Posted in Hari Ini Produktif

#HIP1 : Persiapan Menjadi IRT?

Menjadi Ibu rumah tangga ternyata tidak semudah yang kita bayangkan

Jum’at Barokah.

Jum’at yang produktif.

Tidak seperti biasanya.

Alhamdulillah.

Jadi ceritanya, temanku yang biasanya suka masak, lagi pulang. Di karenakan neneknya meninggal. Mari kita doakan.

اللهم ا غفرلها وار حمها وعافها واعف عنها

Nah, di karenakan jadwal piket yang tidak kondusif, akhirnya aku yang harus turun tangan. Di asrama, kita ada 4 orang. Satu sakit, satunya lagi gak pernah tanggung jawab dengan pekerjaan rumah satunya lagi yang membantu bersih-bersih rumah. Jadi, aku piket masak setiaaap hari. Kecuali kalo puasa, aku males banget buat masak. Dan ini sudah berjalan hampir satu minggu. Ternyata masak aja aku udah kewalahan. Kalo jadwal piket pun merasa lelah banget. Pagi-pagi harus menyiapkan setoran (setoran jam 07:30), bersih-bersih rumah, siapin sarapan, lebih parah lagi kalo belum murajaah. Lelah bang!!!

Nah, ini udah lumayan ringan, sih. Bersih-bersih rumah di tugaskan ke temen yang lain, walaupun dia juga harus ngajar pagi, dan biasanya aku masak yang simpel untuk makan pagi. Jadi, pagi ini aku masak nasi goreng 👌

Sedangkan untuk makan siang sekaligus sore, aku masak daun singkong rebus untuk lalap, ada sambel, tahu bubuk, dan tempe goreng.

Keadaan dapur

Lumayan membakar kalori, ya memasak tuh.

Sebenarnya aku gak bisa yang namanya masak. Tapi, temanku ini selalu mengajarkanku tentang masak, bukan hanya resep tapi skill nya juga. Seperti, kalo masak apinya jangan terlalu gede, biar aromanya gak terlalu nusuk. Ada kan, orang yang masak sampe meracuni se-kampung. Lebay itu mah namanya. Ya maksudnya bikin batuk-batuk yang ada di rumah. Trus cara bikin sambel banyak untuk beberapa hari, pokoknya seputar memasak lah, yang kebanyakan hal itu di lupakan para emak-emak.

Jadi, inti dari postingan ini adalah : Jum’at aku produktif kali ini, dan ternyata menjadi Ibu rumah tangga itu tidak gampang. Pelajaran, nih buat yang mau nikah muda. Nikah bukan hanya untuk mencari kebahagiaan. Karena kebahagiaan bisa di miliki sebelum menikah. Menikah adalah ibadah. Menyempurnakan keimanan. Sebelum menikah aja tidak taat, tidak beriman, apa yang mau di sempurnakan?

Eh gitu bukan, sih?

Haha

Oke, terima kasih telah membaca kegiatanku hari ini.

Bhaaaaay sheyaaaang👌

Advertisements
Posted in Daily Life

Berburu Buku

27 Februari 2019, sekitar pukul 6.30 WIB kami berangkat. Ini hari pertama Islamic Book Fair alias pembukaan. Sebenarnya aku memilih hari sabtu untuk ke sana, namun tidak di izinkan oleh Umi. IBF ini di buka dari 27 Februari sampai 3 Maret, karena 3 Maret ada acara di Pondok Pesantren, yaitu launching BAQ Mart jadi kalau pilih tanggal 2 akan super sibuk. Di tambah aku ikut jadi panitia.

Ini juga merupakan sebuah keberuntungan bisa ikut IBF tahun ini. Sayang, yang berangkat sedikit dari asrama kami. Hanya ber-4. Lain saat tahun lalu. Satu asrama ikut. Ya walaupun satu asrama nya ada 6 orang. Hehe

Hari ini kita berangkat menggunakan taxi online. Daripada ribet dan pegel pakai KRL aku lebih memilih transportasi ini. Walaupun biayanya lebih mahal, tapi sebanding dengan kenyamanannya.

Kami sampai di JCC kurang lebih jam 8. Sedangkan IBF buka pada jam 9. Oke sip ini terlalu pagi. Tapi, beruntung juga datang pagi karena masih sepi. Kami bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum berburu buku, sekaligus menghilangkan pusing yang di akibatkan memainkan handphone di perjalanan, dan sekarang juga. Padahal sebenernya aku paling gak bisa memainkan hp saat perjalanan. Membuat kepalaku pusing. Tapi, karena harus menulis, apa daya. Aku lebih semangat menulis kalau memang suasana apa yang aku tulis masih ku rasakan. Eaaaaa. Nah, tepat jam 9, antrian udah di buka. Aku lah yang mengambil peran. Beli tiket untuk 4 orang. Antri tiket pun tidak terlalu panjang. Tiket yang di jual pun beragam. Untuk pelajar seharga 5k dan umum/mahasiswa 10k. Kami membeli tiket yang umum.

Foto blur

Ketika pintu masuk di buka, masya Allah pusing ku langsung hilang melihat buku-buku yang berderet seolah mengucapkan selamat datang. Dan aku merasa paling beruntung karena suasana masih sepi. Hanya penjaga stand yang hadir, pengunjung masih bisa kehitung, sekitar 10 sampai 20 orang gitu.

Kita menyusuri hall pertama yang isinya berbagai macam buku dari anak sampai dewasa dari buku yang Arab gundul sampai kribo. Gak deng. Kektika melewati stand Media Kita, ah jangan sampai aku tergoda untuk membeli novel. Stop, Fet! Apalagi di sana pasti Novel Kala, Amor Fati, Egosentris dan Paradigma di jual murah banget. Aku lewati begitu saja stand tersebut. Akhirnya aku lolos dari godaan novel. Lanjut ke Hall kedua, ini lebih ke fashion dan juga ada mushola dan Panggung utama. Niatnya mau keliling dulu, eh udah nyangkut aja di stand Kaos kaki Soka. Emang murah banget, sih. Kaos kaki yang puaaaaling enak dan cukup mahal ini sekarang harganya cuma goceng buuuuu. Akhirnya menyerbu lah ke kaos kaki murah ini

Aku beli banyak karena ingin membagikannya juga kepada teman-teman di asrama yang gak ikut ke event ini. Itu sebagian aja yang aku foto. Kaos kaki printing ini modelnya super cute. Aku pernah sebelumnya beli kaos kaki printing tapi bukan dari Soka, harganya kisaran 15k. Berlanjut ke toko sebelah yang menjual aksesoris yang lucu-lucu.

Setelah itu, aku tersadar. Tujuanku adalah beli buku. Alhasil kita kembali berburu buku. Sayang, susah banget mencari buku yang aku cari.

List belanja buku :

  • Qur’an untuk hafalan
  • Terjemah Bidayatul Mujtahid
  • Terjemah Bidayatul Hidayah
  • Terjemah Nashoihul Ibad
  • Terjemah Safinatun Najah
  • Terjemah Tibyan + kitab

Pertama aku langsung nemu, tuh terjemah Bidayatul Mujtahid. But, ternyata itu ada 2 jilid dan super tebal. Harganya kisaran 200k. Duh, kayanya gak bisa. Trus aku skip. Aku cari kemana-mana Nashoihul ibad, susah banget. Dan akhirnya nemu di stand Wali Pustaka harganya murah terus aku juga suka kertasnya yang berwarna kuning seperti biasa kertas novel. Aku kurang suka dengan buku yang kertas putih. Baunya gak enak. Tapi, walaupun buku yang aku beli hampir semua kertas putih kecuali buku terjemahan dari kitab Nashoihul Ibad ini. Harganya super murah. Dari 75k menjadi 45k. Parah, kan?

Kembali mencari buku lain, itu pun susah. Alhamdulillah kitab Tibyan udah dapet, tinggal terjemahannya. Ada satu stand yang sepi, yang di jaga oleh ikhwan berjenggot bercelana cingkrang, eaaaa. Di sana udah langsung ada banner gitu yang menunjukkan buku terjemahan Tibyan. Aku langsung cus beli. Harganya hanya 75k. Suka covernya. Warna hitam.

Aku juga beli Al-Qur’an. Sebenarnya aku ingin beli Qur’an terjemahan per kata. Karena biasanya aku menghafal dengan 2 Qur’an. Karena Qur’an yang biasa aku pakai tidak ada terjemahan tapi enak banget buat ngafal.

Tapi, akhirnya aku menemukan Qur’an sesuai apa yang aku inginkan. Qur’an hafalan yang ber-blok dan ada terjemahan juga ada kata kuncinya.

Setelah puas mencari buku kami langsung menuju tempat sholat dan bersiap untuk pulang ke BAQ. Sebelumnya foto di tempat ini biar afdhol.

Thanks IBF, sampai ketemu tahun depan.

Bye.

Posted in Daily Life

Bingung Mau Nulis Apa

Hari ini gabut. Aku curhat saja lah.

Jangan baca kalau kamu lagi sibuk. Kalau santai, boleh di baca. Jangan rindu kalau kamu lagi rindu. Jangan pergi begitu saja. Eh korban.

Oke.

Lupakan.

Pertama, aku mau cerita tentang Grobmart. Lagi-lagi aku kecanduan beli buku di Grobmart. List di bulan Februari ini aku harus beli buku Bumi Manusia yang kata temanku harus cepat di baca karena sebentar lagi filmnya akan tayang. Dan biasanya, kalau film sudah tayang, dan orang-orang menilai film itu bagus, aku akan sangat malas untuk membaca buku tersebut. Atau banyak orang di sekitarku membaca buku A misalnya, lalu mereka satu sama lain kemudian menceritakannya, maka aku tidak akan pernah membacanya. Nah, alhasil aku pesan Bumi Manusia di Grobmart. Terus yang niatnya mau beli buku Muhasabah Cinta nya Dini Fitria, eh malah statusnya Gudang Penerbit. Aku tidak suka nunggu. Walaupun kebiasaannya nunggu. Nunggu tanpa kepastian. Hehe. Akhirnya aku beli yang Islah Cinta, Hijrah Cinta nya udah aku beli duluan. Karena di kira itu buku pertama, ternyata buku kedua. Jadi, aku memesan Islah Cinta dan Bumi Manusia. Beberapa hari kemudian status orderan berubah. Sedangkan statusku masih gitu-gitu aja. Eh apaan, sih Fet. Ngenesnya status nya jadi Gudang supplier. Jadi, harus nunggu. Padahal di tulisan produk tersedia. Sakit akutu di php-in mulu. Setelah sekitar dua minggu menunggu, yang dateng cuma satu. Islah Cinta doang. Hmmm.

Oh, iya 27 Feb – 3 Maret ini bakalan ada IBF di JCC.

Nah, cerita yang kedua ini, aku berkabar dengan luka. Oh God! Kenapa seperti ini. Ketemu mantan! Arrrrgh. Bukan artian aku pacaran yah. Ya, sejenis sebuah hubungan yang akan serius, lah. Hmm.

Ketiga, ini tentang mimpiku yang sempat di kubur. Jadi, aku akan memperjuangkan untuk kuliah di Turki lagi. Karena sudah ada teman yang sudah kesana terlebih dahulu, yups jadinya mudah untuk mendapatkan informasi. Pejuang Beasiswa TDV😂 Ehm… Kalau misalnya harus mandiri ya, why not? Semoga ada rezeki🙏

Aku berbagi khayalan aja, nih ya. Jadi, aku pengen ke Turki tepatnya ke Sakarya University fakultas ilahiyat dan nanti harus tetep setoran hafalan. Kebetulan, tadi aku intip Instagram milik PPI Sakarya, mereka mengadakan halaqah Qur’an. Wooooow! So excited!!! Terus, nanti Komorebi juga bakalan banyak cerita yang bisa di ambil hikmahnya. Bukan hanya sekedar curcol gak jelas like this. Hmmm. Jadi, doakan saja semoga saya bisa kuliah di Turki.

Aamiiiiiiiiiiiiiiiin

Bye.

Posted in Daily Life

Sebuah Perjalanan

Banyak orang bertanya, kenapa aku memutuskan untuk bercadar. Banyak juga yang berfikir di antara mereka, kalau aku sudah lebih baik. Ya, mungkin dari segi pakaian insyaallah bisa di katakan baik. Tapi, dalam hal perbuatan seperti akhlak belum bisa di katakan baik. Aku masih sama seperti kalian yang sedang berusaha menjadi diri yang lebih baik lagi. Seperti temanku yang pernah berkata, saat ia berkumpul dengan para pengusaha, ketika ia di tanya usaha apa yang sedang di jalankan, ia menjawab usaha untuk menjadi lebih baik, katanya.

Apalagi, sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Sudah memikirkan jodoh. Karena jodoh cerminan diri, pastinya untuk mendapatkan seseorang yang baik kita juga harus berperilaku baik. Bukankah, begitu?

Awal mula aku memakai kerudung, ketika aku duduk di SMP kelas 2. Sebenarnya saat masuk SMP sudah memakai kerudung, tapi di sekolah aja. Di luar sekolah, santai lepas aja. Hehe. Parah, ya. Bahkan, aku tidak peduli dengan pakaian yang serba minim. Rambut di gerai. Layaknya kebanyakan remaja yang suka ada di mall mall gitu, lah. Tapi, untungnya tidak tahu menahu tentang pengecatan rambut, Alhamdulillah rambut tidak pernah di warnai. Nah, saat masuk ke kelas 2 SMP, ada seseorang yang membuat aku berfikir. Memang, kegiatan ku selalu mengaji sekolah agama, tapi aku seperti tidak tahu harus apa dengan diriku sendiri. Akhirnya, karena Allah mengirimkan hidayah untukku lewat seorang lelaki yang notabenenya adik kelas itu, dan aku mau berhijab. Karena, dia pun agamanya bagus. Aku suka sama lelaki itu. Ya, dulu aku masih menganggap kalau pacaran itu ya boleh-boleh aja. Asal gak berlebihan. Salahku juga, aku pacaran. Tapi, bukan dengan lelaki itu melainkan dengan kakak kelas. Entah karena apa aku menerimanya. Sudahlah, tidak usah dibahas. Dengan berubahnya cara berpakaianku, ya aku hanya sebatas berubah penampilan. Tidak dengan berusaha memperbaiki diri. Sampai masuk SMA pun ya kaya gitu-gitu aja. Padahal aku SMA di pondok. Pikirannya cuma gimana caranya biar berprestasi, belajar harus rajin, berperilaku jujur, dll. Di pondok iya pake rok, pakaian rapi, eh di rumah masih pake celana ketat.

Setelah keluar dari SMA tahun 2017, termasuk keluar dari Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, akhirnya aku memutuskan untuk kembali mondok di Jogja, tepatnya di Al-Munawwir. Nah, saat itulah aku berfikir “Bagaimana, ya kalo aku di cadar?” Aku bertanya-tanya juga ke temen cowok yang emang dia pinter agamanya. Dia juga yang jadi saksi perubahanku. Setelah 5 bulan mondok di Jogja, dan tak pernah pulang, aku merasa kok gini-gini aja ya hidupku. Emang, sih niatnya ngafal, tapi kok lingkungan kurang mendukung, jadwal ngaji juga jarang. Bukan karena aku bolos, tapi emang jadwal yang begitu. Malam Minggu sampai malam rabu ngaji, sisanya libur. Siang apalagi, gak ada kerjaan. Karena yang lain kuliah, aku enggak. Jadwal setoran seminggu 2 kali, dan itu pun belum tentu mba nya datang. Pusing, kan? Akhirnya, aku bilang ke Bapak, kalo aku pengen pindah. Alhamdulillah, di izinin.

Aku searching di google, buat nyari pondok. Hasilnya, Alhamdulillah ada. Dan itu gratis. Di Bandung, pula. Tempat yang memang pengen aku kunjungi. Tapi, ada tes masuk bulan Desember. Setelah ikut ujian les di Jogja, aku memutuskan untuk pulang. November.

Setelah lama di Jogja dan kembali ke Banjar, dimana tempat aku tinggal, aku rindu Cipasung. Alhamdulillah, setelah kembali ke Banjar, aku mencoba memakai pakaian yang syar’i, tidak lagi memakai celana ketat seperti yang dilakukan dulu saat pulang liburan pondok.

Karena Bapak peka, Bapak mengantarkan aku ke Cipasung lalu ia silaturahmi ke temannya yang masih sama-sama di Tasik, dan sorenya menjemputku di Cipasung. Karena aku malu datang sendiri sebagai alumni ke Cipasung, aku pakai masker. Bahkan, di kantor asrama aku memanggil Amel, temanku lewat speaker bahwasanya ada doif atau tamu. Amel juga kebingungan saat itu, siapa tamunya. Lalu, aku cepat-cepat narik tangannya, lalu pergi ke kamar Amel. Kami bercerita banyak disana. Tapi, waktuku sebentar. Sore hari aku harus pulang. Di perjalanan, malah kefikiran kok pake masker nyaman ya. Berinisiatif lah aku beli cadar untuk aku pake di Bandung. Sepertinya pakai cadar juga tidak salah, dan pastinya akan lebih mudah mengontrol diri.

Di Bandung, 22 Desember 2017, aku bertemu dengan teman baru dari berbagai penjuru Indonesia. Aceh, Medan, Kendari, Solo, Jogja, dan tentunya Bandung. Saat, ini jugalah aku gak berani pakai cadar. Karena, disini banyak juga yang memakai cadar. Mereka semua pakai kaos kaki, baik yang bercadar atau tidak. Sedangkan aku, bawa kaos kaki satu. Duh, nggak sekarang lah pakenya. Aku hanya memerhatikan mereka yang bercadar. Selama 3 hari dimana kami di tes sejauh mana kemampuan kita menghafal bukan seberapa banyak yang sudah kita hafalkan. Baru 3 hari mengikuti program disana, aku udah stres. Tapi, niatnya kalau emang di takdirkan di Kuntum, pondok yang mengadakan tes tahfidz ini, aku harus berusaha. Tapi, kalau tidak pun ya Alhamdulillah. Setelah waktu habis, teman-teman dari kamar Madinah yang aku tempati ini berencana ikut kajian Ust. Adi di Trans Studio Bandung. Aku pun gak mau ketinggalan kesempatan ini. Karena pasti akan membludak jamaahnya kita bagi 2 rombongan, karena banyak barang bawaan. Rombongan pertama langsung ke masjid TSB, sedangkan rombongan ke-2 ke rumah Kak Dini di Buah Batu, Bandung. Aku lebih memilih ke rumah Kak Dini. Ojek online yang di pesan dari daerah Cipatik ini lumayan sulit. Kami juga membawa koper-koper banyak. Alhasil, kita sewa angkot ke Buah Batu. Kita juga meminta kepada rombongan yang ada di masjid supaya di barisan depan, kalau tidak, kami akan hanyutkan barang-barang kalian, kata Kak ST dari Kendari yang ikut rombongan kami ke rumah Kak Dini.

Di rumah Kak Dini-lah, tanggal 25 Desember 2017, sore hari saat mau pergi ke kajian aku mencoba untuk menggunakan cadar. Karena, aku sudah membeli kaos kaki di stand Kuntum. Yeaaaaaaay. “Aku mau coba pake cadar, ah” aku menginformasikan ke teman-teman yang ada di sana. Di sana juga ada Kak Firda dan Kak ST yang memakai cadar. Pake aja, aku juga awalnya coba-coba, Get, kata Kak ST. Baiklah, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, mulai hari ini aku pakai cadar.

Keesokan harinya aku baru meminta izin Bapak lewat chat WhatsApp. Alhamdulillah, di kasih izin. Ah ternyata semudah ini aku mendapatkan izin. 26 Desember 2017 kita bermalas-malasan di rumah Kak Dini sampai akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke Pasar dan dilanjutkan nonton Ayat-ayat Cinta. Sedangkan tanggal 27, berkeliling Kota Bandung. Saat itu juga pengumuman tes tahfidz sudah ada di WA. Ternyata, teman-teman yang ikut rombongan main sama Kak Dini banyak yang diterima. Tapi, sayang, Kak Rahmi dan Kak Aisyah gagal. 28 Desember kita berangkat juga ke Bekasi. Mengikuti kajian Ust. Adi Hidayat, Lc, MA, di daerah Jakasatia. Kita datang terlalu cepat. Ba’da Maghrib dimulai, ba’da Dzuhur kita sudah datang. Akhirnya kita di sambut dengan oleh pihak pengurus DKM, kami di beri makan siang juga tempat untuk beristirahat di tempat akhwat. Setelah selesai kajian, pun kami di beri makan malam. Saat kita santap malam, Kak Rahmi bercerita, bahwa dirinya tadi bertemu dengan santri tahfidz yang mondok deket dari sini, sekitar 5 menit menggunakan kendaraan. Pondok-nya gratis juga. Karena aku juga penasaran, aku memutuskan untuk survey bersama Kak Rahmi, Kak Aisyah, Kak Nurul dan juga Kak Radhiah.

Keesokan harinya, jadwal kita untuk pulang ke tempat masing-masing. Sebelum pulang, aku survey dulu ke Yayasan Bait Ahlil Qur’an. Cukup nyaman untuk menghafal, targetnya juga tidak sulit, biaya gratis, bisa ikut kajian, dan sepertinya cocok untukku.

Bismillah, aku memutuskan untuk mondok di Bekasi.

Posted in Daily Life

Ke-10 di Tanggal 10

Bunga tidur. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Aku pernah membaca katanya kalau sering bermimpi, termasuk orang kreatif atau mempunyai tingkatan imajinasi yang tinggi dan ada juga yang mengatakan kalau mimpi itu hasil dari apa yang sering kita bayangkan. Tapi, yang pasti mimpi itu datang dari Allah sebagai petunjuk atau dari syetan. Namun, apa jadinya jika seseorang selalu muncul di dalam mimpiku? Ya, ini sudah yang ke sepuluh kalinya dia hadir dalam mimpiku setelah aku mulai menghitungnya, sebelum ku hitung pun dia sudah selalu hadir di mimpiku. Apa artinya?

Dia hanyalah seorang sahabatku, walaupun aku pernah menyimpan rasa. Mungkin itu hanya rasa sebagai sahabat. Kita sering berbincang bahkan setelah kita berpisah. Tidak sama sekali berkomunikasi. Hanya saling lihat story itu pun saat aku di bagi hp. Ah tentang mimpi itu aku seolah senang bisa bertemu dengannya. Sering kali mimpi itu saat kita bersekolah. Saat aku berdiskusi dengannya. Pernah juga saat itu dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Namun saat itu juga aku terbangun. Harus tersadar kalau hidup kembali di dunia nyata. Padahal aku masih merindukannya. Atau saat dia mengajakku ke rumahnya untuk belajar SBMPTN bersama dan pakaian yang di kenakan sama seperti ketika bimbel. Kaos biru berlengan pendek lengkap dengan sarung dan tas backpack hitamnya. Seperti biasa kau membawa plastik minuman es. Atau saat aku makan denganmu. Atau saat aku menanyakan tentang cara tali temali bendera merah putih. Semua itu seolah nyata. Dia pun hadir di mimpiku, aku hanya bilang “Kita sahabat” dan aku memegang tanganmu erat seolah tidak ingin lagi kita berpisah.

Dan terakhir, dia hadir begitu lama dalam mimpiku. Nampaknya makin segar. Aku pun bertanya “Apakah kamu pernah bermimpi seseorang yang terus menerus secara kontinyu hadir dalam mimpimu?”. “Pernah” jawabmu. “Siapa?” tanyaku. “Ah tak usah kau jawab” ku katakan lagi. Saat itu pun aku terbangun.

Aku rindu mendengar keluh kesahmu. Aku rindu mendengar pendapat yang bijak darimu, aku rindu berdiskusi denganmu. Aku rindu . Sampai kapan rindu ini terus terkubur? Belum sampaikah waktu kita untuk bertemu. Malam kelam sudah berlalu diganti siang. Tapi tanda hadirmu belum juga datang.

Posted in Daily Life

Fetti Lestari, CEO Muslim Wedding Organizer

Sudah sekian lama aku mendambakan punya bisnis Wedding Organizer dan sebab perbincangan mimpi inilah dan di tambah obrolan hangat mengenai Band favorit, aku dengan salah satu teman kelasku saat kelas X menjadi akrab. Temanku juga bermimpi punya bisnis distro. Keasyikan itu pun berlanjut ke pembuatan katalog. Dimana dalam katalog dia ada aku, di katalog aku ada dia. Asyeeeeek. Btw dia nya itu cowo pemirsa.  

Karena ada mimpi harus ada action, bermulailah aku menjadi tukang make up. Dari kecil aku emang selalu senang memakai make up, kerudung ala-ala hijabers. Bahkan sebelum marak tutorial hijab di sosial media dan umurku masih 6 tahun artinya aku kelas 1 SD, aku dandan sendiri di kamar dengan modal semuanya punya mamah. Make up kit yang bertingkat dari Pond’s berbentuk hati dan isinya udah komplit. Ada bedak, spons, eye shadow warna-warni sampe warna hitam pun ada, blush on, lipgloss, dan dulu itu aku udah tau namanya apa, kegunaannya untuk apa. Karena, sering liat Mamah. Tapi, Mamah juga jarang pake, sih. Abisnya make up itu pun, gara-gara tingkah aku. Nyampe berlubang lah si lipgloss dan eye shadow nya. Setelah di make up, lanjut ke tutorial kerudung. Ingat sekali waktu itu kerudungnya pemberian dari orang lain entah siapa dan aku ngerasa itu kerudung paling bagus yang aku punya dan kesayangan banget.

Kelas 3 SD aku di haruskan pindah kota dari Tasikmalaya ke Banjar, aku sedih. Karena aku gak bakalan lagi pake make up dan segala macem. Soalnya aku pemalu, dan aku pun rumahnya masih numpang di rumah bibi. Dari situlah aku berhenti memakai make up sendiri tapi sering di make up-in sama ibunya Vina, tetangga kami dikarenakan harus naik panggung di acara maulid nabi atau Isra Mi’raj dari Madrasah Diniyah. Tempatnya di belakang rumah. Aku seringnya jadi vokalis qasidah saat itu. Penasaran suaraku kaya apa? Bikin pecah gendang telinga orang kali, ya. Lagu yang ku hafal dulu pun banyak. Biasanya bawain lagu Selamat Datang, Bismillah, Mars MDA, Masa Remaja dll. Yang kebanyakan itu lagu qasidah dari grup Al-Manar atau Nasida Ria. Sekarang udah lupa dan gak pernah ikutan acara itu lagi di kampungku. Nanti lah insyaallah bagian ngisi ceramahnya.

Masuk SMP kegiatan yang aku geluti melilitkan kerudung di kepalaku. Haha. Kalo di lihat fotoku pas SMP ya seringnya pake kerudung kaya gitu. Ala-ala hijaber, kecuali acara dengan temen-temen dan sekolah pastinya.

Di SMA, karena youtube udah bisa di akses di mana aja meskipun di pondok, aku sering liat tutorial hijab dan make up juga. Sampe benar-benar tau nama-nama make up yang bagus. Aku sering liat beauty vlogger, favoritku adalah Nanda Arsyinta. Kalo berkerudung, beuuuh makin cantik dia. Tambah hafal quran, mantap tap tap, masya Allah pokoknya. Pas ultah dia yang entah ke berapa dan dia mengadakan give away aku juga ikutan. Dimana give awaynya itu membuat tutorial make up dengan cara upload hasil tutorial make up ke ig atau upload video tutorial ke Youtube. Karena aku juga udah nyicil beli make up, kenapa gak coba aja gitu. Walaupun gak menang. Dari itulah muncul ide buat nanti perpisahan aku make up sendiri. Soalnya sayang kalo di make up dari salon bayar mahal sedangkan aku perpisahan 3x. Perpisahan sekolah, perpisahan pesantren dan perpisahan asrama. Perpisahan pesantren pun ada dua acara. Siang dan malam. Jadilah, aku minta uang ke ortu buat beli make up seharusnya uang buat nyalon.

Parahnya lagi orang-orang percaya kalo aku bisa make up. Perpisahan sekolah, aku dandanin 2 orang, 3 orang sama aku. Perpisahan pesantren dandanin 4 orang, geng aku semua. Harusnya 7 orang, karena 2 orang ikut MC dan panitia, jadi make up nya beda, nah 1 orang lagi denger dari orang katanya kecewa sama make up ku. Ya iyalah bukan ahli, gue coyyy. Hahaha. Nah, perpisahan pesantren acara malemnya, make up ku di simpan di tengah ruangan di temani cermin di sisi kiri dan kanan dan kita ber-8 sibuk make up sendiri-sendiri sambil sibuk bertanya urutan make up dan cara pake. Konyol sekali memori itu. Untuk perpisahan asrama aku hanya pake lipstik aja soalnya sayang kalo di make up. Kenapa? Karena banyak acara nangis, sambil salaman se asrama dengan jumlah santri ± 300 santri putri. Habislah air mataku, benih-benih mutiara.

Oh ya, waktu aku dandanin orang itu (perpisahan pesantren), disana ada mama nya temenku. Innalillahi nya di puji  saat itu. Kok bisa tau itu namanya, kegunaannya, makenya juga bagus. Katanya. Beliau juga doain aku biar bisa punya WO. Aamiin. Dan anaknya memesan nikah ala-ala india. Yang punya nya aja pengen ala india, hehe. Doain ya kawan-kawan, nanti, Fetti Lestari mempunyai Muslim Wedding Organizer. Aamiin.

Posted in Daily Life

Terpisah di Istiqlal 

Acara yang sudah di nanti-nantikan para Ikhwan dan Akhwat BAQ akhirnya sudah di depan mata. Minggu pagi, ba’da shubuh pergi ke masjid untuk ta’lim. Sekitar pukul 6, kita pulang. Tapi, pas banget bersiap untuk sarapan pagi, Kak Lala menyuruhku untuk kembali ke masjid lagi buat ngqji kitab tafsir. Akhirnya gak jadilah kami makan. Aku langsung bersiap-siap pergi ke masjid, lagi. Jam 9 baru keluar dari masjid. Kemudian, sarapan yang sempat tertunda. Jadwalku hari ini juga harus nyuci. Mandi juga belum. Sayang juga hari ini pesanan baju buat pergi ke acara Hari Qur’an di Istiqlal belum nyampe. Yowis aku pake jubah item ini. Tapi, jam 11.30 setelah makan siang aku di panggil Dini buat ngambil baju di Kak Muna, asrama lama. Dengan alasan Kak Muna sakit. So, gak bisa ikut acara. Alhamdulillah banget, tuh akhirnya aku pake baju samaan. 

Ba’da dzuhur kita kumpul dan naik bis di satukan dengan ikhwan juga. Jam 13.21 bis kita baru berangkat dan terjebak macet. Nyampe kesana sekitar 14.30. Masya Allah masjid terbesar se-Asia dengan di depannya ada Katedral. Yang menunjukkan toleransi yang nyata, dan aku baru pertama kalinya ke sini. Disana udah penuh banget. Aku ngikutin aja rerus Kak Ju sama Kak Lala. Sampe di batas suci, kita copot sandal dan di masukkan ke kantong plastik yang udah aku siapkan sama Kak Ju. Di simpan lah sandalku ke dalam kantong plastik dan membawanya. 

Lalu, kita ke tangga. Eh, tanganku ada yang megang. Kak Hasna, kok bukan siapa-siapa. Tanganku di tarik, tuh sama Kak Hasna. 

“Ayo wudhu dulu. Nanti penuh”

“Eh yang lain udah pada ke atas. Tapi, aku juga mau wudhu lagi, sih” kataku. 

Akhirnya, aku pisah sama mereka, teman sekamarku. Fyi, Kak Hasna ini anak asrama lama. Aku pun berwudhu bareng Kak Hasna, Kak Nafi, Kak Halimah dan Kak Lusi. Masuk lorong. Langsung, barang-barang, termasuk kantong plastik sandal, tas dan kaos kaki. Kak Nafi dan Kak Hasna bagian jaga, yang lain ke kamar mandi tapi, aku ke tempat wudhu. Karena aku gak melihat lagi mereka di depanku. Okelah aku cepet-cepet jalan ke tempat wudhu. Aku ikutin yang di depan karena gak tau apa-apa. Pulangnya, aku nyampe nyasar gara-gara lupa jalan pulang. Setelah itu, berhenti di lorong. Seeeeet!!! Zonk!!! Blas gak ada yang aku kenal. Orang atau pun barang. Huwaaaaaa  kalo gak inget sama Allah, rasanya aku pengen nangis dah. Aku panik, dong. Hp, dompet semuanya ada di tas. Sedangkan tasku ilang. 

Serahin semuanya ke yang Maha Punya. Kataku dalam hati. Aku langsung dzikir terus, antara panik dan tenang juga, sih. Aku cari ke bagian kiri, gak ada. Pas liat pos informasi, pintunya di tutup. Makin panik lah aku. Terus mencoba pasrah. Semua orang aku liatin. Nihil. Aku balik lagi ke lorong. Nihil. Nanya tuh ke orang yang ada di sekitar situ. Nihil juga. 

Ya Allah Hp ku di tas. Aku gak bisa hubungin siapa-siapa kecuali diriMu. Hanya Engkau yang sekarang aku punya. Tolong aku Ya Allah, bantu aku. Aku terus sebisa mungkin untuk pasrah, terus dzikir. Gini, nih yang biasanya kemana-mana sendiri, bodo amat dengan siapa pun, jalan cepet, sekarang pergi rombongan. Bingung, akhirnya aku naik tangga. Bingung mau masuk mana. Lantai utama atau lantai 2. Tapi, karena si Bapak panitia menyuruh untuk ke lantai 2, akhirnya naik lagi ke tangga lantai 2. Disana ada ikhwan BAQ juga, aku kenal mereka dari bajunya. Orangnya mah tau lah dia siapa. Dalam hatiku bilang, tanya sama mereka. Tapi, aku tetep jalan. Sambil menghindari ikhwan lain, takut kalau wudhu ku batal. Aku juga menutupi kakiku yang terbuka dengan gamis panjangku. Karena aku bingung, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya sama si ikhwan itu. 

“Kak, dari BAQ kan?”

“Iya, kak”

“Liat akhwat lain, gak pergi kemana? Aku tadi pisah sama mereka”

“Tadi, sih kesana” sambil menunjuk ke pintu masuk lantai 2. “Coba tanya ustadz aja” 

Aku pun menjelaskan ke ustadz, guruku juga. Qadarullah, ustadz itu, Pak Anam namanya, tadi minta nomor Kak Nafi. Di telepon lah ia. Ternyata Kak Nafi masih di kamat mandi. Akhirnya, aku menunggu mereka disana. Maluuuuu. Disana semuanya ikhwan. Aku akhwat sendiri, pake cadar pula, kaos kakiku tertinggal disana. Aku turuninlah gamisku. Ketika adzan berkumandang, aku masih bingung, kata Pak Anam ikuti aja kami. Yowis aku ikuti mereka dari belakang. Astagfirullah, saat itu aku merasa Pak Anam lah satu-satunya jalan yang buat aku bertemu lagi dengan mereka. Sedangkan aku terus berdzikir. Dusta kah aku? Munafik kah aku? Kami pun berpisah, karena tempat ikhwan dan akhwat berbeda. 

“Nanti kamu tunggu aja di sekitaran sini” ucap Pak Anam. 

Masuk ke tempat akhwat, nyari tempat duduk dan bingung mau sholat ashar bagaimana? Kerudungku memang panjang, tapi kakiku kemana-mana. 

“Mba, gak sholat, kan? Ucap seorang ibu yang terlihat mau sholat dan ingin menempati tempat dudukku karena mengira aku berhalangan. 

“Eng… Ng… Nggak bu” dengan gelagapa akhirnya aku mundur ke belakang, gabung dengan yang sedang berhalangan juga. 

Saat itu aku sibuk memikirkan sholat bagaimana. Mau pinjem, ke siapa? Yaudah lah ya nanti juga bertemu sama Kak Nafi. Aku terus lihat ke arah pintu masuk lantai 2. Nihil terus. Sampe akhirnya sholat selesai, aku menunggu Pak Anam dan ikhwan lain lumayan lamaaaaa.

Nah, pas yang ditunggu mulai muncul, ikhwan BAQ itu kok melihat ke arahku dengan tatapan kasihan. Sedangkan aku merasa bodo amat yang penting bertemu Kak Nafi dan barang-barangku. 

“Duh gimana ya? Kamu tunggu di sini aja, ya. Kita mau pergi beli pulsa dulu” kata Pak Anam. 

Dari itulah aku tersadar, Pak Anam gak bakalan bisa menolongku. Kalau pun bisa itu atas izin Allah. Wong semuanya milik Allah. Dunia di atur sama Allah, yang ngasih pertolongan hanya Allah. Tapi, kenapa masih berharap sama selain Allah? Situ sehat? 

Sejak itu, aku sadar. Aku terus berdzikir dengan mulai menyatukan antara hati, akal, dan ruh dalam jasadku. Semuanya milik Allah. Tujuanku saat itu, menunggu orang di depanku yang sedang sholat karena tertinggal, untuk ku pinjam mukenanya. Karena hal yang tidak boleh d tinggalkan adalah SHOLAT. Wallahu a’lam bishowab. 

Bersambung…