Posted in Bloggers' Challenges

#BC71 : Semangat, Aku Butuh Kau Kembali

Tulisan ini di buat untuk menyelesaikan tantangan dari Bloggers’Challenge yang ke-71 dari Kak Syirah dengan topik “Hal-Hal yang membuat  bersemangat”.
Jenuh selalu saja dirasakan oleh setiap orang ketika kegiatan yang dilakukan sudah tidak menarik lagi atau di sebut dengan bosan. Maka dari itu setiap orang memilih kegiatan refreshing agar rasa bosan bisa sedikit terobati. Seseorang perlu sekali melakukan kegiatan refreshing. Tapi, ada juga seseorang yang tidak punya waktu untuk melakukan refreshing atau bahkan enggan melakukan refreshing karena itu di bilang hanya menghabiskan waktu.

Kegiatan refreshing seseorang pun berbeda-beda. Contohnya saja aku, aku cukup sederhana. Hanya dengan melihat matahari di pagi hari atau saat terbenam, aku bahagia. Karena hakikat dari refreshing cuma menciptakan bahagia. Ya, bahagia itu diciptakan. Apalagi kalau melihat komorebi. Itu bukan blogku. Cahaya yang berusaha menembus antara dedaunan di pagi hari yang menyilaukan mata. Itulah salah satu alasanku kenapa selalu berdiam diri di balkon. Tapi, tempat ini menurutku kurang strategis. Cahaya matahari yang terbit tidak masuk ke balkon. Alhasil aku hanya bisa melihat cahaya keemasan itu menyinari pepohonan di depanku  dari arah samping bangunan ini. Ketika matahari terbenam, cahayanya terkadang memanggilku untuk keluar. Ia menyapanya dengan warna orange itu masuk ke kamar. Aku selalu menikmati cahaya itu. Ya, aku suka itu. Seseorang pernah bertanya. Kalau wisata tempat mana yang kau sukai? Gunung, pantai, hutan? Alam jawabku. Itu semuanya alam laaah, katanya sewot. Aku sedikit berfikir iya juga. Berpikir lagi dan menjawab “Asalkan ada cahaya matahari aku suka”. Dasar Komorebi, sahutnya sambil mendelik. Tapi, karena di malam hari tidak ada cahaya matahari dan kelip lampu dikejauhan pun tidak terlihat, aku selalu bosan. Waktu menghafal pun di agendakan malam hari, karena siang di pakai untuk setoran. Rasa kantuk selalu saja hadir, kesal karena gak hafal-hafal pun sering saja ada. Aku, punya cara tersendiri untuk mengobatinya selain dengan berwudhu.

Pertama, minum matcha. Ini kesukaanku, untungnya sekarang Matcha hadir dalam kemasan instan dengan harga terjangkau. Chocolatos Matcha. Gak bisa pindah ke lain hati selain Matcha. Matcha itu menurutku minuman paling enak, dan menenangkan.

Kedua, air putih. Kalau stok matcha ku habis, dan belum sempat beli, air putih lah andalannya.

Ketiga, terkahir nih. Ini kalau emang bener-bener gak fokus, ngantuk berat tapi udah harus mencapai 3/4 halaman. Walaupun terlihat mudah menghafal 1 halaman, caraku menghafal adalah dengan mengulangnya lebih dari 20x jadi ya lumayan membuatku serak, dan waktu yang di butuhkan cukup lama. Biasanya untuk ¼ halaman saja membutuhkan waktu ± 30 menit. Sesuai kesulitan. Kalau sudah seperti itu, tidur adalah obat, dengan tidak lupa membaca Surah Al-Mulk. Kawan-kawan semua jangan lupa membaca Al-mulk nya sebelum tidur bukan baca dongeng. Hehe. 

Salam Komorebi

Salam lestari;)

Advertisements
Posted in Bloggers' Challenges

#BC69 : Salam Rindu dari Fetty 

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan Bloggers’Challenges yang ke-69 dari Roby dengan topik “Perpisahan”. Kali ini aku buat dalam bentuk puisi. 
Semalam, aku bermimpi 

Saat itu aku dibawa ke masa putih abu-abu lagi

Memakai seragam putih abu-abu dengan kerudung rawis putih

Di gebrak untuk mengikuti upacara senin pagi 

Mimpiku berlanjut ke memori usang yang belum pernah pergi 

Masih selalu terngiang di pikiran, terasa di hati

Cerita mondok sambil sekolah, mungkin membuat orang lain iri

Atau tidak sama sekali 

Bangun tidur pagi sekali 

Mengambil wudhu pun mengantri, apalagi mandi

Di gebrak pula di suruh mengaji

Sampai di pengajian kantuk tak tertahan sampai akhirnya tidur lagi

Kalau ada talaran mana mau untuk mengaji 

Apalagi talaran Amsilati

Selesai ngaji harus segera sekolah pagi

Kalau tidak, datanglah akang berpeci

Semangat sekolah karena akan bertemu si doi

Eh ternyata si doi di ambil sahabat sendiri

Jadinya sakit hati 

Untung tidak sampai bunuh diri 

Bolos menjadi penghias hari

Karena pelajaran yang kurang mengerti 

Apalagi Fisika bersama Pak Dedi

Pelajarannya rumit sekali

Belum pernah jatuh cinta sampai saat ini

Yang ada hanya benci

Lebih asyik kalo berorganisasi

Masuk Paskibra walau tubuh kurang tinggi 

Ikut lomba LKBB sampai se-provinsi

Walau juara hanya sesekali 

Tapi pengalaman tak pernah terganti

Ngaji sore menjadi kewajiban bagi santri

Ngaji malam apalagi 

Tertidur di kelas selalu ku alami 

Kabur-kaburan adalah kegiatan sehari-hari

Kalau merasa suntuk di asrama putri 

Dari yang dekat sampai yang jauh aku pergi

Akan di hukum pun aku tak peduli

Karena aku ingin senang kembali 

Senin adalah hari yang di tunggu-tunggu santri putri 

Karna hp di bagi

Walaupun WA, grup yang memenuhi 

Bukan si doi

Ah, kasihan sekali

3 tahun aku alami 

Walau akhirnya perpisahan menghiasi

Air mata trus membasahi 

Karena sedih sekali

Tanpa putih abu-abu telah pergi 

Perpisahan terasa berat karena di tangisi

Tapi aku tak tahan lagi

Semuanya menjadi sibuk sendiri-sendiri

Untuk mengejar mimpi 

Melihat kegiatannya hanya di Instastory 

Walaupun sepintas tapi rinduku terobati 

Sahabat-sahabat Fetty, 

Semoga kita bisa bertemu kembali. 

Bekasi, 15 Februari 2018

Posted in Bloggers' Challenges

#BC68 : Punya Temen Moody-an? 

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan Bloggers’Challenges yang ke-68 dari Kak Rina dengan topik “Cara Menghadapi Temen Moody-an”. 

Duh, ngomongin temen yang moody-an padahal aku sendirinya juga moody-an. Jadi, kek mana ya? Okelah kita bahas. 

Bagaimana kalau kita punya temen moody-an? 

Punya temen apapun It’s okay aja lah ya. Bagaimana pun sikap temen, ya kita harus nerimain. Kalo nggak bisa nerima, nantinya temen berkurang, banyak sakit hati dan lain-lain. 

Cara menghadapinya gimana? 

Kalo ada temen yang moody-an yang kadang suka ceria, kadang jadi pendiam, tiba-tiba di tanya gak di jawab, sinis, dan segala macem, kita harus levih extra perhatian sama dia. Dalam artian, lagi gimana kondisi dia itulah sikap yang kita keluarkan buat dia. Misal, dia lagi ceria, nih. Kita juga harus menunjukkan sikap yang ceria juga. Itu artinya, dia lagi seneng. Kalo tiba-tiba jadi pendiam, gak bisa di ajak ngomong  artinya dia ada sedikit masalah. Usahakan bertanya dulu. Tunjukkan kalo kita peduli sama dia. Yang ikhlas tapi lho, ya. Tapi, kalo dia jawabnya geleng-geleng kepala, keliatan marah, udah stop jangan nanya-nanya lagi. Tapi, biasanya gak akan lama. Iya, kalo aku gak akan lama. Hehe. Nanti, ajak dia lagi, tanya dia lagi, usahakan mood dia baik lagi. Begitu. Jadi, kalo kita ingin punya temen banyak, harus nerima sifat temen yang memang sifatnya berbeda dengan kita. Kita  yang harus lebih peka dengan sikap temen. Jangan sampe kita nuntut mereka, harus punya sifat kaya kita. Kan setiap orang beda-beda. Wajarlah kalo sifat si A gini sifat si B gitu. Kita harus nerima. Kita yang harus bisa menyesuaikan dengan si A, bisa menyesuaikan juga dengan si B. Yang intinya jangan sampe pengaruh buruk dari orang-orang nempel dari kita. Setiap orang punya sifat baik dan buruknya, kan. Nah, sifat baik dari temen yang kita ambil, sedangkan yang buruknya buang. Gitu, shay. 

Informasi dikit, sebenernya ini aku tulis di buku tanggal 22 Januari 2018, di waktu luangku. Karena aku kembali mencari ilmu lagi. Kali ini di Bekasi. Bukan Jogja lagi. Metropolitan bangetlah di sini. Kemarin, aku sempet ke Swalayan buat beli lemari, kasur dan kawan-kawannya. Maasyaa Allah ya penuh mobil dan motor berlalu lalang, dengan klakson saling bersahutan. Begitulah Bekasi. Tapi, alhamdulillah di Pondokku adem banget. Gak sesuai ekspektasiku juga. Ekspektasiku di pondok ini bakalan panas. Tapi, ternyata enggak. Niat ngasih info dikit, kok malah banyak, ya? Hehe. Yaudah lah ya terimakasih. 

Syukron. 

Thank you. 

Hatur nuhun. 

Posted in Bloggers' Challenges

#BC66 : Ah Andai Saja… 

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan Bloggers’Challenges yang ke-66 dari Kak Isan dengan topik “Seandainya aku di lahirkan kembali, aku ingin menjadi…”

Aku pernah mendatangi seminar tentang hafalan Qur’an, dan mendengarkan cerita seorang anak berumur sekitar 3 tahun sudah hafal qur’an. 3 tahun? Maa syaa Allah. Ceritanya memang si ibu anak itu ketika anaknya masih berada di dalam kandungan, selalu membaca qur’an dan mendengarkan muratal. Musik klasik yang seharusnya janin dengarkan diganti dengan musik indah berfaedah itu. Sistem nya 1 hari 1 juz tapi di ulang-ulang selama 1 bulan. Bulan depan ganti juz lagi. Tapi, di cerita lain yang aku baca, selama janin dalam kandungan hanya di bacakan Qur’an surah Al-Mulk, Al-Kahfi, Al-Waqi’ah, Yusuf, dan Maryam, sedangkan sudah lahir, mulai membaca dan mendengarkan Al-qur’an dari juz 1 sampai 30, tapi tidak di sebutkan sistemnya seperti apa yang penting ibunya itu menyuguhkan Qur’an dan qur’an kepada anaknya. Maa syaa Allah. 

Kalo ditanya seperti topik yang aku bahas, aku ingin menjadi hafidz dari sejak kecil, sejak dalam kandungan. Tapi, tak boleh kufur nikmat. Alhamdulillah masih di berikan keluarga yang terus menerus memberikan ilmu agama, lingkungan alhamdulillah mendukung, di beri waktu untuk menjadi penghafal qur’an. Karena belajar tidak ada kata terlambat. Mungkin, kalau ada umur panjang, insyaallah aku jadikan keluargaku sebagai generasi Qur’ani. Eh udah nyangkut ke keluarga aja, ya. Hehe. Wajar ya, normal. 

Manusia memang harus selalu bersyukur, harus nerimain apa yang ada. 

Ah mungkin gak banyak yang harus aku sampaikan tentang ini. 

Wallahu a’lam bishowab. 

Syukron. 

Assalamualaikum. 

Posted in Bloggers' Challenges

#BC67 : Mencoba Baik 

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan Bloggers’Challenges yang ke-67 dari Kak Vera dengan topik “Gaya Berpakaian”. 

Mencoba baik dimulai dengan cara berpakaian sepertinya tidak salah. Pakaian bagi seorang manusia itu seperti cover buku. Kalo menarik cover-nya insyaallah menarik juga isinya. Tapi, ada pepatah mengatakan “Jangan melihat orang dari cover-nya”. Ya, betul sekali. Jangan diliat dari luar doang. 

Gaya pakaian ku gak terlalu ribet, sih. Gak harus kaya si A biar nge-hitz, atau harus dengan model terbaru. Engga. Sekarang, karena aku di rumah dan di rumahku itu selalu berdatangan tamu yang mayoritas lelaki, jadi keluar kamar harus memakai kerudung. Kecuali sekitar jam 5 sampe jam 9 pagi masih aman lah, ya. Jam jam kesana baru, deh waktu berbahaya. Karena gak mungkin aku pake baju kaos dan celana panjang doang, walaupun aku memakai kerudung gede, alhasil pakailah gamis simple dengan model tangan 3/4. Kenapa? Karena sebenarnya ini warisan juga, sih dari almarhumah bibi ku. Lebih enak, adem dan simple kalo pake gamis ini. Udah kek daster aja gitu. 

Nah, kalo keluar, sebagai muslimah memang agak ribet ya, tapi kewajiban juga. Aku selalu pakai gamis, kaos kaki tentunya, hand shock (Kadang-kadang gak pake karena udah merasa cukup dengan gamis tangannya menutupi pergelangan tangan), memakai ciput (daleman kerudung) kalo emang pake cadar di dalem, cadar/masker. Udah, sih itu aja. 

Beda lagi pas di pondok. Biasanya kalo di dalem pake sarung sama kaos, kalo mau keluar, beli lauk atau jaraknya yang deket, tinggal tambah cardigan sama kerudung. Kalo jauh ya standar aja, sih pake rok, kemeja atau kaos, kerudung. Tapi, sekarang udah gak nyaman aja pake model potongan gitu, enak pake gamis. Yang penting, kan nyaman. Hehe. 

Sebenernya di rumah juga seharusnya aku tertutup ya, soalnya banyak tamu, tapi insyaallah aku terus belajar buat bisa menjadi The Real Muslimah yang bisa taat sama yang Maha Menciptakan. Belum tentu yang berhijab berakhlak baik, tapi yang berakhlak baik pasti berhijab. 

Yang berhijab saja belum tentu mendapatkan surga, apalagi yang tidak berhijab sama sekali. Ayo, saudaraku, akhwat fillah kita berhijab dengan baik, sesuai syari’at islam. 

Wallahu a’lam bishowab. 

Syukron. 

Posted in Bloggers' Challenges

#BC65 : Aku Rindu Ibu

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan #Bloggers’Challenges yang ke-65 dari Kak Hera dengan topik “Ceritakan tentang  gurumu yang paling berkesan” 

Mengingat tentang guru, menurutku banyak sekali yang berkesan. Terutama guru matematika. Saat SMP dan SMA aku lebih lebih akrab sama guru matematika, ke semua guru lumayan akrab, sih tapi lebih akrab dengan guru matematika. Hehe. Enrah kenapa. Mungkin karena pelajaran kesukaanku. Ada yang protes pelajaran kesukaanku matematika? Mungkin banyak juga kan, ya di antara kalian yang suka juga sama si Matematika dan banyak orang juga yang membenci ni pelajaran. Menurutku, sih matematika itu asyik. 

Baiklah, kita ngobrol ke gurunya. 

1. Bu Ati (Sri Triswati) 

Guru pertama matematika ku yang bergender perempuan di SMP. Beliau ngajar pas aku di kelas 9. Tahun-tahun sebelumnya selalu sama Pak… Pak… Bentar. Aku lupa namanya siapa. Ya pokoknya beliau. Sedangkan di kelas 9, matematika bersama Bu Ati. Orangnya jangan tanya lagi, pokoknya beliau baik banget. Dan yang terpenting saat ketemu, beliau masih ingat aku. Hehe. Semoga panjang umur ibuku tercinta. Kalo sama beliau udah kaya bukan sama guru, tapi kaya sama ibu sendiri. Sering curhat juga, sering manjain aku, haha. Enjoy banget pokoknya sama beliau. Karena waktu kelas 9, rata-rata lelakinya pada males, berakibatlah aku yang diutus ibu buat ngajarin mereka matematika. Bantu mereka, soalnya mau UN juga. Alhamdulillah aku jadi akrab juga sama mereka, bisa ngingetin mereka kalo mereka lagi di jalan yang salah. Saat itu mereka bukan hanya males, tapi badung juga. Tapi, alhamdulillah mereka sekarang berprestasi. 

2. Bu Enden Meilia 

Nah, kalo ibu satu ini adalah guru pertama matematika ku di SMA. Sekaligus wali kelasku di kelas 10 dan 12. Guru terrrrrrbaik. Beliau juga mengajar, melatihku untuk olimpiade Matematika bersama partnerku, Rifqi Fadhilah. Untuk tahun pertama bareng Teh Anbiyani juga sedangkan di tahun kedua, bareng Melinda. Beliau juga suka aku jadikan tempat curhat, kita juga pernah main ke rumahnya buat masak bersama. Selalu care. Waktu itu ada perkemahan saat kelas 10, beliau nyiapin kompor kecil sama spirtus, mie rebus buat kita, dan nyemangatin kita tentunya. Alhamdulillah kita, X-XI IPA 1 selalu jadi juara utama. 

3. Bu Lilis

Guru matematika juga dan wali kelas di kelas 11, waktu itu. Ibu tercantik dan fresh selalu, selalu bimbing kita, support kita, ah pokoknya segalanya. Paling lupa waktu kalo udah ngobrol sama beliau. Hehe. Ibu terhitz. Tempat curhat juga. Beliau juga suka menceritakan kelas kita (AKSON), XI IPA 1 ke kelas lain. Jadilah kita juga sedikit ada persaingan ketat dengan kelas sebelah, XI IPA 3. Begitulah. 

4. Bu Sri

Sama Bu Sri lagi. Bu Sri yang berbeda. Sekarang bukan lagi dari kalangan matematika, melainkan Kimia. Beliau ngajar Kimia saat aku kelas 11 sampe 12. Bimbingan UN Kimia juga sama beliau. Guru terbaik, yang selalu menyangkut pautkan kimia dengan kuasa Allah. Selalu mengajarkan tentang keagamaan juga. Selalu support juga tentunya. Alhamdulillah, karena tahun kemarin saat UN bisa memilih pelajaran, aku pun akhirnya pilih Kimia. Hampir setiap hari kita ke rumah beliau yang jaraknya tidak jauh dari pondok, untuk belajar Kimia. Diajarkan sampe tuntas. Semakin dekat ke UN, beliau juga mengadakan TO, terus-terusan TO. Agar kita terbiasa dengan mengerjakan soal. Sampai akhirnya kita bisa. 

 Terimakasih guru-guru ku semua. Sungguh aku rindu kalian. Ingin rasanya pergi ke Cipasung untuk bertemu kalian, tapi ya sudahlah. Semoga kalian sehat semua. Tentunya banyak sekali guru yang berkesan, tapi karena tidak mungkin aku ceritakan semuanya di sini. 
Barakallahu fiikum. 

Posted in Bloggers' Challenges

#BC62 : Di Usia 12

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan #Bloggers’Challenges yang ke-62 dari Kak Wawa dengan topik “Apa yang ku harap ku ketahui ketika berumur 12”.

Aku masih duduk di bangku kelas 6 semester 2 SD. Satu hal yang tidak pernah aku lupakan saat itu adalah “Tidak diizinkannya aku masuk ke Pondok Pesantren”. Itu masa lalu. 

Karena pengalaman adalah guru terbaik, aku akan sedikit memberikan sedikit ilmu dari apa yang pernah aku alami. 

1. Jangan Lupa Sholat 

Di usia 12 tahun bagi perempuan itu sudah di katakan baligh, dan usia baligh laki-laki adalah umur 15

Tapi, untuk melakukan sholat jangan nunggu baligh, sebenarnya. Perlu belajar untuk disiplin melakukan sholat. Agar kita terlatih. Untuk teman-teman yang mungkin sekarang berusia 12 ataupun kurang itu gak masalah, atau lebih mungkin, no problem, dan terutama para orang tua, harus bisa mengarahkan si anak agar selalu melaksanakan sholat. Dan untuk si anak, harus patuh sama apa yang orangtua katakan dan perintahkan dengan syarat tidak keluar dari syariat islam. 

Masih ingat dulu itu aku hanya rajin sholat maghrib. Waktu sholat lain, jarang sekali aku melakukan sholat. Astagfirullah. Sampai akhirnya kelas VIII SMP yang saat itu mungkin di berikan hidayah melalui orang yang pernah ku ceritakan di sini

2. Bermain Dengan Siapa Aja

Cobalah bergaul dengan siapa aja. Jangan pernah memilih teman. Tapi, perlu di jaga juga efek yang masuk pada diri kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang manja karena berteman dengan orang yang punya segalanya, setiap keinginannya selalu di kabulkan oleh orangtuanya. Perlu memilah. Untuk para orangtua juga harus memberikan nasehat dengan cara yang tepat pada anak. 

Dulu, aku pendiam. Malu untuk bersosialisasi dengan yang lain. Makanya temenku tidak terlalu banyak saat itu. 

3. Jangan Lupa Sekolah Agama 

Mencari ilmu agama itu wajib, terutama ilmu agama. Dari lahir sampai ajal menjemput kita wajib mencari ilmu. Baik laki-laki maupun perempuan. 

Jadi, waktu SD aku ikut madrasah diniyah atau Sekolah Agama di dekat rumah. Pernah di adakan juga Gebyar MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) se-kecamatan yang bertempat di Padud. Pas ada acara itu, aku seneng banget. Bisa kenal sama yang lain. Bisa ketemu temen SD juga. Ya, karena teman mainku gak jauh-jauh. Itu itu aja. Saat itu aku ikut lomba MHQ (Musabaqoh Hifdzil Qur’an), sedangkan adikku ikut Kaligrafi. 

Belajar ilmu agama saat kecil memang sangat bermanfaat. Karena memorinya yang masih baru membuat ingatannya cukup panjang. Dan alhamdulillah nya aku memanfaatkan memori itu. Bedanya mungkin aku tidak ikut kursus apa-apa dan tidak pernah dapat piala apa-apa. Tapi, semoga di Syurga nanti aku bisa memberikan mahkota untuk kedua orangtuaku👑 Aamiin. 

Mungkin itu saja, ya.

 Terima kasih. 

Hatur nuhun. 

Syukron. 

Merci. 

Thanks.