Posted in Puisi

Luka September

Saat itu, masih mengenakan seragam putih abu-abu. Terdapat banyak rasa di dalamnya. Masalah percintaan menjadi masalah yang paling nyentrik dalam masa putih abu-abu. Tentang rasa yang terus dipendam ditambah bumbu cemburu yang tak berhak. Sampai pada penghujung masa, kita mengakhiri dan sama mengakui.

Kau wanita baik, aku tidak pantas untukmu, katanya. Penghujung yang dramatis dan masih penuh misteri. Aku tidak mau bergulung dalam masa lalu. Aku sudahi dengan permisi. Setidaknya teka-teki itu tidak membuatku menyesal kembali walaupun penasaran membakar diri.

Tetiba, setelah hidup damai tanpa ada rasa cinta selain cinta padaNya, kau hadir. Mengubah warna dalam hidup. Warna yang kau bawa berbeda. Bukan warna biasa layaknya remaja kebanyakan. Rasa damai yang berubah jadi gundah. Rasa tenang yang berubah jadi remang. Kau hadir dengan banyak ambisi. Saat itu padahal aku pun sama-sama masih baru mengenal. Hari demi hari. Penantian demi penantian kau buat aku jauh terbang tinggi. Terlaaalu tinggi. Saat itu pula goresan takdir membawaku jatuh dalam jurang terdalam.

Kau wanita baik, aku tidak pantas untukmu, katanya. Penuturan kalimat yang sama dari orang yang berbeda membuatku geram sendiri.

Ah, kali ini mengalami luka yang lebih besar. Tapi, aku mempunyai Allah yang maha besar. Sehingga pada akhirnya luka itu bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu berusaha mengobati. Karena untuk move on kita tak perlu melupakan hanya merelakan. Memetik hikmah dalam peristiwa tersebut. Meski masih banyak pertanyaan, cukup lah sampai disini. Tak perlu lagi ada yang ditanyakan jika ini memang jalannya. Karena, dengan ini aku tahu. Bahwa kau bukan yang terbaik untukku.

Advertisements