQ Mart jadi kalau pilih tanggal 2 akan super sibuk. Di tambah aku ikut jadi panitia.

Ini juga merupakan sebuah keberuntungan bisa ikut IBF tahun ini. Sayang, yang berangkat sedikit dari asrama kami. Hanya ber-4. Lain saat tahun lalu. Satu asrama ikut. Ya walaupun satu asrama nya ada 6 orang. Hehe

Hari ini kita berangkat menggunakan taxi online. Daripada ribet dan pegel pakai KRL aku lebih memilih transportasi ini. Walaupun biayanya lebih mahal, tapi sebanding dengan kenyamanannya.

Kami sampai di JCC kurang lebih jam 8. Sedangkan IBF buka pada jam 9. Oke sip ini terlalu pagi. Tapi, beruntung juga datang pagi karena masih sepi. Kami bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum berburu buku, sekaligus menghilangkan pusing yang di akibatkan memainkan handphone di perjalanan, dan sekarang juga. Padahal sebenernya aku paling gak bisa memainkan hp saat perjalanan. Membuat kepalaku pusing. Tapi, karena harus menulis, apa daya. Aku lebih semangat menulis kalau memang suasana apa yang aku tulis masih ku rasakan. Eaaaaa. Nah, tepat jam 9, antrian udah di buka. Aku lah yang mengambil peran. Beli tiket untuk 4 orang. Antri tiket pun tidak terlalu panjang. Tiket yang di jual pun beragam. Untuk pelajar seharga 5k dan umum/mahasiswa 10k. Kami membeli tiket yang umum.

Foto blur

Ketika pintu masuk di buka, masya Allah pusing ku langsung hilang melihat buku-buku yang berderet seolah mengucapkan selamat datang. Dan aku merasa paling beruntung karena suasana masih sepi. Hanya penjaga stand yang hadir, pengunjung masih bisa kehitung, sekitar 10 sampai 20 orang gitu.

Kita menyusuri hall pertama yang isinya berbagai macam buku dari anak sampai dewasa dari buku yang Arab gundul sampai kribo. Gak deng. Kektika melewati stand Media Kita, ah jangan sampai aku tergoda untuk membeli novel. Stop, Fet! Apalagi di sana pasti Novel Kala, Amor Fati, Egosentris dan Paradigma di jual murah banget. Aku lewati begitu saja stand tersebut. Akhirnya aku lolos dari godaan novel. Lanjut ke Hall kedua, ini lebih ke fashion dan juga ada mushola dan Panggung utama. Niatnya mau keliling dulu, eh udah nyangkut aja di stand Kaos kaki Soka. Emang murah banget, sih. Kaos kaki yang puaaaaling enak dan cukup mahal ini sekarang harganya cuma goceng buuuuu. Akhirnya menyerbu lah ke kaos kaki murah ini

Aku beli banyak karena ingin membagikannya juga kepada teman-teman di asrama yang gak ikut ke event ini. Itu sebagian aja yang aku foto. Kaos kaki printing ini modelnya super cute. Aku pernah sebelumnya beli kaos kaki printing tapi bukan dari Soka, harganya kisaran 15k. Berlanjut ke toko sebelah yang menjual aksesoris yang lucu-lucu.

Setelah itu, aku tersadar. Tujuanku adalah beli buku. Alhasil kita kembali berburu buku. Sayang, susah banget mencari buku yang aku cari.

List belanja buku :

  • Qur’an untuk hafalan
  • Terjemah Bidayatul Mujtahid
  • Terjemah Bidayatul Hidayah
  • Terjemah Nashoihul Ibad
  • Terjemah Safinatun Najah
  • Terjemah Tibyan + kitab

Pertama aku langsung nemu, tuh terjemah Bidayatul Mujtahid. But, ternyata itu ada 2 jilid dan super tebal. Harganya kisaran 200k. Duh, kayanya gak bisa. Trus aku skip. Aku cari kemana-mana Nashoihul ibad, susah banget. Dan akhirnya nemu di stand Wali Pustaka harganya murah terus aku juga suka kertasnya yang berwarna kuning seperti biasa kertas novel. Aku kurang suka dengan buku yang kertas putih. Baunya gak enak. Tapi, walaupun buku yang aku beli hampir semua kertas putih kecuali buku terjemahan dari kitab Nashoihul Ibad ini. Harganya super murah. Dari 75k menjadi 45k. Parah, kan?

Kembali mencari buku lain, itu pun susah. Alhamdulillah kitab Tibyan udah dapet, tinggal terjemahannya. Ada satu stand yang sepi, yang di jaga oleh ikhwan berjenggot bercelana cingkrang, eaaaa. Di sana udah langsung ada banner gitu yang menunjukkan buku terjemahan Tibyan. Aku langsung cus beli. Harganya hanya 75k. Suka covernya. Warna hitam.

Aku juga beli Al-Qur’an. Sebenarnya aku ingin beli Qur’an terjemahan per kata. Karena biasanya aku menghafal dengan 2 Qur’an. Karena Qur’an yang biasa aku pakai tidak ada terjemahan tapi enak banget buat ngafal.

Tapi, akhirnya aku menemukan Qur’an sesuai apa yang aku inginkan. Qur’an hafalan yang ber-blok dan ada terjemahan juga ada kata kuncinya.

Setelah puas mencari buku kami langsung menuju tempat sholat dan bersiap untuk pulang ke BAQ. Sebelumnya foto di tempat ini biar afdhol.

Thanks IBF, sampai ketemu tahun depan.

Bye.

Diposkan pada Daily Life

Bingung Mau Nulis Apa

Hari ini gabut. Aku curhat saja lah.

Jangan baca kalau kamu lagi sibuk. Kalau santai, boleh di baca. Jangan rindu kalau kamu lagi rindu. Jangan pergi begitu saja. Eh korban.

Oke.

Lupakan.

Pertama, aku mau cerita tentang Grobmart. Lagi-lagi aku kecanduan beli buku di Grobmart. List di bulan Februari ini aku harus beli buku Bumi Manusia yang kata temanku harus cepat di baca karena sebentar lagi filmnya akan tayang. Dan biasanya, kalau film sudah tayang, dan orang-orang menilai film itu bagus, aku akan sangat malas untuk membaca buku tersebut. Atau banyak orang di sekitarku membaca buku A misalnya, lalu mereka satu sama lain kemudian menceritakannya, maka aku tidak akan pernah membacanya. Nah, alhasil aku pesan Bumi Manusia di Grobmart. Terus yang niatnya mau beli buku Muhasabah Cinta nya Dini Fitria, eh malah statusnya Gudang Penerbit. Aku tidak suka nunggu. Walaupun kebiasaannya nunggu. Nunggu tanpa kepastian. Hehe. Akhirnya aku beli yang Islah Cinta, Hijrah Cinta nya udah aku beli duluan. Karena di kira itu buku pertama, ternyata buku kedua. Jadi, aku memesan Islah Cinta dan Bumi Manusia. Beberapa hari kemudian status orderan berubah. Sedangkan statusku masih gitu-gitu aja. Eh apaan, sih Fet. Ngenesnya status nya jadi Gudang supplier. Jadi, harus nunggu. Padahal di tulisan produk tersedia. Sakit akutu di php-in mulu. Setelah sekitar dua minggu menunggu, yang dateng cuma satu. Islah Cinta doang. Hmmm.

Oh, iya 27 Feb – 3 Maret ini bakalan ada IBF di JCC.

Nah, cerita yang kedua ini, aku berkabar dengan luka. Oh God! Kenapa seperti ini. Ketemu mantan! Arrrrgh. Bukan artian aku pacaran yah. Ya, sejenis sebuah hubungan yang akan serius, lah. Hmm.

Ketiga, ini tentang mimpiku yang sempat di kubur. Jadi, aku akan memperjuangkan untuk kuliah di Turki lagi. Karena sudah ada teman yang sudah kesana terlebih dahulu, yups jadinya mudah untuk mendapatkan informasi. Pejuang Beasiswa TDV😂 Ehm… Kalau misalnya harus mandiri ya, why not? Semoga ada rezeki🙏

Aku berbagi khayalan aja, nih ya. Jadi, aku pengen ke Turki tepatnya ke Sakarya University fakultas ilahiyat dan nanti harus tetep setoran hafalan. Kebetulan, tadi aku intip Instagram milik PPI Sakarya, mereka mengadakan halaqah Qur’an. Wooooow! So excited!!! Terus, nanti Komorebi juga bakalan banyak cerita yang bisa di ambil hikmahnya. Bukan hanya sekedar curcol gak jelas like this. Hmmm. Jadi, doakan saja semoga saya bisa kuliah di Turki.

Aamiiiiiiiiiiiiiiiin

Bye.

Diposkan pada Daily Life

Sebuah Perjalanan

Banyak orang bertanya, kenapa aku memutuskan untuk bercadar. Banyak juga yang berfikir di antara mereka, kalau aku sudah lebih baik. Ya, mungkin dari segi pakaian insyaallah bisa di katakan baik. Tapi, dalam hal perbuatan seperti akhlak belum bisa di katakan baik. Aku masih sama seperti kalian yang sedang berusaha menjadi diri yang lebih baik lagi. Seperti temanku yang pernah berkata, saat ia berkumpul dengan para pengusaha, ketika ia di tanya usaha apa yang sedang di jalankan, ia menjawab usaha untuk menjadi lebih baik, katanya.

Apalagi, sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Sudah memikirkan jodoh. Karena jodoh cerminan diri, pastinya untuk mendapatkan seseorang yang baik kita juga harus berperilaku baik. Bukankah, begitu?

Awal mula aku memakai kerudung, ketika aku duduk di SMP kelas 2. Sebenarnya saat masuk SMP sudah memakai kerudung, tapi di sekolah aja. Di luar sekolah, santai lepas aja. Hehe. Parah, ya. Bahkan, aku tidak peduli dengan pakaian yang serba minim. Rambut di gerai. Layaknya kebanyakan remaja yang suka ada di mall mall gitu, lah. Tapi, untungnya tidak tahu menahu tentang pengecatan rambut, Alhamdulillah rambut tidak pernah di warnai. Nah, saat masuk ke kelas 2 SMP, ada seseorang yang membuat aku berfikir. Memang, kegiatan ku selalu mengaji sekolah agama, tapi aku seperti tidak tahu harus apa dengan diriku sendiri. Akhirnya, karena Allah mengirimkan hidayah untukku lewat seorang lelaki yang notabenenya adik kelas itu, dan aku mau berhijab. Karena, dia pun agamanya bagus. Aku suka sama lelaki itu. Ya, dulu aku masih menganggap kalau pacaran itu ya boleh-boleh aja. Asal gak berlebihan. Salahku juga, aku pacaran. Tapi, bukan dengan lelaki itu melainkan dengan kakak kelas. Entah karena apa aku menerimanya. Sudahlah, tidak usah dibahas. Dengan berubahnya cara berpakaianku, ya aku hanya sebatas berubah penampilan. Tidak dengan berusaha memperbaiki diri. Sampai masuk SMA pun ya kaya gitu-gitu aja. Padahal aku SMA di pondok. Pikirannya cuma gimana caranya biar berprestasi, belajar harus rajin, berperilaku jujur, dll. Di pondok iya pake rok, pakaian rapi, eh di rumah masih pake celana ketat.

Setelah keluar dari SMA tahun 2017, termasuk keluar dari Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, akhirnya aku memutuskan untuk kembali mondok di Jogja, tepatnya di Al-Munawwir. Nah, saat itulah aku berfikir “Bagaimana, ya kalo aku di cadar?” Aku bertanya-tanya juga ke temen cowok yang emang dia pinter agamanya. Dia juga yang jadi saksi perubahanku. Setelah 5 bulan mondok di Jogja, dan tak pernah pulang, aku merasa kok gini-gini aja ya hidupku. Emang, sih niatnya ngafal, tapi kok lingkungan kurang mendukung, jadwal ngaji juga jarang. Bukan karena aku bolos, tapi emang jadwal yang begitu. Malam Minggu sampai malam rabu ngaji, sisanya libur. Siang apalagi, gak ada kerjaan. Karena yang lain kuliah, aku enggak. Jadwal setoran seminggu 2 kali, dan itu pun belum tentu mba nya datang. Pusing, kan? Akhirnya, aku bilang ke Bapak, kalo aku pengen pindah. Alhamdulillah, di izinin.

Aku searching di google, buat nyari pondok. Hasilnya, Alhamdulillah ada. Dan itu gratis. Di Bandung, pula. Tempat yang memang pengen aku kunjungi. Tapi, ada tes masuk bulan Desember. Setelah ikut ujian les di Jogja, aku memutuskan untuk pulang. November.

Setelah lama di Jogja dan kembali ke Banjar, dimana tempat aku tinggal, aku rindu Cipasung. Alhamdulillah, setelah kembali ke Banjar, aku mencoba memakai pakaian yang syar’i, tidak lagi memakai celana ketat seperti yang dilakukan dulu saat pulang liburan pondok.

Karena Bapak peka, Bapak mengantarkan aku ke Cipasung lalu ia silaturahmi ke temannya yang masih sama-sama di Tasik, dan sorenya menjemputku di Cipasung. Karena aku malu datang sendiri sebagai alumni ke Cipasung, aku pakai masker. Bahkan, di kantor asrama aku memanggil Amel, temanku lewat speaker bahwasanya ada doif atau tamu. Amel juga kebingungan saat itu, siapa tamunya. Lalu, aku cepat-cepat narik tangannya, lalu pergi ke kamar Amel. Kami bercerita banyak disana. Tapi, waktuku sebentar. Sore hari aku harus pulang. Di perjalanan, malah kefikiran kok pake masker nyaman ya. Berinisiatif lah aku beli cadar untuk aku pake di Bandung. Sepertinya pakai cadar juga tidak salah, dan pastinya akan lebih mudah mengontrol diri.

Di Bandung, 22 Desember 2017, aku bertemu dengan teman baru dari berbagai penjuru Indonesia. Aceh, Medan, Kendari, Solo, Jogja, dan tentunya Bandung. Saat, ini jugalah aku gak berani pakai cadar. Karena, disini banyak juga yang memakai cadar. Mereka semua pakai kaos kaki, baik yang bercadar atau tidak. Sedangkan aku, bawa kaos kaki satu. Duh, nggak sekarang lah pakenya. Aku hanya memerhatikan mereka yang bercadar. Selama 3 hari dimana kami di tes sejauh mana kemampuan kita menghafal bukan seberapa banyak yang sudah kita hafalkan. Baru 3 hari mengikuti program disana, aku udah stres. Tapi, niatnya kalau emang di takdirkan di Kuntum, pondok yang mengadakan tes tahfidz ini, aku harus berusaha. Tapi, kalau tidak pun ya Alhamdulillah. Setelah waktu habis, teman-teman dari kamar Madinah yang aku tempati ini berencana ikut kajian Ust. Adi di Trans Studio Bandung. Aku pun gak mau ketinggalan kesempatan ini. Karena pasti akan membludak jamaahnya kita bagi 2 rombongan, karena banyak barang bawaan. Rombongan pertama langsung ke masjid TSB, sedangkan rombongan ke-2 ke rumah Kak Dini di Buah Batu, Bandung. Aku lebih memilih ke rumah Kak Dini. Ojek online yang di pesan dari daerah Cipatik ini lumayan sulit. Kami juga membawa koper-koper banyak. Alhasil, kita sewa angkot ke Buah Batu. Kita juga meminta kepada rombongan yang ada di masjid supaya di barisan depan, kalau tidak, kami akan hanyutkan barang-barang kalian, kata Kak ST dari Kendari yang ikut rombongan kami ke rumah Kak Dini.

Di rumah Kak Dini-lah, tanggal 25 Desember 2017, sore hari saat mau pergi ke kajian aku mencoba untuk menggunakan cadar. Karena, aku sudah membeli kaos kaki di stand Kuntum. Yeaaaaaaay. “Aku mau coba pake cadar, ah” aku menginformasikan ke teman-teman yang ada di sana. Di sana juga ada Kak Firda dan Kak ST yang memakai cadar. Pake aja, aku juga awalnya coba-coba, Get, kata Kak ST. Baiklah, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, mulai hari ini aku pakai cadar.

Keesokan harinya aku baru meminta izin Bapak lewat chat WhatsApp. Alhamdulillah, di kasih izin. Ah ternyata semudah ini aku mendapatkan izin. 26 Desember 2017 kita bermalas-malasan di rumah Kak Dini sampai akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke Pasar dan dilanjutkan nonton Ayat-ayat Cinta. Sedangkan tanggal 27, berkeliling Kota Bandung. Saat itu juga pengumuman tes tahfidz sudah ada di WA. Ternyata, teman-teman yang ikut rombongan main sama Kak Dini banyak yang diterima. Tapi, sayang, Kak Rahmi dan Kak Aisyah gagal. 28 Desember kita berangkat juga ke Bekasi. Mengikuti kajian Ust. Adi Hidayat, Lc, MA, di daerah Jakasatia. Kita datang terlalu cepat. Ba’da Maghrib dimulai, ba’da Dzuhur kita sudah datang. Akhirnya kita di sambut dengan oleh pihak pengurus DKM, kami di beri makan siang juga tempat untuk beristirahat di tempat akhwat. Setelah selesai kajian, pun kami di beri makan malam. Saat kita santap malam, Kak Rahmi bercerita, bahwa dirinya tadi bertemu dengan santri tahfidz yang mondok deket dari sini, sekitar 5 menit menggunakan kendaraan. Pondok-nya gratis juga. Karena aku juga penasaran, aku memutuskan untuk survey bersama Kak Rahmi, Kak Aisyah, Kak Nurul dan juga Kak Radhiah.

Keesokan harinya, jadwal kita untuk pulang ke tempat masing-masing. Sebelum pulang, aku survey dulu ke Yayasan Bait Ahlil Qur’an. Cukup nyaman untuk menghafal, targetnya juga tidak sulit, biaya gratis, bisa ikut kajian, dan sepertinya cocok untukku.

Bismillah, aku memutuskan untuk mondok di Bekasi.

Diposkan pada Daily Life

Ke-10 di Tanggal 10

Bunga tidur. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Aku pernah membaca katanya kalau sering bermimpi, termasuk orang kreatif atau mempunyai tingkatan imajinasi yang tinggi dan ada juga yang mengatakan kalau mimpi itu hasil dari apa yang sering kita bayangkan. Tapi, yang pasti mimpi itu datang dari Allah sebagai petunjuk atau dari syetan. Namun, apa jadinya jika seseorang selalu muncul di dalam mimpiku? Ya, ini sudah yang ke sepuluh kalinya dia hadir dalam mimpiku setelah aku mulai menghitungnya, sebelum ku hitung pun dia sudah selalu hadir di mimpiku. Apa artinya?

Dia hanyalah seorang sahabatku, walaupun aku pernah menyimpan rasa. Mungkin itu hanya rasa sebagai sahabat. Kita sering berbincang bahkan setelah kita berpisah. Tidak sama sekali berkomunikasi. Hanya saling lihat story itu pun saat aku di bagi hp. Ah tentang mimpi itu aku seolah senang bisa bertemu dengannya. Sering kali mimpi itu saat kita bersekolah. Saat aku berdiskusi dengannya. Pernah juga saat itu dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Namun saat itu juga aku terbangun. Harus tersadar kalau hidup kembali di dunia nyata. Padahal aku masih merindukannya. Atau saat dia mengajakku ke rumahnya untuk belajar SBMPTN bersama dan pakaian yang di kenakan sama seperti ketika bimbel. Kaos biru berlengan pendek lengkap dengan sarung dan tas backpack hitamnya. Seperti biasa kau membawa plastik minuman es. Atau saat aku makan denganmu. Atau saat aku menanyakan tentang cara tali temali bendera merah putih. Semua itu seolah nyata. Dia pun hadir di mimpiku, aku hanya bilang “Kita sahabat” dan aku memegang tanganmu erat seolah tidak ingin lagi kita berpisah.

Dan terakhir, dia hadir begitu lama dalam mimpiku. Nampaknya makin segar. Aku pun bertanya “Apakah kamu pernah bermimpi seseorang yang terus menerus secara kontinyu hadir dalam mimpimu?”. “Pernah” jawabmu. “Siapa?” tanyaku. “Ah tak usah kau jawab” ku katakan lagi. Saat itu pun aku terbangun.

Aku rindu mendengar keluh kesahmu. Aku rindu mendengar pendapat yang bijak darimu, aku rindu berdiskusi denganmu. Aku rindu . Sampai kapan rindu ini terus terkubur? Belum sampaikah waktu kita untuk bertemu. Malam kelam sudah berlalu diganti siang. Tapi tanda hadirmu belum juga datang.