Posted in Daily Life

Sebuah Perjalanan

Banyak orang bertanya, kenapa aku memutuskan untuk bercadar. Banyak juga yang berfikir di antara mereka, kalau aku sudah lebih baik. Ya, mungkin dari segi pakaian insyaallah bisa di katakan baik. Tapi, dalam hal perbuatan seperti akhlak belum bisa di katakan baik. Aku masih sama seperti kalian yang sedang berusaha menjadi diri yang lebih baik lagi. Seperti temanku yang pernah berkata, saat ia berkumpul dengan para pengusaha, ketika ia di tanya usaha apa yang sedang di jalankan, ia menjawab usaha untuk menjadi lebih baik, katanya.

Apalagi, sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Sudah memikirkan jodoh. Karena jodoh cerminan diri, pastinya untuk mendapatkan seseorang yang baik kita juga harus berperilaku baik. Bukankah, begitu?

Awal mula aku memakai kerudung, ketika aku duduk di SMP kelas 2. Sebenarnya saat masuk SMP sudah memakai kerudung, tapi di sekolah aja. Di luar sekolah, santai lepas aja. Hehe. Parah, ya. Bahkan, aku tidak peduli dengan pakaian yang serba minim. Rambut di gerai. Layaknya kebanyakan remaja yang suka ada di mall mall gitu, lah. Tapi, untungnya tidak tahu menahu tentang pengecatan rambut, Alhamdulillah rambut tidak pernah di warnai. Nah, saat masuk ke kelas 2 SMP, ada seseorang yang membuat aku berfikir. Memang, kegiatan ku selalu mengaji sekolah agama, tapi aku seperti tidak tahu harus apa dengan diriku sendiri. Akhirnya, karena Allah mengirimkan hidayah untukku lewat seorang lelaki yang notabenenya adik kelas itu, dan aku mau berhijab. Karena, dia pun agamanya bagus. Aku suka sama lelaki itu. Ya, dulu aku masih menganggap kalau pacaran itu ya boleh-boleh aja. Asal gak berlebihan. Salahku juga, aku pacaran. Tapi, bukan dengan lelaki itu melainkan dengan kakak kelas. Entah karena apa aku menerimanya. Sudahlah, tidak usah dibahas. Dengan berubahnya cara berpakaianku, ya aku hanya sebatas berubah penampilan. Tidak dengan berusaha memperbaiki diri. Sampai masuk SMA pun ya kaya gitu-gitu aja. Padahal aku SMA di pondok. Pikirannya cuma gimana caranya biar berprestasi, belajar harus rajin, berperilaku jujur, dll. Di pondok iya pake rok, pakaian rapi, eh di rumah masih pake celana ketat.

Setelah keluar dari SMA tahun 2017, termasuk keluar dari Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, akhirnya aku memutuskan untuk kembali mondok di Jogja, tepatnya di Al-Munawwir. Nah, saat itulah aku berfikir “Bagaimana, ya kalo aku di cadar?” Aku bertanya-tanya juga ke temen cowok yang emang dia pinter agamanya. Dia juga yang jadi saksi perubahanku. Setelah 5 bulan mondok di Jogja, dan tak pernah pulang, aku merasa kok gini-gini aja ya hidupku. Emang, sih niatnya ngafal, tapi kok lingkungan kurang mendukung, jadwal ngaji juga jarang. Bukan karena aku bolos, tapi emang jadwal yang begitu. Malam Minggu sampai malam rabu ngaji, sisanya libur. Siang apalagi, gak ada kerjaan. Karena yang lain kuliah, aku enggak. Jadwal setoran seminggu 2 kali, dan itu pun belum tentu mba nya datang. Pusing, kan? Akhirnya, aku bilang ke Bapak, kalo aku pengen pindah. Alhamdulillah, di izinin.

Aku searching di google, buat nyari pondok. Hasilnya, Alhamdulillah ada. Dan itu gratis. Di Bandung, pula. Tempat yang memang pengen aku kunjungi. Tapi, ada tes masuk bulan Desember. Setelah ikut ujian les di Jogja, aku memutuskan untuk pulang. November.

Setelah lama di Jogja dan kembali ke Banjar, dimana tempat aku tinggal, aku rindu Cipasung. Alhamdulillah, setelah kembali ke Banjar, aku mencoba memakai pakaian yang syar’i, tidak lagi memakai celana ketat seperti yang dilakukan dulu saat pulang liburan pondok.

Karena Bapak peka, Bapak mengantarkan aku ke Cipasung lalu ia silaturahmi ke temannya yang masih sama-sama di Tasik, dan sorenya menjemputku di Cipasung. Karena aku malu datang sendiri sebagai alumni ke Cipasung, aku pakai masker. Bahkan, di kantor asrama aku memanggil Amel, temanku lewat speaker bahwasanya ada doif atau tamu. Amel juga kebingungan saat itu, siapa tamunya. Lalu, aku cepat-cepat narik tangannya, lalu pergi ke kamar Amel. Kami bercerita banyak disana. Tapi, waktuku sebentar. Sore hari aku harus pulang. Di perjalanan, malah kefikiran kok pake masker nyaman ya. Berinisiatif lah aku beli cadar untuk aku pake di Bandung. Sepertinya pakai cadar juga tidak salah, dan pastinya akan lebih mudah mengontrol diri.

Di Bandung, 22 Desember 2017, aku bertemu dengan teman baru dari berbagai penjuru Indonesia. Aceh, Medan, Kendari, Solo, Jogja, dan tentunya Bandung. Saat, ini jugalah aku gak berani pakai cadar. Karena, disini banyak juga yang memakai cadar. Mereka semua pakai kaos kaki, baik yang bercadar atau tidak. Sedangkan aku, bawa kaos kaki satu. Duh, nggak sekarang lah pakenya. Aku hanya memerhatikan mereka yang bercadar. Selama 3 hari dimana kami di tes sejauh mana kemampuan kita menghafal bukan seberapa banyak yang sudah kita hafalkan. Baru 3 hari mengikuti program disana, aku udah stres. Tapi, niatnya kalau emang di takdirkan di Kuntum, pondok yang mengadakan tes tahfidz ini, aku harus berusaha. Tapi, kalau tidak pun ya Alhamdulillah. Setelah waktu habis, teman-teman dari kamar Madinah yang aku tempati ini berencana ikut kajian Ust. Adi di Trans Studio Bandung. Aku pun gak mau ketinggalan kesempatan ini. Karena pasti akan membludak jamaahnya kita bagi 2 rombongan, karena banyak barang bawaan. Rombongan pertama langsung ke masjid TSB, sedangkan rombongan ke-2 ke rumah Kak Dini di Buah Batu, Bandung. Aku lebih memilih ke rumah Kak Dini. Ojek online yang di pesan dari daerah Cipatik ini lumayan sulit. Kami juga membawa koper-koper banyak. Alhasil, kita sewa angkot ke Buah Batu. Kita juga meminta kepada rombongan yang ada di masjid supaya di barisan depan, kalau tidak, kami akan hanyutkan barang-barang kalian, kata Kak ST dari Kendari yang ikut rombongan kami ke rumah Kak Dini.

Di rumah Kak Dini-lah, tanggal 25 Desember 2017, sore hari saat mau pergi ke kajian aku mencoba untuk menggunakan cadar. Karena, aku sudah membeli kaos kaki di stand Kuntum. Yeaaaaaaay. “Aku mau coba pake cadar, ah” aku menginformasikan ke teman-teman yang ada di sana. Di sana juga ada Kak Firda dan Kak ST yang memakai cadar. Pake aja, aku juga awalnya coba-coba, Get, kata Kak ST. Baiklah, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, mulai hari ini aku pakai cadar.

Keesokan harinya aku baru meminta izin Bapak lewat chat WhatsApp. Alhamdulillah, di kasih izin. Ah ternyata semudah ini aku mendapatkan izin. 26 Desember 2017 kita bermalas-malasan di rumah Kak Dini sampai akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke Pasar dan dilanjutkan nonton Ayat-ayat Cinta. Sedangkan tanggal 27, berkeliling Kota Bandung. Saat itu juga pengumuman tes tahfidz sudah ada di WA. Ternyata, teman-teman yang ikut rombongan main sama Kak Dini banyak yang diterima. Tapi, sayang, Kak Rahmi dan Kak Aisyah gagal. 28 Desember kita berangkat juga ke Bekasi. Mengikuti kajian Ust. Adi Hidayat, Lc, MA, di daerah Jakasatia. Kita datang terlalu cepat. Ba’da Maghrib dimulai, ba’da Dzuhur kita sudah datang. Akhirnya kita di sambut dengan oleh pihak pengurus DKM, kami di beri makan siang juga tempat untuk beristirahat di tempat akhwat. Setelah selesai kajian, pun kami di beri makan malam. Saat kita santap malam, Kak Rahmi bercerita, bahwa dirinya tadi bertemu dengan santri tahfidz yang mondok deket dari sini, sekitar 5 menit menggunakan kendaraan. Pondok-nya gratis juga. Karena aku juga penasaran, aku memutuskan untuk survey bersama Kak Rahmi, Kak Aisyah, Kak Nurul dan juga Kak Radhiah.

Keesokan harinya, jadwal kita untuk pulang ke tempat masing-masing. Sebelum pulang, aku survey dulu ke Yayasan Bait Ahlil Qur’an. Cukup nyaman untuk menghafal, targetnya juga tidak sulit, biaya gratis, bisa ikut kajian, dan sepertinya cocok untukku.

Bismillah, aku memutuskan untuk mondok di Bekasi.

Advertisements
Posted in Daily Life

Ke-10 di Tanggal 10

Bunga tidur. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Aku pernah membaca katanya kalau sering bermimpi, termasuk orang kreatif atau mempunyai tingkatan imajinasi yang tinggi dan ada juga yang mengatakan kalau mimpi itu hasil dari apa yang sering kita bayangkan. Tapi, yang pasti mimpi itu datang dari Allah sebagai petunjuk atau dari syetan. Namun, apa jadinya jika seseorang selalu muncul di dalam mimpiku? Ya, ini sudah yang ke sepuluh kalinya dia hadir dalam mimpiku setelah aku mulai menghitungnya, sebelum ku hitung pun dia sudah selalu hadir di mimpiku. Apa artinya?

Dia hanyalah seorang sahabatku, walaupun aku pernah menyimpan rasa. Mungkin itu hanya rasa sebagai sahabat. Kita sering berbincang bahkan setelah kita berpisah. Tidak sama sekali berkomunikasi. Hanya saling lihat story itu pun saat aku di bagi hp. Ah tentang mimpi itu aku seolah senang bisa bertemu dengannya. Sering kali mimpi itu saat kita bersekolah. Saat aku berdiskusi dengannya. Pernah juga saat itu dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Namun saat itu juga aku terbangun. Harus tersadar kalau hidup kembali di dunia nyata. Padahal aku masih merindukannya. Atau saat dia mengajakku ke rumahnya untuk belajar SBMPTN bersama dan pakaian yang di kenakan sama seperti ketika bimbel. Kaos biru berlengan pendek lengkap dengan sarung dan tas backpack hitamnya. Seperti biasa kau membawa plastik minuman es. Atau saat aku makan denganmu. Atau saat aku menanyakan tentang cara tali temali bendera merah putih. Semua itu seolah nyata. Dia pun hadir di mimpiku, aku hanya bilang “Kita sahabat” dan aku memegang tanganmu erat seolah tidak ingin lagi kita berpisah.

Dan terakhir, dia hadir begitu lama dalam mimpiku. Nampaknya makin segar. Aku pun bertanya “Apakah kamu pernah bermimpi seseorang yang terus menerus secara kontinyu hadir dalam mimpimu?”. “Pernah” jawabmu. “Siapa?” tanyaku. “Ah tak usah kau jawab” ku katakan lagi. Saat itu pun aku terbangun.

Aku rindu mendengar keluh kesahmu. Aku rindu mendengar pendapat yang bijak darimu, aku rindu berdiskusi denganmu. Aku rindu . Sampai kapan rindu ini terus terkubur? Belum sampaikah waktu kita untuk bertemu. Malam kelam sudah berlalu diganti siang. Tapi tanda hadirmu belum juga datang.

Posted in Daily Life

Fetti Lestari, CEO Muslim Wedding Organizer

Sudah sekian lama aku mendambakan punya bisnis Wedding Organizer dan sebab perbincangan mimpi inilah dan di tambah obrolan hangat mengenai Band favorit, aku dengan salah satu teman kelasku saat kelas X menjadi akrab. Temanku juga bermimpi punya bisnis distro. Keasyikan itu pun berlanjut ke pembuatan katalog. Dimana dalam katalog dia ada aku, di katalog aku ada dia. Asyeeeeek. Btw dia nya itu cowo pemirsa.  

Karena ada mimpi harus ada action, bermulailah aku menjadi tukang make up. Dari kecil aku emang selalu senang memakai make up, kerudung ala-ala hijabers. Bahkan sebelum marak tutorial hijab di sosial media dan umurku masih 6 tahun artinya aku kelas 1 SD, aku dandan sendiri di kamar dengan modal semuanya punya mamah. Make up kit yang bertingkat dari Pond’s berbentuk hati dan isinya udah komplit. Ada bedak, spons, eye shadow warna-warni sampe warna hitam pun ada, blush on, lipgloss, dan dulu itu aku udah tau namanya apa, kegunaannya untuk apa. Karena, sering liat Mamah. Tapi, Mamah juga jarang pake, sih. Abisnya make up itu pun, gara-gara tingkah aku. Nyampe berlubang lah si lipgloss dan eye shadow nya. Setelah di make up, lanjut ke tutorial kerudung. Ingat sekali waktu itu kerudungnya pemberian dari orang lain entah siapa dan aku ngerasa itu kerudung paling bagus yang aku punya dan kesayangan banget.

Kelas 3 SD aku di haruskan pindah kota dari Tasikmalaya ke Banjar, aku sedih. Karena aku gak bakalan lagi pake make up dan segala macem. Soalnya aku pemalu, dan aku pun rumahnya masih numpang di rumah bibi. Dari situlah aku berhenti memakai make up sendiri tapi sering di make up-in sama ibunya Vina, tetangga kami dikarenakan harus naik panggung di acara maulid nabi atau Isra Mi’raj dari Madrasah Diniyah. Tempatnya di belakang rumah. Aku seringnya jadi vokalis qasidah saat itu. Penasaran suaraku kaya apa? Bikin pecah gendang telinga orang kali, ya. Lagu yang ku hafal dulu pun banyak. Biasanya bawain lagu Selamat Datang, Bismillah, Mars MDA, Masa Remaja dll. Yang kebanyakan itu lagu qasidah dari grup Al-Manar atau Nasida Ria. Sekarang udah lupa dan gak pernah ikutan acara itu lagi di kampungku. Nanti lah insyaallah bagian ngisi ceramahnya.

Masuk SMP kegiatan yang aku geluti melilitkan kerudung di kepalaku. Haha. Kalo di lihat fotoku pas SMP ya seringnya pake kerudung kaya gitu. Ala-ala hijaber, kecuali acara dengan temen-temen dan sekolah pastinya.

Di SMA, karena youtube udah bisa di akses di mana aja meskipun di pondok, aku sering liat tutorial hijab dan make up juga. Sampe benar-benar tau nama-nama make up yang bagus. Aku sering liat beauty vlogger, favoritku adalah Nanda Arsyinta. Kalo berkerudung, beuuuh makin cantik dia. Tambah hafal quran, mantap tap tap, masya Allah pokoknya. Pas ultah dia yang entah ke berapa dan dia mengadakan give away aku juga ikutan. Dimana give awaynya itu membuat tutorial make up dengan cara upload hasil tutorial make up ke ig atau upload video tutorial ke Youtube. Karena aku juga udah nyicil beli make up, kenapa gak coba aja gitu. Walaupun gak menang. Dari itulah muncul ide buat nanti perpisahan aku make up sendiri. Soalnya sayang kalo di make up dari salon bayar mahal sedangkan aku perpisahan 3x. Perpisahan sekolah, perpisahan pesantren dan perpisahan asrama. Perpisahan pesantren pun ada dua acara. Siang dan malam. Jadilah, aku minta uang ke ortu buat beli make up seharusnya uang buat nyalon.

Parahnya lagi orang-orang percaya kalo aku bisa make up. Perpisahan sekolah, aku dandanin 2 orang, 3 orang sama aku. Perpisahan pesantren dandanin 4 orang, geng aku semua. Harusnya 7 orang, karena 2 orang ikut MC dan panitia, jadi make up nya beda, nah 1 orang lagi denger dari orang katanya kecewa sama make up ku. Ya iyalah bukan ahli, gue coyyy. Hahaha. Nah, perpisahan pesantren acara malemnya, make up ku di simpan di tengah ruangan di temani cermin di sisi kiri dan kanan dan kita ber-8 sibuk make up sendiri-sendiri sambil sibuk bertanya urutan make up dan cara pake. Konyol sekali memori itu. Untuk perpisahan asrama aku hanya pake lipstik aja soalnya sayang kalo di make up. Kenapa? Karena banyak acara nangis, sambil salaman se asrama dengan jumlah santri ± 300 santri putri. Habislah air mataku, benih-benih mutiara.

Oh ya, waktu aku dandanin orang itu (perpisahan pesantren), disana ada mama nya temenku. Innalillahi nya di puji  saat itu. Kok bisa tau itu namanya, kegunaannya, makenya juga bagus. Katanya. Beliau juga doain aku biar bisa punya WO. Aamiin. Dan anaknya memesan nikah ala-ala india. Yang punya nya aja pengen ala india, hehe. Doain ya kawan-kawan, nanti, Fetti Lestari mempunyai Muslim Wedding Organizer. Aamiin.

Posted in Daily Life

Terpisah di Istiqlal 

Acara yang sudah di nanti-nantikan para Ikhwan dan Akhwat BAQ akhirnya sudah di depan mata. Minggu pagi, ba’da shubuh pergi ke masjid untuk ta’lim. Sekitar pukul 6, kita pulang. Tapi, pas banget bersiap untuk sarapan pagi, Kak Lala menyuruhku untuk kembali ke masjid lagi buat ngqji kitab tafsir. Akhirnya gak jadilah kami makan. Aku langsung bersiap-siap pergi ke masjid, lagi. Jam 9 baru keluar dari masjid. Kemudian, sarapan yang sempat tertunda. Jadwalku hari ini juga harus nyuci. Mandi juga belum. Sayang juga hari ini pesanan baju buat pergi ke acara Hari Qur’an di Istiqlal belum nyampe. Yowis aku pake jubah item ini. Tapi, jam 11.30 setelah makan siang aku di panggil Dini buat ngambil baju di Kak Muna, asrama lama. Dengan alasan Kak Muna sakit. So, gak bisa ikut acara. Alhamdulillah banget, tuh akhirnya aku pake baju samaan. 

Ba’da dzuhur kita kumpul dan naik bis di satukan dengan ikhwan juga. Jam 13.21 bis kita baru berangkat dan terjebak macet. Nyampe kesana sekitar 14.30. Masya Allah masjid terbesar se-Asia dengan di depannya ada Katedral. Yang menunjukkan toleransi yang nyata, dan aku baru pertama kalinya ke sini. Disana udah penuh banget. Aku ngikutin aja rerus Kak Ju sama Kak Lala. Sampe di batas suci, kita copot sandal dan di masukkan ke kantong plastik yang udah aku siapkan sama Kak Ju. Di simpan lah sandalku ke dalam kantong plastik dan membawanya. 

Lalu, kita ke tangga. Eh, tanganku ada yang megang. Kak Hasna, kok bukan siapa-siapa. Tanganku di tarik, tuh sama Kak Hasna. 

“Ayo wudhu dulu. Nanti penuh”

“Eh yang lain udah pada ke atas. Tapi, aku juga mau wudhu lagi, sih” kataku. 

Akhirnya, aku pisah sama mereka, teman sekamarku. Fyi, Kak Hasna ini anak asrama lama. Aku pun berwudhu bareng Kak Hasna, Kak Nafi, Kak Halimah dan Kak Lusi. Masuk lorong. Langsung, barang-barang, termasuk kantong plastik sandal, tas dan kaos kaki. Kak Nafi dan Kak Hasna bagian jaga, yang lain ke kamar mandi tapi, aku ke tempat wudhu. Karena aku gak melihat lagi mereka di depanku. Okelah aku cepet-cepet jalan ke tempat wudhu. Aku ikutin yang di depan karena gak tau apa-apa. Pulangnya, aku nyampe nyasar gara-gara lupa jalan pulang. Setelah itu, berhenti di lorong. Seeeeet!!! Zonk!!! Blas gak ada yang aku kenal. Orang atau pun barang. Huwaaaaaa  kalo gak inget sama Allah, rasanya aku pengen nangis dah. Aku panik, dong. Hp, dompet semuanya ada di tas. Sedangkan tasku ilang. 

Serahin semuanya ke yang Maha Punya. Kataku dalam hati. Aku langsung dzikir terus, antara panik dan tenang juga, sih. Aku cari ke bagian kiri, gak ada. Pas liat pos informasi, pintunya di tutup. Makin panik lah aku. Terus mencoba pasrah. Semua orang aku liatin. Nihil. Aku balik lagi ke lorong. Nihil. Nanya tuh ke orang yang ada di sekitar situ. Nihil juga. 

Ya Allah Hp ku di tas. Aku gak bisa hubungin siapa-siapa kecuali diriMu. Hanya Engkau yang sekarang aku punya. Tolong aku Ya Allah, bantu aku. Aku terus sebisa mungkin untuk pasrah, terus dzikir. Gini, nih yang biasanya kemana-mana sendiri, bodo amat dengan siapa pun, jalan cepet, sekarang pergi rombongan. Bingung, akhirnya aku naik tangga. Bingung mau masuk mana. Lantai utama atau lantai 2. Tapi, karena si Bapak panitia menyuruh untuk ke lantai 2, akhirnya naik lagi ke tangga lantai 2. Disana ada ikhwan BAQ juga, aku kenal mereka dari bajunya. Orangnya mah tau lah dia siapa. Dalam hatiku bilang, tanya sama mereka. Tapi, aku tetep jalan. Sambil menghindari ikhwan lain, takut kalau wudhu ku batal. Aku juga menutupi kakiku yang terbuka dengan gamis panjangku. Karena aku bingung, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya sama si ikhwan itu. 

“Kak, dari BAQ kan?”

“Iya, kak”

“Liat akhwat lain, gak pergi kemana? Aku tadi pisah sama mereka”

“Tadi, sih kesana” sambil menunjuk ke pintu masuk lantai 2. “Coba tanya ustadz aja” 

Aku pun menjelaskan ke ustadz, guruku juga. Qadarullah, ustadz itu, Pak Anam namanya, tadi minta nomor Kak Nafi. Di telepon lah ia. Ternyata Kak Nafi masih di kamat mandi. Akhirnya, aku menunggu mereka disana. Maluuuuu. Disana semuanya ikhwan. Aku akhwat sendiri, pake cadar pula, kaos kakiku tertinggal disana. Aku turuninlah gamisku. Ketika adzan berkumandang, aku masih bingung, kata Pak Anam ikuti aja kami. Yowis aku ikuti mereka dari belakang. Astagfirullah, saat itu aku merasa Pak Anam lah satu-satunya jalan yang buat aku bertemu lagi dengan mereka. Sedangkan aku terus berdzikir. Dusta kah aku? Munafik kah aku? Kami pun berpisah, karena tempat ikhwan dan akhwat berbeda. 

“Nanti kamu tunggu aja di sekitaran sini” ucap Pak Anam. 

Masuk ke tempat akhwat, nyari tempat duduk dan bingung mau sholat ashar bagaimana? Kerudungku memang panjang, tapi kakiku kemana-mana. 

“Mba, gak sholat, kan? Ucap seorang ibu yang terlihat mau sholat dan ingin menempati tempat dudukku karena mengira aku berhalangan. 

“Eng… Ng… Nggak bu” dengan gelagapa akhirnya aku mundur ke belakang, gabung dengan yang sedang berhalangan juga. 

Saat itu aku sibuk memikirkan sholat bagaimana. Mau pinjem, ke siapa? Yaudah lah ya nanti juga bertemu sama Kak Nafi. Aku terus lihat ke arah pintu masuk lantai 2. Nihil terus. Sampe akhirnya sholat selesai, aku menunggu Pak Anam dan ikhwan lain lumayan lamaaaaa.

Nah, pas yang ditunggu mulai muncul, ikhwan BAQ itu kok melihat ke arahku dengan tatapan kasihan. Sedangkan aku merasa bodo amat yang penting bertemu Kak Nafi dan barang-barangku. 

“Duh gimana ya? Kamu tunggu di sini aja, ya. Kita mau pergi beli pulsa dulu” kata Pak Anam. 

Dari itulah aku tersadar, Pak Anam gak bakalan bisa menolongku. Kalau pun bisa itu atas izin Allah. Wong semuanya milik Allah. Dunia di atur sama Allah, yang ngasih pertolongan hanya Allah. Tapi, kenapa masih berharap sama selain Allah? Situ sehat? 

Sejak itu, aku sadar. Aku terus berdzikir dengan mulai menyatukan antara hati, akal, dan ruh dalam jasadku. Semuanya milik Allah. Tujuanku saat itu, menunggu orang di depanku yang sedang sholat karena tertinggal, untuk ku pinjam mukenanya. Karena hal yang tidak boleh d tinggalkan adalah SHOLAT. Wallahu a’lam bishowab. 

Bersambung…

Posted in Daily Life

Curcol Rindu Komorebi 

Jum’at, 26 Januari 2018

Assalamualaikum! 

Kamis, jum’at di pekan 1 dan 3 ini mungkin akan banyak muncul tulisanku. Karena, di tempat yang baru, peraturan juga baru pastinya. Apa kabar para pembaca Komorebi ku semua? Masih setia dengan Komorebi, kan? 

Sedikit curhat, kalo gak mau baca, lanjut aja ke paragraf selanjutnya. Eh, tapi, kayanya bakalan curhat semua. 

Di hari jum’at yang mendung ini, aku baru punya waktu buat mikir dan nulis kek gini di Bujo ku. Yang biasanya buat diary, aku ubah jadi sedikit lebih keren ke Bujo. Alias Bullet Journal. Gatau? Ke mbah google dulu aja lah ya sono, hehe. Walaupun gak se-aesthetic yang lain. 

Hari selasa kemarin (23/1) sebenarnya aku udah sibuk dengan setoran ke umi. Tapi, masih binnadzor (melihat). Tidak ada waktu selain dengan Al-qur’an. Sesekali mungkin hanya bercerita dengan teman-teman yang lain, dan mengerjakan pekerjaan pribadi. Untuk hari jum’at, sabtu, dan minggu kosong. Pagi ada ta’lim, sih. 

Sebenarnya aku pengen nonton Dilan. Serius. Katanya disini boleh, sih keluar. Di Grand Mall juga ada Cinema. Tapi, harus izin ke umi. Nah, permasalahannya aku harus izin apa ke Umi. Gitu. Pengen beli buku juga. Oh iya, rekomendasiin buku yang bagus, dong. Komen ya. Gabut syekali aku ini pengen baca buku. 

Okay good bye. 

Thanks 

Terimakasih 

Syukron 

Hatur nuhun. 

Posted in Daily Life

Petjah Celengan Rindu

Jum’at, 19 Januari 2018 yang artinya itu hari kemarin, aku dadakan pergi ke Tasik bareng Uwa yang lagi berkunjung ke Banjar. 

Malam harinya, aku kepikiran buat pergi ke Cipasung untuk bertemu temen-temen. Yang cukup banyak alumni yang hadir. Bertiga, sih setauku. Tiari yang datang dari Karawang, Mba Vira dari Jombang dan Shabrina dari Bangka. Tapi, aku masih bimbang soalnya besok harus pergi lagi buat Tholabul ‘ilmi dan belum prepare apa-apa. 

Di pagi hari yang cerah dan dingin di Tasik ini, membuat aku untuk segera memutuskan pergi ke Cipasung. Aku kabarinlah Mba Vira buat ketemu dan jangan dulu pergi. Trus aku juga buat instastory “Cipasung” yang mengundang banyak perhatian dari netijen. Azeeek dah udah kek presenter. 

Tiba di Cipasung sekitar jam 8an. Langsung masuk asrama Al-Uswah dan di sambut heboh sama anak-anak. Alhamdulillah pintu asrama terbuka lebar untuk alumni. Sayangnya, aku gak ketemu sama Amel, Kiki dan Shabrina. Karena mereka masih di Brebes acara pernikahan Teh Ulfah. Alhamdulillah masih ada Neneng, Anjani, Erna, Tia, dan tentunya Mba Vira sama Tiari. Kita pun ngumpul di kamar 19, kamarnya Alifah, adiknya Mba Vira. 

Awalnya mereka merencanakan pergi ke Galunggung, ngajak aku juga. Tapi, keputusanku udah bulat untuk tidak ikut. Karena pasti kesorean. Aku ajak aja mereka buat makan-makan sebelum ke Galunggung. Tiba-tiba cuaca tidak mendukung, ujan. Rencana ke Galunggung pun mereka batalkan. Setelah bernegosiasi destinasi selama 2 jam dan sisanya ngobrolin baju dan itu sangat menghabiskan waktu sekali, akhirnya kita pilih Popular Studio buat foto. Kita udah siap jam 11, dan menunggu ojek online tapi tidak muncul, akhirnya kita pilih naik angkot. 

Ini beberapa hasil foto di Popular Studio yang worth it banget. Cocok buat kita yang suka bingung sama gaya, nanti si aa nya bakalan ngarahin gitu. Cielah si aa. Haha. Bayarnya juga murah banget. Cuma 10k per orang, kalo mau di cetak cukup menambah 5k.

Kita juga dapet sesi per orangan. Si aa nya keren dah bisa ngarahin kita. Trus gayanya juga bagus bagus. 

Abis puas dengan foto-foto kita sholat trus makan siaaaaang. Setelah itu jalan-jalan gak karuan di Asia Plaza, eh kebetulan ada UGM fair gitu. 

Butuh sandaran banget.

Mba Vira💕

Di perjalanan pulang, mau ke pintu keluar kita ketemu sama Bu Ina. Gak sengaja banget. Ada Teguh sama Eza juga, temen sekelas, Akson. 

Setelah itu ya kita pulang. Aku pulang juga ke rumah bareng Mba Vira ku yang cantik syekalih. Hahaha. 

Sebenernya aku nerusin nulis, karena kemarin aku gak bisa lanjut cerita. Sekarang udah di bis lagi aja. Nyari ilmu lagi. Do’akan aku ya teman-teman. 

Wallahu a’lam bishowab 

Syukron. 

Posted in Daily Life

3 Hari Menjadi Santri Luar Biasa

Tanggal 22 Desember 2017 bertepatan dengan Hari ibu, aku berangkat ke Bandung. Ini untuk pertama kalinya aku pergi dari rumah ke tempat tujuan sendirian. Biasanya ke Tasik juga tidak pernah sendiri, tapi mungkin ini sudah saatnya aku harus bener-bener mandiri. Harus terbiasa kemana-mana sendiri.

Aku tiba di Stasiun Cimahi sekitar jam 2. Sholat trus pesen ojek. Cukup lama mencari si driver, padahal dia ada di sebrang, karena dia ga pake jaket ciri khas nya ojek online, aku di buat bingung.

Setibanya di Yayasan Kuntum Indonesia, tepatnya di jl. Babakan, Cipatik, Cihampelas Kab. Bandung Barat, aku melakukan registrasi calon santri Kuntum Angkatan 8 dan administrasi untuk uang makan selama 3 hari ke depan. Kemudian aku langsung di antarkan ke kamar yang di namakan Madinah. Di sana sudah ada 2 orang yang mengikuti tes sepertiku juga. Mereka adalah Kak Radhiah dan Kak Nurul dari Aceh. Masya Allah mencari ilmu butuh perjuangan banget ya. Setelah beberapa lama kemudian makin banyaklah orang yang berdatangan. Ada yang dari Bogor, Tegal, Kalimantan, Sulawesi, Jogja, Bandung, Bekasi, Medan, dan kota-kota lain.

Malam harinya kita di suruh berkumpul untuk di berikan pengarahan dan juga mengumpulkan handphone dan alat elektronik lainnya juga buku bacaan. Setelah itu kami di suruh tidur tepat jam 9. Karena kami harus bangun jam 1. Alhamdulillah bangun jam 1 kurang 1 menit, dan ngerasa badan seger banget, walaupun tidur harus berdempetan. Udara di Bandung sangat sangat dingin. Udah kaya di musim salju pokoknya nya mah. Tapi sebenarnya aku belum pernah merasakan musim itu. Bodo amat.

Jam 1 sudah mulai kegiatan, dimulai dari sikat gigi, berwudhu, dan Qiyamul Lail sampai waktu sholat subuh, kemudian piket sesuai jadwal dan membersihkan diri kemudian di wajibkan untuk sholat dhuha. Sekitar jam 8 kita dikumpulkan di masjid untuk pembukaan dan dilanjutkan dengan Tes tulis. Tes masuk santri baru di sini ada beberapa jenis. Pertama tes tulis, baca qur’an, tes hafalan 1 selama 30 menit 1 lembar dan tes hafalan 2 selama 1 hari 2 lembar, dan terakhir ada interview.

Tes tulis, baca qur’an dan tes hafalan 1 dilakukan di hari pertama, 23 Desember 2017. Tes tulis ini materinya menyangkut tahsin/tajwid, wawasan keislaman, tentang qur’an. Kemudian baca qur’an yang di uji oleh Musyrifah (Kuntum Angkatan 7) sesuai halaqah (Kelompok) masing-masing. Musyrifah ini adalah santri yang sedang mengabdi. Karena program di Kuntum ini adalah menghafal selama 6 bulan dan 6 bulan lagi untuk mengabdi sambil Muroja’ah juga, dengan biaya gratis. Hanya saja harus memenuhi syarat yaitu sudah lulus SMA dan tidak boleh sambil melakukan kegiatan apapun kecuali fokus dengan hafalan di Kuntum.

Yang paling deg-degan itu ya tes hafalan. Apalagi ini cuma ngafal selama 30 menit. Boleh sih gak selembar, semampunya kita tapi aku merasa di kejar waktu aja gitu lho. Sambil ngafal, sambil menenangkan diri aja gitu kan, tenang tenang kamu pasti bisa. Gitu. Ya alhamdulillah bisa. Walaupun tidak 1 lembar. Dan itupun aku salah ngafal. Seharusnya halaman sekian nah aku halaman ini. Karena qur’an ku beda 1 nomor halaman dengan musyrifah. Tapi alhamdulillah musyrifah nya baik jadi no problem. Ba’da ashar baru pengumuman untuk tes hafalan 2. Dari waktu itu semuanya sibuk. Sibuk. Yang biasanya ketika setelah makan bercengkrama dengan teman-teman, saat ini tidak. Setelah makan, ambil wudhu langsung mencari tempat ternyaman buat ngafal. Gitu tetus sampe malem. Malem yang biasanya tidur langsung tidur aja ini enggak. Semua pegang qur’an di kasur. Nyampe tidur pun tetap qur’an ada di pelukan. Pokoknya waktu itu adalah waktu berduaan bersama Al-qur’an.

Tibalah di hari ke-2, seperti biasa jam 1 bangun. Biasanya di hari kemarin setelah selesai sholat menunggu adzan subuh diisi dengan tidur, saat ini engga. Ga ada sama sekali santri yang tidur saat ini. Yang ada hanya ngafal terus ngafal. Ada juga yang kerjaannya bolak balik tempat wudhu buat ngilangin rasa kantuk. Semuanya sibuk. Dengan Al-qur’an. Jam 8 sudah di mulai pengetesan. Uh keringat dingin muncul dan aku berusaha tenang. Masalahnya aku baru ngafal 1 lembar dan itu pun belum lancar, yang 1 lembar lagi belum sempat di apa-apain. Belum di baca. Apalagi di hafal. Untungnya musyrifah meringankan beban kita dengan cara boleh terus setor sebelum 2 lembar sampai jam 11.30.

Tapi nyatanya, aku belum bisa. Aku setor dua kali dengan setoran pertama 1 halaman lebih dan setoran kedua sisanya. Totalnya 1 lembar. Aku berusaha mau nambah lagi setoran dengan minimal 7 baris. Tapi gak bisa. Bener-bener gak bisa. Mungkin gara-gara terlalu di tekan buat terus hafal, sedangkan hafalan yang tadi aja udah lupa. Hafalan gak mutqin. Gak kuat. Cuma mengandalkan mengejar 30 juz. Aku gak bisa bayangin kalo aku lolos. Dari sini aku udah pasrah aja sama Allah. Kalo Allah ngasih aku jalan ini, berarti Allah tau kalo aku mampu di sini dan aku berhak disini. Walaupun ada sedikit keraguan untuk masuk sini.

Setelah tes selesai, kita masuk kamar masing-masing dan mulai sedikit akrab lagi. Tertawa seperti biasa lagi. Haha hihi lagi. Anehnya kita malah membicarakan betapa anehnya kita tadi. Ngobrol cuma nanya udah berapa halaman?, udah maju belum? Doain aku ya. Gitu aja percakapan tadi. Tapi sekarang bercerita banyak. Apalagi setelah interview selesai, sekitar sebelum ashar, Kak ST yang bernama asli Sitti Khadijah N, berasal dari Kendari, Sulawesi Selatan, bercerita tentang tadi interview. Masya Allah parah emang beliau tuh.

Berikut percakapan antara Kak St (👧) dengan Musyrifah (👩).

👩 : Bagaimana seandainya jika kamu tidak di terima di sini?

👧 : Oh ustadzah jangan bilang seandainya, saya tidak mau ada kata seandainya. Nanti tiba-tiba ada malaikat lewat, mati aku. Saya jauh-jauh dari Sulawesi datang kesini ya harus d terima

*kurang lebih percakapan seperti itu

👧 : Di sini kan ada kegiatan memanah, apakah setiap cabang Kuntum ada kegiatan itu?

👩 : Hanya sebagian yang ada kegiatan memanah, ada yang 2 minggu sekali ada juga yang tiap hari.

👧 : Oh kalau begitu ya saya harus di tempatkan di tempat yang memanah setiap hari ya ustadzah. Karena tujuan saya menghafalkan Al-quran dan juga memanah, ustadzah.

Masya Allah dia emang perempuan jujur nya kebangetan. Kita yang interview aja jawabnya jujur biasa aja. Lah ini, kocak. Nyampe drngan polosnya bilang alasan masuk Kuntum kenapa karena GRATIS. Dia bilang gitu. Hebat kan, temanku. Hahaha.

Masya Allah nya lagi, mereka itu ah Subhanallah pokoknya. Sholehah semua. Akhlaknya di jaga, auratnya tertutup sempurna. Masya Allah.

Hari terakhir ini sebenarnya diisi dengan interview karena saat pendaftaran secara online, santri yang mendaftar sekitar 160 lebih sedangkan yang datang cuma 61. Jadi di hari terakhir ini sebenarnya tinggal nunggu penutupan aja sih. Dan pulaaaaang. Yeah.

Tapi, karena aku ada janji sama temen-temen baru untuk menghadiri kajian Ust. Adi Hidayat jadinya aku gak langsung pulang.

Entah kenapa pas penutupan kok rasanya sedih yak. Berasa kehilangan banget. Berasa kita berteman udah lama padahal cuma 3 hari. Masya Allah seneng ya berteman dengan orang-orang sholehah. Syukron antunna yang sudah mau berteman denganku, barakallahu fiikum.