Posted in Puisi

Senja Tak Sama pun Rasa

Rindu ini masih. Alunan yang sama dengan melodi yang sama. Tidak ada yang berbeda. Aku dan kamu pun masih sama. Sama seperti dahulu, aku yang mengagumimu dan kamu yang mengagumi nya.

Rindu ini akan tetap sama. Meski jarak terbentang luas memisahkan antara kita. Tentang waktu yang berbeda. Dan begitupun rasa yang berbeda.

Entah, rindu ini masih tetap sama seperti setahun lebih yang lalu. Dunia nyata yang tak berpihak untukku bertemu dengan mu. Hanya dunia maya yang berpihak. Itupun hanya sekedarnya.

Entah, rindu ini terus memeluk. Di penghujung hari, senja indah tak terlukis. Kamu, masih sama dengan rasa itu dan aku masih sama dengan rindu ini.

Rindu semakin erat memelukku. Erat, begitu erat. Aku mendadak menjadi seorang pelupa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Di temaram malam yang tetap kelam aku meminta. Agar kau tahu. Bahwa aku disini. Aku masih disini tetap bertahan dengan rinduku. Rindu yang entah kapan akan berbalas temu. Rindu yang entah kapan akan berbalas rasa. Rindu yang entah kapan akan berujung.

Untukmu, pencuri hati. Aku masih disini. Menunggumu.

Advertisements
Posted in curhatan santri

Ayo Mondok!!!

Awalnya, aku tak pernah terbersit dalam benakku untuk mondok di Kota Metropolitan. Padahal, impianku adalah bisa mondok di Bandung. Allah merencanakan yang lain, aku di takdirkan mondok dimana jika aku menyebutkan kotanya pasti dikira tujuannya adalah untuk bekerja. Hm, Bekasi. Memang gudangnya orang pekerja. Seperti perkiraan sebelumnya dengan Jogja, cuacanya akan panas sekali, gerah, polusi udara, dan berbagai perkiraan lain. Jika dengan Jogja perkiraan yang aku pikirkan adalah salah, tapi tidak dengan Bekasi. Memang begini, Bekasi. Panas, gerah, kipas angin berputar terus selama 24 jam, tidak pernah merasa dingin, dan kalaupun hujan itu sebuah keajaiban bagi kami. Walaupun sekarang masuk musim hujan, disini masih jarang hujan. Hanya langit yang berwarna abu-abu dan matahari tidak lagi memancarkan sinarnya yang terasa panas sampai ubun-ubun. Bahkan santri baru mengatakan, sandal cepat kotor di karenakan debu-debu Bekasi. Tentang Bekasi, kenapa selalu buruk?

Allah pasti memberikan kelebihan juga kekurangan. Nah, itu salah satu kekurangan Bekasi. Kelebihannya adalah masjid disini makmur. Makmur di penuhi kalangan muda dan tua. Organisasi atau komunitas remaja masjidnya pun aktif mengadakan kegiatan sosial seperti kajian, bedah buku atau yang lainnya. Kaum yang sudah tidak dibilang muda pun masih ada wadah yang menampung untuk belajar tahsin (memperbaiki bacaan Al-Qur’an), dan juga belajar ilmu agama. Anak kecil apalagi, banyak sekali tempat untuk mereka belajar baca Al-Quran, dan belajar ilmu agama. Sekolah Dasar yang menunjang pelajaran seperti itu pun banyak, biasanya hanya orang yang perekonomian tinggi yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berbasis Islamic School. Alhamdulillah, tempat untuk menghafalkan Al-Qur’an juga tersedia. Bahkan, gratis. Tanpa biaya pendaftaran, ataupun bulanan. Ya, itulah tempat kami.

Foto bersama Santri Akhwat dengan Umi

Pondok Pesantren yang di bawah bimbingan Ustadzah Umi Masbahah atau yang akrab dipanggil Umi dan juga Ustadz Najib Zaini yang akrab di panggil Abi ini menyediakan tempat untuk para huffadz, baik yang belum mempunyai hafalan ataupun yang sudah mempunyai hafalan. Tapi, pondok ini hanya khusus untuk menghafal jadi tidak di sediakan yayasan untuk sekolah formal. Usia santri yang ada pun beragam. Dimulai dari yang belum tamat SD sampai yang sudah berpengalaman banyak seperti usia 30an. Memang, Umi tidak membatasi orang yang ingin menghafalkan Al-Qur’an. Kami diberi fasilitas yang nyaman. Asrama kami sekarang baru ada 4. 1 asrama ikhwan dan 3 asrama akhwat. Untuk hafalan, Umi tidak mentargetkan. Hanya saja setiap setoran hafalan baru itu minimal 1 halaman. Sedangkan untuk setoran hafalan Sabiq, yaitu setoran juz yang sedang kita hafalkan minimal 2 halaman atau 1 lembar. Setoran hanya dari hari senin sampai kamis. Sedangkan hari lainnya kajian kitab. Untuk masalah hp, kami diberi keringanan memegang hp 1 minggu sekali. Jadi, kami tidak terlalu terkekang dengan aturan, tapi harus bisa mengatur waktu secara mandiri. Bisa juga sambil kuliah, asalkan mengambil kelas karyawan. Karena hanya jum’at sampai minggu libur setoran. Pergi keluar pun biasanya diizinkan asal tidak boleh sendiri. Dikarenakan di Kota rawan sekali penculikan. Iya, penculikan gadis cantik. Hiiiy serem, ya. Hehehe becanda, jangan terlalu serius gitu, ah.

Tertarik untuk menjadi penghafal Al-Qur’an? Ayo niatkan dan do it. Insyaallah menghafal Qur’an adalah cara untuk meraih SurgaNya. Karena akhirat kekal sifatnya dan dunia ini fana.

Wallahu a’lam.

Posted in Sharing

Tidak Ada Doa yang Sia-sia

Aku percaya itu.

Tidak pernah ada doa yang sia-sia. Begitulah faktanya. Jangan tanyakan kenapa doaku tidak pernah terkabul. Tapi, coba cek hatimu. Mungkin saja apa yang kamu harapkan belum saatnya kamu dapatkan, atau Allah tahu kamu tidak perlu itu, tapi Allah akan memberi lebih dari apa yang kamu harapkan. Tidak perlu berfikir dengan logika. Cara Allah memang tidak pernah disangka-sangka.

Pembaca setia Komorebi pasti pernah membaca postinganku yang berjudul Kiki Pildacil Zaman Now. Yaitu, postingan yang didalamnya terdapat cerita tentang Rifqi alias Kiki Pildacil dan kebetulan saat itu adalah ulang tahunnya yang ke 18. Disana aku menuliskan sebuah harapan dan doa untuk Rifqi. Anehnya, postingan tersebut paling laku keras di kalangan pembaca. Setiap hari, selalu ada saja yang membaca postingan tersebut. Banyak yang membaca postingan tersebut, artinya banyak juga yang membaca harapan dan doaku untuknya. Alhamdulillah wa syukurillah, biidznillah Rifqi di umur ke 18 menuju 19 tahun dia berhasil mendapatkan keinginannya yaitu menjadi mahasiswa Turki.

Menjadi mahasiswa Turki seperti apa yang ia inginkan

Satu tahun lalu, kita pernah mendiskusikan permasalahan beasiswa ke Turki lewat YTB. Persyaratan yang mudah membuat semangat kita terbakar. Saat itu, ia masih di pondok tahfidz untuk daurah 30 Juz. Suatu malam dia bilang, ”Udah kaya Bocah Mersin, belum?” Ya, Bocah Mersin adalah mahasiswa Indonesia yang kuliah di Turki dengan nama asli Fauzan. Aku dan Rifqi saat itu memang explore mahasiswa Indonesia yang kuliah di Turki. Salah satunya adalah Bocah Mersin.

Masih jadi Bocah Bandung

Alhamdulillah, sekarang ia menjadi mahasiswa Turki tepatnya di Universitas Sakarya dengan mengambil jurusan Arsitektur.

Bocah Sakarya

Ada juga cerita temanku satu lagi. Namanya Billah. Dia ingin sekali menjadi Dokter, tetapi 2017 lalu dia mau masuk fakultas kedokteran tapi tidak bisa mengambil SNMPTN karena tidak terdaftar untuk bisa mengambil SNMPTN. Saat itu, aku yang masuk daftar boleh mengambil SNMPTN justru di sia-siakan begitu saja. Karena aku sudah bertekad untuk menghafalkan Al-Qur’an. Akhirnya Billah mengambil jalur SBMPTN, tapi gagal. Dia mengambil ujian mandiri juga gelombang pertama di Universitas Muhammadiyah Jakarta, namun lagi lagi perjuangannya gagal. Ia tidak mau menyerah. Dia terus mencoba untuk ujian di Universitas lain dan juga Universitas yang sama yaitu UMJ di gelombang kedua.

Ia pernah bilang padaku kalau misalkan dia masuk fakultas kedokteran, ia akan mentraktir teman sekelas. Suatu hari dia ng-chat dan bilang ”Lu inget gak? Gua pernah ngomong kalau gua bakalan traktir temen-temen sekelas”. Aku jawab dengan polos, ”Iya, tahu”. Selanjutnya aku baru sadar kalau ia diterima di fakultas kedokteran UMJ. Dia juga menyampaikan kalau ini adalah balasan dari sebuah kebiasaan aku yang selalu memanggil dirinya dengan sebutan Pak Dokter.

Maasya Allah. Memang, doa itu tidak pernah ada yang sia-sia. Peristiwa di atas biasanya aku gunakan sebagai pengingat diri, kalau Doa tidak pernah ada yang sia-sia. Hanya saja, kita merasa sombong kepada Allah. Untuk berdoa saja, merasa tidak perlu. Jadi, apa harapanmu? Mungkin dengan menulis harapan-harapan , kita akan lebih sering dengan tak sengaja membaca harapan-harapan kita dan itu adalah sebuah doa.