Posted in Sharing

Pesan Bapak Tentang Nikah Muda

Kira-kira apa, ya yang di sampaikan Bapak tentang nikah muda? Biar ga penasaran yuk cek di sini!!!

Advertisements
Posted in Sharing

Tentang Sebuah Kain

Cadar tentu bukanlah sebuah tanda kalau orang yang memakainya sudah menjadi perempuan yang sempurna, sholehah, tidak. Tidak selalu bisa dikatakan seperti itu. Tetapi, tidak bisa dikatakan juga yang memakai cadar semuanya tidak baik, tidak. Apalagi dikatakan teroris, oh itu salah besar. Di islam, kami tidak di perintahkan untuk saling menyakiti. Bahkan ke orang yang beda agama dengan kita saja, islam mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik.

Baca Selengkapnya…

Posted in Sharing

Lelah Tapi Lillah Bersama Qur’an

Pernah gak,  sih kamu menghabiskan waktu bersama qur’an? Sampai merelakan waktu mainmu terpakai untuk qur’an? Waktu nongkrongmu di pakai untuk qur’an? Maasya Allah ya? Jangan sampai kawan-kawan justru waktu mainnya terpakai habis sia-sia, banyak nongkrong, tidak dekat dengan Allah, mainnya di cafe bukan itikaf di masjid. Masa mudanya terbuang sia-sia.

Baca selengkapnya

Posted in Sharing

19 Tahun Sudah

Di hari pertama bulan penuh maghfirah dan keberkahan ini seperti mengawali diriku yang baru. Ya, 19 tahun sudah aku membawa diriku mengarungi samudera kehidupan di lautan dunia. Tidak ada yang spesial. Hanya saja, aku butuh perenungan dan perencanaan yang lebih mendalam tentang kemana diri ini harus ku bawa pergi untuk sebuah tempat pulang?

Baca selengkapnya

Posted in Daily Life

Ke-10 di Tanggal 10

Bunga tidur. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Aku pernah membaca katanya kalau sering bermimpi, termasuk orang kreatif atau mempunyai tingkatan imajinasi yang tinggi dan ada juga yang mengatakan kalau mimpi itu hasil dari apa yang sering kita bayangkan. Tapi, yang pasti mimpi itu datang dari Allah sebagai petunjuk atau dari syetan. Namun, apa jadinya jika seseorang selalu muncul di dalam mimpiku? Ya, ini sudah yang ke sepuluh kalinya dia hadir dalam mimpiku setelah aku mulai menghitungnya, sebelum ku hitung pun dia sudah selalu hadir di mimpiku. Apa artinya?

Dia hanyalah seorang sahabatku, walaupun aku pernah menyimpan rasa. Mungkin itu hanya rasa sebagai sahabat. Kita sering berbincang bahkan setelah kita berpisah. Tidak sama sekali berkomunikasi. Hanya saling lihat story itu pun saat aku di bagi hp. Ah tentang mimpi itu aku seolah senang bisa bertemu dengannya. Sering kali mimpi itu saat kita bersekolah. Saat aku berdiskusi dengannya. Pernah juga saat itu dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Namun saat itu juga aku terbangun. Harus tersadar kalau hidup kembali di dunia nyata. Padahal aku masih merindukannya. Atau saat dia mengajakku ke rumahnya untuk belajar SBMPTN bersama dan pakaian yang di kenakan sama seperti ketika bimbel. Kaos biru berlengan pendek lengkap dengan sarung dan tas backpack hitamnya. Seperti biasa kau membawa plastik minuman es. Atau saat aku makan denganmu. Atau saat aku menanyakan tentang cara tali temali bendera merah putih. Semua itu seolah nyata. Dia pun hadir di mimpiku, aku hanya bilang “Kita sahabat” dan aku memegang tanganmu erat seolah tidak ingin lagi kita berpisah.

Dan terakhir, dia hadir begitu lama dalam mimpiku. Nampaknya makin segar. Aku pun bertanya “Apakah kamu pernah bermimpi seseorang yang terus menerus secara kontinyu hadir dalam mimpimu?”. “Pernah” jawabmu. “Siapa?” tanyaku. “Ah tak usah kau jawab” ku katakan lagi. Saat itu pun aku terbangun.

Aku rindu mendengar keluh kesahmu. Aku rindu mendengar pendapat yang bijak darimu, aku rindu berdiskusi denganmu. Aku rindu . Sampai kapan rindu ini terus terkubur? Belum sampaikah waktu kita untuk bertemu. Malam kelam sudah berlalu diganti siang. Tapi tanda hadirmu belum juga datang.

Posted in Sharing

Hidupkan Sendi-sendi Islam

Kemarin, aku menghadiri acara Talkshow di Masjid Al-Ihsan JakaPermai, Bekasi bersama Ust. Burhan Sodiq dan Fuadbakh dengan tema “Yang Muda Yang Kreatif”. Tema yang diangkat begitu inspiratif mengingat keadaan zaman sekarang yang sudah sedikit demi sedikit seolah agama menjauhkan dari kehidupan karena efek dari ke-kreatifan. Umat islam sekarang sudah di rusak akidahnya, ibadah, sampai akhlaknya hasil dari kreatifnya bangsa luar. Begitu mudahnya tiga hal penting itu di rusak dengan satu senjata yaitu “Sosial Media”. Tidak hanya yang muda, yang tua juga ikut terjajah oleh sinetron-sinetron luar yang berdampak pada akidah. Anak-anak sudah terkontaminasi imajinasinya, akidah yang masih lemah semakin lemah karena tidak ada tontonan yang edukatif bagi mereka. Yang seharusnya idola mereka adalah Baginda nabi, tergantikan oleh tokoh-tokh fiktif seperti spiderman, batman, sampai superman yang tidak punya malu memakai celana dalam tapi dipakai di luar. Sedangkan umat islamnya masih berdebat dengan masalah “Tidak boleh menggambar makhluk hidup secara utuh”, sedangkan yang terjadi di masyarakat, mengikuti zamannya, anak-anak butuh tontonan yang sama level kekreatifannya, kerennya dengan film barat tapi menyampaikan ajaran agama. Karena anak-anak itu belajar harus secara have fun. Memerintah anaknya untuk mengaji tapi, orangtuanya nonton sinetron, main facebook, update status tidak jelas di WA, si anak ini butuh role model. Butuh contoh untuk di contoh.

Anak muda zaman sekarang, di hebohkan lagi dengan kehadiran oppa oppa korea. Setiap hari yang didendangkan bukan lagi ayat-ayat al-quran tapi lagu-lagu korea yang dia sendiri tidak tahu artinya. Gaya baju ingin seperti orang Korea padahal badan berlipat-lipat tidak lurus seperti Yoona SNSD.  Kulitnya ingin diubah menjadi putih, kinclong, sampai warna kulit wajah dan tangan tidak lagi sama. Yang jadi pegangannya bukan lagi Qur’an tapi benda kotak yang super canggih. Ada juga yang hijrah ikut-ikutan zaman. Masih mending lah mau ikutan kajian. Walaupun sebelum berangkat kajian update status di snapgram dan sosmed lainnya.

Sampai kapan anak muda menikmati hasil karya orang lain? Sampai kapan yang muda terus menerus di jajah oleh bangsa lain? Tidak maukah untuk berubah. Tidak mau meluruskan kembali generasi islami. Jangan sampai mau akidah kita di rusak, ibadah kita terganggu karena aktifitas yang sia-sia, jangan sampai akhlak kita hanya bergantung pada moralnya saja sedangkan spiritualitasnya kurang. Sering-sering, deh anak muda sekarang nge-cas iman dengan mengikuti kajian-kajian, kembangkan potensi diri agar kita bisa berdakwah lewat apa yang kita sukai.Fuadbakh kemarin mengatakan “APAPUN PROFESIMU, DAKWAH ADALAH KEWAJIBAN”. Sampaikanlah meskipun satu ayat. Ajak teman-teman kita, masyarakat di lingkungan kita untuk berbuat kebaikan, mencegah perbuatan yang buruk dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah. Karena hal ini adalah poin penting yang wajib ada di setiap muslimin dan muslimah.

Minimal kita mengubah kebiasaan kita. Dimulai dari yang terkecil saja. Misalkan sholat tepat waktu, sholat selalu berjama’ah di Masjid. Apalagi yang laki-laki di haruskan untuk berjama’ah di Masjid. Selalu berbagi, saling tolong menolong, gunakan waktu kita untuk beribadah dengan sebaik mungkin. Jangan hanya waktu kita di pergunakan untuk scroll si dia yang belum pasti. Allah yang sudah pasti tujuan kita tapi malah kita abaikan. Kamu sehat?

Perbanyak lagi waktu berdiskusi dengan Allah. Curhatkan semuanya ke Allah, jangan lari ke sosmed. Tidak baik, ah aib kita di sebar-sebar di khalayak. Coba kita lebih bijak lagi dalam menggunakan sosmed.

Ini sebagai challanges kita sebagai anak muda karena ke depannya mungkin generasi muslim ini akan lebih di jajah lagi dengan hadirnya kecanggihan teknologi.

Terus semangat kawan-kawan yang di rahmati Allah dalam membela agama Allah.

Syukran,

Terimakasih,

Thanks,

Arigatou,

Tessekur  ederim,

Nuhun.

Posted in Sharing

Menepis Godaan

Assalamualaikum kawan-kawan yang di rahmati Allah. Mungkin sudah jarang lagi aku tidak menaruh kata demi kata dalam setiap pengalaman, peristiwa, dan sebuah hikmah yang aku alami. Sebenarnya aku sudah rindu dengan menulis. Tapi, setiap ada waktu luang justru hilang apa yang aku tulis. Entah kemana. Baiklah, sekarang aku akan coba.

Ada pepatah mengatakan, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Ya, begitu kira-kira. Aku termasuk orang yang santai seperti itu juga. Santai tapi pasti. Termasuk menghafal. Seorang temanku mengatakan “Fet, anti setiap setoran berapa halaman?” Aku jawab santai, satu. Rupanya dia menyahut kembali, “Oh, lama dong ya nanti khatam nya? Di tambah jadi dua halaman, memangnya gak bisa?” Pertanyaan itulah yang terus muncul di pikiranku. Dari itu, hafalanku terganggu. Aku benar-benar kurang konsentrasi. Keteguhanku goyah. Rencanaku yang ingin menikmati dalam menghafal mulai goyah. Ingin cepat khatam, cepat selesai. Akhirnya aku coba menghitung perkiraan waktu untuk aku menghafal. Di sana tertera banyak waktu untuk menambah hafalan saja, waktu muraja’ahnya kurang. Pada pelaksanaanya aku tidak bisa melakukan percepatan itu. Meskipun hanya 2 halaman. Aku pun kembali seperti semula, menghafal setiap malam, waktu yang lain di pakai untuk muroja’ah, dan semuanya tenang seperti sedia kala.

Kemudian datang lagi cobaan. Setelah membaca buku karya Saiful Falah yang berjudul “DARE (Dream, Action, Role Model, Evaluation), di sana di sebutkan untuk menentukan target, meninggalkan zona nyaman, salah satunya itu. Entah aku yang salah sasaran dalam keluar dari zona nyaman ini atau bagaimana, aku juga kurang faham. Dia menyebutkan “BAKAR KAPAL”. Seperti yang di katakan dia, aku juga menuliskan target. Dan mungkin karena egoku yang ingin cepat selesai, aku menuliskan :

“Apabila di ulang tahunku yang ke-20 saya belum khatam 30 juz, saya tidak akan pegang uang selama 5 tahun, itu artinya saya tidak bisa berbisnis dan traveling”

Dalam buku tersebut memang di haruskan dalam membakar kapal itu kita harus punya konsejuensi yang menyangkut nyawa kita. Harus seperti itu. Akhirnya aku kembali mengatur strategi, menentukan waktu menghafal dan muroja’ah. Walaupun saat setoranku bertambah deg-degan dan makin tidak lancar di halaman kedua. Pada akhirnya aku harus mengulang halaman itu besok. Kembali berfikir lagi, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan seperti biasa. Pelan tapi pasti. Menikmati dalam sebuah taman surga. Bapakku juga pernah bertanya minggu kemarin, beliau menanyakan sudah berapa juz yang aku dapatkan. Aku hanya tersenyum dan menjawab jujur. Bapak hanya berpesan “Tidak apa-apa. Yang terpenting Teteh hafal dengan isi apa yang di hafalkan. Bapak tidak terus-menerus memaksa Teteh cepat khatam, yang terpenting faham. Bapak selalu berdo’a untuk Teteh di setiap sholat tahajud. Semoga Teteh bisa menjadi penghafal Qur’an, bisa berdakwah, bisa menyampaikan apa yang terkandung dalam Qur’an. Masalah dunia, Allah yang atur. Kita sebagai manusia tidak perlu khawatir. Kalau kita sudah dekat dengan-Nya, dunia pun akan datang sesuai rezeki yang Allah tentukan. Maka dari itu, terus cari ilmu, jangan memikirkan terus-menerus urusan dunia. Semuanya mengikuti. Do’akan Bapak juga, agar bisa sehat selalu”. Ah, Bapak, aku rindu semua nasehat yang selalu diberikan selepas maghrib.

Ya, sekarang aku lebih memilih untuk menikmati. Untuk apa juga kalau ingin cepat khatam? Kalau bercita-cita ingin menjadi penghafal qur’an, itu artinya bersama qur’an-lah pekerjaannya. Itu lebih mulia. Daripada menghafal qur’an cepat tapi ujungnya tak pernah lagi memegang qur’an, tidak pernah lagi muroja’ah. Apa gunanya? Itulah yang di sering di katakan orang banyak. Kalau kita menghafal dan kita lupa itu dosa, ya karena itu. Karena tidak pernah lagi me-muroja’ah. Astaghfirullah. Semoga kita semua, kawan-kawan yang sedang berusaha menghafal baik itu di pondok atau rumah, yang sedang kuliah, sekolah atau kerja, hafalkan saja meskipun tidak hafal-hafal. Yang terpenting, kita bersama Al-qur’an. Karena ada keberkahan di dalamnya. Bayangkan saja, setiap huruf yang kita baca ada 10 kebaikan di dalamnya. Satu huruf, bukan satu kalimat. Maasya Allah.

Semoga Allah merahmati kita semua, mohon maaf bila ada kesalahan.

Terima kasih.

Syukron.

Arigatou.

Nuhun.