Posted in Sharing

Menepis Godaan

Assalamualaikum kawan-kawan yang di rahmati Allah. Mungkin sudah jarang lagi aku tidak menaruh kata demi kata dalam setiap pengalaman, peristiwa, dan sebuah hikmah yang aku alami. Sebenarnya aku sudah rindu dengan menulis. Tapi, setiap ada waktu luang justru hilang apa yang aku tulis. Entah kemana. Baiklah, sekarang aku akan coba.

Ada pepatah mengatakan, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Ya, begitu kira-kira. Aku termasuk orang yang santai seperti itu juga. Santai tapi pasti. Termasuk menghafal. Seorang temanku mengatakan “Fet, anti setiap setoran berapa halaman?” Aku jawab santai, satu. Rupanya dia menyahut kembali, “Oh, lama dong ya nanti khatam nya? Di tambah jadi dua halaman, memangnya gak bisa?” Pertanyaan itulah yang terus muncul di pikiranku. Dari itu, hafalanku terganggu. Aku benar-benar kurang konsentrasi. Keteguhanku goyah. Rencanaku yang ingin menikmati dalam menghafal mulai goyah. Ingin cepat khatam, cepat selesai. Akhirnya aku coba menghitung perkiraan waktu untuk aku menghafal. Di sana tertera banyak waktu untuk menambah hafalan saja, waktu muraja’ahnya kurang. Pada pelaksanaanya aku tidak bisa melakukan percepatan itu. Meskipun hanya 2 halaman. Aku pun kembali seperti semula, menghafal setiap malam, waktu yang lain di pakai untuk muroja’ah, dan semuanya tenang seperti sedia kala.

Kemudian datang lagi cobaan. Setelah membaca buku karya Saiful Falah yang berjudul “DARE (Dream, Action, Role Model, Evaluation), di sana di sebutkan untuk menentukan target, meninggalkan zona nyaman, salah satunya itu. Entah aku yang salah sasaran dalam keluar dari zona nyaman ini atau bagaimana, aku juga kurang faham. Dia menyebutkan “BAKAR KAPAL”. Seperti yang di katakan dia, aku juga menuliskan target. Dan mungkin karena egoku yang ingin cepat selesai, aku menuliskan :

“Apabila di ulang tahunku yang ke-20 saya belum khatam 30 juz, saya tidak akan pegang uang selama 5 tahun, itu artinya saya tidak bisa berbisnis dan traveling”

Dalam buku tersebut memang di haruskan dalam membakar kapal itu kita harus punya konsejuensi yang menyangkut nyawa kita. Harus seperti itu. Akhirnya aku kembali mengatur strategi, menentukan waktu menghafal dan muroja’ah. Walaupun saat setoranku bertambah deg-degan dan makin tidak lancar di halaman kedua. Pada akhirnya aku harus mengulang halaman itu besok. Kembali berfikir lagi, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan seperti biasa. Pelan tapi pasti. Menikmati dalam sebuah taman surga. Bapakku juga pernah bertanya minggu kemarin, beliau menanyakan sudah berapa juz yang aku dapatkan. Aku hanya tersenyum dan menjawab jujur. Bapak hanya berpesan “Tidak apa-apa. Yang terpenting Teteh hafal dengan isi apa yang di hafalkan. Bapak tidak terus-menerus memaksa Teteh cepat khatam, yang terpenting faham. Bapak selalu berdo’a untuk Teteh di setiap sholat tahajud. Semoga Teteh bisa menjadi penghafal Qur’an, bisa berdakwah, bisa menyampaikan apa yang terkandung dalam Qur’an. Masalah dunia, Allah yang atur. Kita sebagai manusia tidak perlu khawatir. Kalau kita sudah dekat dengan-Nya, dunia pun akan datang sesuai rezeki yang Allah tentukan. Maka dari itu, terus cari ilmu, jangan memikirkan terus-menerus urusan dunia. Semuanya mengikuti. Do’akan Bapak juga, agar bisa sehat selalu”. Ah, Bapak, aku rindu semua nasehat yang selalu diberikan selepas maghrib.

Ya, sekarang aku lebih memilih untuk menikmati. Untuk apa juga kalau ingin cepat khatam? Kalau bercita-cita ingin menjadi penghafal qur’an, itu artinya bersama qur’an-lah pekerjaannya. Itu lebih mulia. Daripada menghafal qur’an cepat tapi ujungnya tak pernah lagi memegang qur’an, tidak pernah lagi muroja’ah. Apa gunanya? Itulah yang di sering di katakan orang banyak. Kalau kita menghafal dan kita lupa itu dosa, ya karena itu. Karena tidak pernah lagi me-muroja’ah. Astaghfirullah. Semoga kita semua, kawan-kawan yang sedang berusaha menghafal baik itu di pondok atau rumah, yang sedang kuliah, sekolah atau kerja, hafalkan saja meskipun tidak hafal-hafal. Yang terpenting, kita bersama Al-qur’an. Karena ada keberkahan di dalamnya. Bayangkan saja, setiap huruf yang kita baca ada 10 kebaikan di dalamnya. Satu huruf, bukan satu kalimat. Maasya Allah.

Semoga Allah merahmati kita semua, mohon maaf bila ada kesalahan.

Terima kasih.

Syukron.

Arigatou.

Nuhun.

 

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s