Posted in Self Reminder

Self Reminder

Untuk menjadi seorang Khalifah di bumi, perlu sang Khaliq untuk menemani

Kita hanya manusia biasa. Perlu bantuan, dan juga perlu bimbingan. Tidak ada tempat meminta selain kepadaNya. Tidak ada penolong selain dari pertolonganNya. Setiap detik, setiap langkah, setiap tarikan dan hembusan nafas, tak pernah luput dari bidikanNya. Dia itu dekat. Semakin kita dekat padaNya, Dia semakin erat menggenggam kita, menuntun kita agar terus ada pada jalanNya.

Hidup tidak selalu mudah. Ada suka dan duka. Ada tangis dan tawa. Hidup juga tidak akan selalu sesuai rencana yang kita rencanakan. Kadang, takdir datang tak sesuai dengan harapan. Ada orang yang pandai menyikapi ada juga orang yang gagal menyikapi.

Kita sering mengeluh. Kita sering meminta. Kita sering marah saat keadaan tak sesuai harapan. Tapi, apakah kita pernah berkaca? Seberapa banyak bakti kita kepadaNya? Seberapa banyak kita menunda kewajiban dariNya? Seberapa sering kita melanggar aturanNya? Seberapa banyak kita meminta ampun kepadaNya? Seberapa sering kita melibatkan urusan kepadaNya? Seberapa sering kita duduk mesra di atas sajadah merayuNya? Lalu, masih pantaskah kita kecewa kepadaNya setelah nikmatNya kita dapatkan?

Dia tak pernah tidak mau untuk mengampuni hambaNya walaupun dosanya sebanyak buih di lautan. Dia pun tak pernah ingkar dengan janjiNya. Saat kita mendekatiNya dengan cara merangkak, Dia akan mendekati kita dengan berjalan. Saat kita mendekatiNya dengan cara berjalan, Dia akan mendekati kita dengan berlari. Semakin kita mendekatiNya, maka Dia pun semakin mendekati kita. Semakin kita ingat padaNya, maka Dia pun akan semakin semakin ingat pada kita. Layaknya orang yang termasyhur di muka bumi, yang mempunyai harta yang berlimpah, jabatannya tinggi, di agung-agungkan oleh rakyat, jarang orang yang bisa bertemu dengannya tapi kita sebagai rakyat biasa diingat oleh orang termasyhur tersebut. Banggakah kita? Tentu bangga.

Begitupun denganNya. Selalu terjadi keajaiban-keajaiban di hidup ini. Saat kita lemah, lelah, saat kita tidak tau apa lagi yang harus kita perbuat, tapi kita tau Allah selalu ada, Allah selalu tau, kita meminta kepadaNya. Kita meminta ampunan dan petunjuk kepadaNya, kita mencurahkan apa yang kita khawatirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, dan semua apa yang ada dalam pikiran dan hati kita semuanya tumpah ruahkan dalam bait doa sepertiga malam, itu akan menjadi jalan menuju titik terang. Jalan menuju ketenangan, jalan menuju jawaban-jawaban atas segala pertanyaan. Asal dengan syarat sabar dan ikhlas.

Karena ada keindahan di balik sabar. Juga, ada ketenangan jiwa di balik keikhlasan.

Advertisements
Posted in curhatan santri

Si Akang Viral

Syairan ini sempat viral beberapa minggu kebelakang. Video yang awalnya dinyanyikan santri putri dari Sunda ini jadi banyak yang mengikuti dan banyak juga jawaban aneh dan lucu dari santri putra.

Aku dan kawan-kawan Bait Ahlil Qur’an sengaja ikut meramaikan syairan santri ini.

Berikut videonya semoga terhibur.

Lirik :

Aduh akang, Eneng rindu

Ka Akang nu sok ngarayu

Nu sok ngomong I love you

Jawab Eneng I love you too

Pan bareto Akang ntos janji

Bade sahidup samati

Bade nyandak wali ka bumi

Tapi dugi ayeuna can pasti

Eneng ngantosan di bumi

Akangna can dugi dugi

Nu sanesna kantos ka bumi

Tapi Eneng emut ka Akang.

Syairan tersebut menceritakan kerinduan si Eneng pada si Akang yang suka merayu dengan kata I Love you, lalu si Eneng menjawab I Love you too. Si Akang menjanjikan untuk sehidup semati, lalu mau bawa wali ke rumah tapi sampai sekarang belum pasti. *Uhuuuuk*

Si Eneng menunggu kedatangan si Akang di rumah, tapi si Akang nya belum nyampe juga. Yang lain sudah pernah ada yang datang ke rumah, si Eneng nya masih inget sama Akang.

Mengharukan, ya.

Apalagi yang mengalami. Ya menunggu memang sakit kalau tanpa kepastian.

Posted in Travel

Ke Ancol Tanpa Rencana

Menulis dengan jiwa yang selalu berdiam diri dalam zona nyaman memang tidak akan pernah berkembang. Menulis perlu wawasan dan pengetahuan yang cukup luas. Maka dari itu, biasanya penulis tak pernah selalu diam di dalam Cafe duduk santai menikmati kopi di depan laptop. Tapi, penulis perlu berpetualang.

Kenapa jarang posting? Karena kegiatan sekarang lebih banyak di lakukan di dalam ruangan. Seperti makan, tidur, ngafal, setoran. Sekedar itu saja. Jadi, untuk keluar menjelajahi dunia, atau seperti tahun kemarin saat di Jogja, masih belum bisa. Belum waktunya.

Nah, kemarin tanggal 10 September aku dan tiga temanku mengantarkan teman ke bandara yang mau boyong ke Aceh.

Kita yang mengantar teman ke bandara.

Dengan keadaan kantong yang kering, kita pergi ke bandara. *Dengan hasil uang pinjaman dan Anti Riba Riba Club.

Singkat cerita, setelah kita mengantarkan teman ke Bandara, dengan kaki gemetar, hati berdebar bertemu pacar. Aih bukan itu. Kaki gemetar perut keroncongan karena kelaparan, kita makan di rumah makan terdekat. Walaupun mahal, tak apalah untuk perut. Tapi, sepertinya makanan tidak sampai ke perut, baru sampai kerongkongan. Bagaimana tidak? Nasi seuprit harganya 10 ribu dan ayam kremes banyak tulang 25 ribu. Apa kenyang? Setelah makan dan belum kenyang, Bunda mengajak kita untuk ke Ancol, karena mumpung lagi di luar. Sang ketua asrama langsung mengiyakan dan heboh. Aku memikirkan hal ini lebih jauh lagi. Masalahnya belum ada uang. Tapi, ini juga merupakan kesempatan. Karena aku belum pernah ke sana. Okelah, untuk kali ini uang jangan dulu di pedulikan.

Akhirnya dengan segala kegalauan, keuangan dan kendaraan yang ada, kita pilih naik taxi online. Dengan hanya mengocek kantong sebesar 25 ribu, kita bisa masuk Pantai Ancoooool. Yeay.

Ada salam, nih dari Singlelillah

Sungguh lucu Jakarta. Keindahan alam yang di padu padankan dengan kehidupan metropolitan yang sangat apik di sajikan.

Ancol menurutku penyegaran dalam ingar bingar metropolitan. Dan kamu bagiku, penyejuk dalam hiruk pikuk kehidupan. Eaaaaak

Kita benar-benar menikmati keindahan alam yang di sajikan apik oleh semesta yang di kolaborasi oleh manusia.

Teruntuk Ancol, terimakasih.

Posted in Sharing

Jangan Kotori Niat Baik dengan Maksiat

Memang, segala rencana tidak bisa dengan mudah untuk di wujudkan. Kenyataan juga harus berbeda dengan perencanaan. Niat baik tak pernah selalu berjalan dengan mulus. Selalu ada godaan syetan yang melintas. Mengotori niat baik yang membuat pahala terhapus.

Apa kabar hati?

Apa kabar iman?

Ada yang bilang, “Salah satu ujian dari seorang penghafal adalah ingin menikah. Ada juga salah satu anugerah seorang penghafal adalah ada yang mengajak menikah”.

Menikah bukan suatu perkara yang mudah. Menikah perlu persiapan mental dan fisik. Menikah perlu persiapan untuk membangun cinta. Tidak selalu perihal cinta, tapi perihal bagaimana membangun generasi Qurani dengan penuh cinta. Menikah semakin akrab di telinga dengan nikah muda. Nikah di umur yang terbilang muda. Ah, menurutku di zaman dahulu nikah selalu di usia muda. Seperti yang di ceritakan Mama.

Menikah adalah ibadah, dimana separuh dari ketaqwaan kita di sempurnakan. Membangun rumah tangga dalam ketaatan. Mendidik keluarga dengan penuh kesabaran.

Menikah bukan hanya karena kita jatuh hati pada seseorang yang menarik hati. Tapi, menikah karena agamanya, itu sangat di anjurkan.

Proses sebelum menikah, biasanya ada yang dinamakan Ta’aruf atau perkenalan. Bukan pacaran. Tapi terkadang, ada pacaran di bawah naungan ta’aruf. Ngakunya ta’aruf tapi nyatanya seperti orang pacaran. Na’udzubillah. Niat baik, tolong jangan di kotori dengan maksiat. Proses ta’aruf juga bukan berarti dia adalah jodoh kita. Maka dari itu, akhwat seharusnya lebih siap kalau ada ikhwan yang mengajak ta’aruf. Harus siap dengan apa yang Allah rencanakan. Baik itu mungkin akan berlangsung ke pelaminan atau mungkin akan berujung jadi tamu walimahan.

Syetan memang tidak mau berhenti menggoda anak cucu Adam. Lagi suka sama seseorang, syetan bilangnya pengen deket-deketan. Jadi stalker sejati demi mencari tau si doi. Lagi ta’arufan, syetan bilangnya komunikasi perlu. Padahal tidak ada yang terlalu penting untuk tidak dibicarakan. Hati bilang cukup tapi nafsu bilang santai, ini hanya sebatas ini itu saja, kok. Tidak berlebihan. Dan kita, lebih memilih nafsu. Kita terlalu sibuk menutupi kebenaran dibandingkan kejahatan.

Jadi, tolong! Jangan kotori niat baik dengan berbuat maksiat.