Posted in Self Reminder

Wedjangan

Beliau adalah ibu yang kedua bagiku.

Sering di sapa Umi.

Dengan nama lengkap Umi Masbahah.

Saat semangat sedang turun dan menghafal terasa berat, nasehat dari beliaulah yang aku nanti. Nasehatnya bagaikan air yang menghilangkan dahaga. Aku suka kalau beliau memberi nasehat, karena semangatku semakin meningkat.

Beliau pernah menasehatiku seperti ini …

“Teruskan saja menambah hafalan di barengi murajaah. Karena jatah umur kita terus berjalan berkurang, dan semuanya masalah waktu. Pasti punya planning, setelah khatam nanti mau apa. Kalau berhenti menambah hafalan dan fokus untuk murajaah, waktunya sayang. Istiqamah saja menambah satu halaman. Kalau kita telaten murajaahnya, insya Allah bisa.

“Kalau mau menghafal Qur’an, jangan mau yang instan. Memang terjamin akan khatam, tapi tidak meyakinkan dengan hasilnya. Akan beda hasilnya. Ngafal terus aja berjalan seperti air, istiqamah, sabar dan telaten, pasti khatam. Saya aja dulu 1 halaman 1 halaman tapi akhirnya khatam juga walaupun dengan jangka waktu yang panjang yaitu 4,5 tahun. Setelah selesai SMA umur 18 tahun di Semarang sampai 23 tahun. Kalo terlalu di targetin, terlalu di jejalkan otak kita untuk ngafal nanti gak fresh malah stress. Kalo disini kan enak, bisa santai. Maksudnya bukan santai santai juga. Istirahat cukup, ngafal fresh otaknya. Fetty umurnya berapa? (19 tahun). Tuh, masih muda, masih panjang jalannya. Nanti pun kalo mau kuliah bisa. Iya, lebih baik selesaikan satu per satu. Kalo kuliah sambil ngafal nanti pasti ada aja yang terbengkalai dan biasanya Qur’an yang ditinggalkan.

“Lupa dalam menghafal itu ya biasa. Asal jangan sampai bosan untuk mengulang. Kuncinya harus sabar, ulet, jangan bosan untuk murajaah. Fokus ke ngafal, relax aja jangan di bawa stress”.

Advertisements
Posted in Sharing

Pemahaman dan Kesalahan

Hai.

Para pembaca.

Ini menjadi tulisan pertama di tahun 2019.

Langsung saja.

Karena hidup mewajibkan kamu untuk bersosialisasi, banyak dampak yang disebabkan dari bersosialisasi. Banyak permasalahan juga dengan adanya bersosialisasi. Sebagai santri, yang tinggalnya selalu dengan teman seperti layaknya keluarga, aku kadang merasa permasalahan yang aku hadapi selalu sama dan semua sifat diri sendiri dan teman itu lambat laun akan terlihat. Sifat baiknya dari awal memang sudah terlihat, tapi nantilah setelah beberapa bulan akan terlihat sifat kurang baiknya.

Dari berbagai pengalaman aku menarik sebuah kesimpulan. Seperti yang diceritakan oleh temanku,

Tidak ada orang yang jahat. Yang ada hanyalah salah paham dan paham yang salah.

Benar. Tepat. Kalau misalkan tingkah laku dia atau si teman berbeda dari biasanya, seharusnya jangan langsung menarik kesimpulan. Karena dari menarik kesimpulan inilah yang menyebabkan kita enggan untuk bertanya, karena merasa sikap dia aneh atau menunjukkan sikap tidak suka pada kita. Ada juga yang mencap kalau si A itu jahat. Selama kita masih berfikiran bahwa si A jahat, ya si A di mata kita jahat. Padahal si A tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Jadi, bersosialisasi ini mengandalkan bagaimana cara berfikir kita seperti apa, sih. Bukan hanya senang-senang dalam peetemanan palsu atau seperti adem ayem layaknya di Instagramnya.

Hmmm… Apalagi ya?

Hah! Pokoknya hidup it harus positive thingking. Harus menjaga perasaan orang lain dan jangan meminta orang lain untuk mengeri perasaan kita juga, jangan.

Eh iya, resolusi 2019 mu apa?

Tulis jawabanmu di kolom komentar.

Terimakasih.