Posted in Sharing

Pesan Bapak Tentang Nikah Muda

Nikah muda sebenarnya belum waktunya, belum mapan kehidupannya maupun ilmunya. Seharusnya, mapan dulu terutama di bidang ilmunya. Karena, jika sudah menikah, terkadang untuk mencari ilmu itu sulit. Makanya dari waktu muda, itu adalah kesempatan emas mencari ilmu. Ilmu, sedikit saja, tidak perlu panjang-panjang. “Sakalimah asal kabawa ka imah”. Maksudnya, kalau kita mendengarkan satu cerita, kita harus faham. Maksud ‘kabawa ka imah’ (Kebawa ke rumah) di praktekkan. Seperti kita membaca ta’awudz, “Aku berlindung kepada Allah” nah kita berlindung kepada Allah, hati-hati kita harus tahu artinya dan di praktekkan. Berlindung, berarti kita dekat dengan Allah, tingkah laku harus benar. “Dari godaan Syetan yang terkutuk”, yang terkutuk itu adalah yang di belenggu, bahwa perilaku kita jangan sampai seperti Syetan. Harus spserti manusia biasa. “Ari ta’awudz meni lekoh ari kalakuan siga jurig” berarti itu belum benar ta’awudznya.

Di teruskan membaca Basmallah. “Dengan menyebut nama Allah”, insyaa Allah 99 terucap dalam kalimat ‘Bismillah’. “Yang Maha Pengasih”, mau kristen, katolik, budha, konghuchu, maupun Hindu, oleh Allah pasti di beri rizki tapi tidak di cintai. “dan Yang Maha Penyayang”, Allah sayang sama kita, sudah jelas. Allah sudah jelas sayang sama kita, kita harus sayang kepada makhluk Allah, semua makhluk Allah pasti sayang kepada kita. Seperti halnya Bung Fiersa, dalam Konspirasi Alam Semesta. Hakikatnya, semua alam ini berkonspirasi. Saling kerterkaitan. Sang Maha sudah jelas sayang kita, kita juga harus sayang makhlukNya, maka MakhlukNya akan sayang pada kita.

Jangan panjang-panjang ngaji mah, itu aja di tela’ah, ucap si Bapak.

Sekarang masalah nikah muda, pertama ilmu belum mapan, kalau kurang ilmunya menimbulkan pertengkaran, yang di kejar cuma dunia, sebab banyak kebutuhan. Kalau kita sudah tahu Allah, mudah. Kalau kita berdo’a pasti di kabulkan. Kenapa do’a kita tidak di kabulkan? Sebab, kita tahu ilmunya. Coba cek, ketika kita berdo’a, pikiran kita ke Allah, gak? Engga. “Ya Allah turunkan rezeki yang halal dan barokah”, jangan bilang halal dan barokah. Sebab sama Allah di beri rezeki, gak zakat, gak sedekah, barokah gak? Engga. Mintanya jangan seenaknya kita “Ya Allah aku minta diturunkan titipan rezeki olehMu, rezeki yang berlimpah, serta aku bisa membawanya di jalan yang di Ridhoi Allah”. Jangan sampai kita berdo’a, Ya Allah aku ingin motor buat ojeg. Siapa tahu Allah memberi bis. Jadi, jangan sampai do’anya di patok oleh kita sendiri. Tapi, kita juga harus bisa membaca diri kita sendiri. Pertama syariat, hakikat, tarekat, dan ke empat ma’rifat terakhirnya sampai sepuluh, Rahmatan lil ‘alamin. Kasih sayang Allah, lil ‘alamin yang berarti untuk seluruh alam. Perilaku kita harus bisa sampai sana, rahmatan lil ‘alamin. Jangan sampai kita terus menerus syari’at, hakikatnya tidak dilaksanakan. Kita berusaha menjadikan rumah tangga sakinah mawaddah warahmah, itu hal mudah. Anak kecil aja bisa. Sekarang, harus bagaimana? Harus tau ilmunya. Pertama, ada yang pernah mati suri mengatakan 80% di neraka adalah perempuan. Apa sebabnya? Padahal perempuan mudah untuk masuk surga kalau punya ilmunya. Kalau perempuan mengabdi kepada suami. Kalau kata suami “Jangan keluar sebelum akang pulang”, diam saja di rumah, jangan sampai keluar rumah seperti shopping. Kalau keluar rumah itu sudah masuk dosa besar. Ada juga perempuan yang masuk ke surga, seperti apa? Yaitu yang taat kepada suami. Misalnya, suami pulang kerja, siapkan air 1 gelas. Kalau dulu si istri siapin tongkat, “Kang, kalau saya salah, silahkan pukul”. Sekarang, gak ada yang kaya gitu.

Surga tidak hanya di akhirat saja. Di dunia juga ada. Begitu pun neraka. Contoh, adanya jembatan shiratal mustaqim yang diibaratkan rambat 1 helai di bagi 7. Di dunia, dalam 1 minggu itu di bagi 7. Dari ahad sampai sabtu. Dari 7 hari itu, kalau kita tergelincir, garansi sampai akhirat juga akan masuk ke neraka. Ucapan kita, harus baik. Tingkah laku, harus baik. Tekad, harus baik. Ucap, tekad, tingkah laku harus sama. Kalau kita membaca ta’awudz, harus sampai sama. Sekarang, ingin kita di jauhkan dari godaan syetan, tapi tingkah laku seperti syetan. Bukan menjauh. Jadi, kalau nikah muda tanpa mempersiapkan ilmu, sulit. Sebab banyak kebutuhan, ngejarnya materi. Kalau memang sudah siap nikah dengan umur yang cukup juga ilmunya, ibadah tidak akan terlunta-lunta. Sebab, orang-orang dulu pernah berkata, “Ibadah mumpung masih muda, sebab nanti kalau sudah punya istri/suami, banyak kebutuhan. Belum anak nangis lagi sholat, pipislah, beraklah, jadi terhambat”. Apabila kita tau ilmunya, kita tidak akan pernah meninggalkan sholat, kecuali ada halangan di perempuan. Karena itu Bapak berpesan “Sok cari ilmu, udah punya ilmu mah gampang, rezeki mah datang sendiri. Karena Bapak pengalaman. Usaha ini itu, tapi jauh dari Allah. Hanya tau saja ada Allah. Shalat aja. Tidak tau artinya. Kita jauh dari Allah, rezeki juga susah. Peribahasanya ingin 10 ribu aja, sampe keringat dari mata”.

Memang jodoh itu Allah yang atur. Tapi, kita harus tau nama siapa sama siapa, tempat tinggalnya dimana. Kalau jodoh nya bagus, tempat bagiannya bagus, tidak sulit mencari rezeki. Pasti ada jalan. Kalau jodohnya kurang pas di tambah tempatnya minus, minus lah hasilnya. Meskipun berdo’a sampai mengeluarkan air mata darah juga. Karena nama adalah do’a. Seperti Fetti. ‘fa’ dan ‘ta’. Ta nya di kasroh. Lahir senin, “Cageur, bageur, hoki”. Perilakunya serba mengalah. (Dalam hati, iya bener juga, sih. Wkwkwks). Dari pada ribut mending mengalah, pasti gitu kan? (Ketawa ketiwi dah kaya kuda). Tapi, mengalah untuk menang. Nanti, setelah orang lain bicara, baru bicara. Rezekinya, setiap kali di butuhkan pasti ada. Ada juga yang namanya ‘Alif’ ‘ghin’, contoh Agus. Sableng kelakuannya.

“Misalkan orang awam tidak faham dengan arti namanya, bagaimana caranya bisa tau?”

Doa. Misalkan kita ingin punya jodoh yang baik, baik untuk kita, baik di sisi Allah. Insya Allah, Allah mempertemukannya dengan yang baik. Sebab, doa tersebut di ijabah. Jangan sampai meminta kepada Allah jodoh yang ganteng, mapan, banyak uangnya, salah. Sebab nanti dalam agamanya kurang. Karena, tidak di sebutkan yang mengerti dalam agama, sekufu sama kita, justru harus lebih tinggi dari kita, karena jodoh itu untuk imam di dunia sampai akhirat. Mudah-mudahan mendapatkan jodoh yang di ridhoi oleh Allah, bisa menjadi imam, insya Allah di kabulkan.

“Apa yang menjadikan kriteria lelaki untuk di nikahkan dengan anak Bapak?”

Yang terpenting harus punya dasar ilmu agama, bisa ngaji, keluaran pesantren (sepertinya, line utama, nih). Soalnya rezeki ngikutin, asal bagus, plus namanya.

“Bagaimana kalau misalkan ada lelaki yang melamar salah satu dari 3 anak perempuan Bapak, sedangkan si anak Bapak ini masih jauh dari kriteria untuk siap menikah?”

Kalau belum mapan, jangan dulu serius. Lelaki juga harus lebih dari perempuan, baik dari segi umur, maupun ilmunya. Sebab, nanti yang akan jadi pemimpin. Kalau pemimpin adalah bawahan, bakalan terseret-seret, dari segala bidang.

“Bagaimana kalau yang melamar punya penghasilan sedikit tapi sudah hafal quran, ilmunya tinggi, sholeh, sip dah?”

Nah, itu yang di cari. Masalah dunia Allah yang atur. Yang terpenting kita tahu ilmunya. Sebab, mengaji itu susah. Manusia sekarang punya anak, kuliah biar gak susah cari kerja. Salah. Fondasi dulu yang kuat. Otomatis bangunan kuat, sebaliknya kalau fondasi asal-asalan bangunan akan roboh. Bapak mah gak muluk-muluk punya menantu insinyur, pengusaha besar, engga.

Semoga bermanfaat.

Advertisements
Posted in Sharing

Tentang Sebuah Kain

Cadar tentu bukanlah sebuah tanda kalau orang yang memakainya sudah menjadi perempuan yang sempurna, sholehah, tidak. Tidak selalu bisa dikatakan seperti itu. Tetapi, tidak bisa dikatakan juga yang memakai cadar semuanya tidak baik, tidak. Apalagi dikatakan teroris, oh itu salah besar. Di islam, kami tidak di perintahkan untuk saling menyakiti. Bahkan ke orang yang beda agama dengan kita saja, islam mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik.

Cadar merupakan salah satu tanda muslimah. Karena muslimah itu bagaikan mutiara. Sedangkan mutiara itu ada di dasar lautan, tentunya tidak sembarang orang yang bisa mengambil atau menyentuhnya. Harga sebuah mutiara pun mahal. Hanya orang tertentu yang bisa membelinya. Bukankah begitu? Begitu juga dengan seorang muslimah. Muslimah mahaaaal. Tidak boleh dengan murahnya memberikan segalanya kepada orang yang bukan mahram. Tidak mudah untuk di sentuh, tidak mudah untuk di gombali. Kamu mahal, wahai muslimah. Seharusnya diri kita lebih di jaga. Apalagi jangan sampai kita mudah untuk menjadi korban para php. Ada yang gombal, baper. Ada yang perhatian, baper. Jangan baper sebelum ada jabatan tangannya bersama walimu. Cukup baper setelah halal saja. Tidak ada kata ‘I love you’ sebelum menandatangi buku nikah.

Cadar bagiku adalah sebagai pengingat. Pengingat ketika syetan merayuku untuk bergabung bersamanya dalam perbuatan keji. Tapi, alhamdulillah selama ini memang benar-benar nyaman dengan memakai cadar. Jujur, keluargaku tidak ada yang memakai cadar, untuk pakaian syar’i saja bisa di bilang masih proses.

‘Bagaimana pendapat orangtua?’

Alhamdulillah, orangtuaku mendukung. Orangtuaku mengizinkan aku bercadar, walaupun mereka selalu bilang aku lebih cantik tidak memakai cadar. Apakah itu termasuk orangtuaku belum ridho? Ah, aku melupakan sesuatu yang penting itu. Biar nanti ku tanyakan.

Banyak kejadian lucu selama aku memakai kain yang bernamakan cadar itu. Mulai dari panggilan yang terdengar mengejek sampai yang menghormati. Ada yang manggil ninja, pencuri bahkan pernah ada seorang nenek yang berpapasan dengan aku dan nenek itu bilang ‘Ih meni sieun/ ih takut’. Antara sedih, malu dan lucu juga, sih sebenarnya. Candaan kaum lelaki juga tidak sama seperti ke perempuan lainnya. Mereka malah memberikan salam, atau manggil dengan ‘Bu Haji’. Pernah juga aku berpapasan dengan lelaki di jalan yang lumayan sempit, dan lelaki itu benar-benar nempel ke dinding, takut kalau dia bersentuhan denganku. Itu merupakan sebuah kehormatan karena merasa lebih terjaga dan lebih di hormati. Masalah banyak yang memandang itu sudah menjadi kebiasaan. Yang terpenting jangan lupa menyipitkan mata, tanda kalau kita tersenyum kepadanya, dan sebuah tanda juga, kalau kita juga menghargai mereka.