Posted in Daily Life

Terpisah di Istiqlal 

Acara yang sudah di nanti-nantikan para Ikhwan dan Akhwat BAQ akhirnya sudah di depan mata. Minggu pagi, ba’da shubuh pergi ke masjid untuk ta’lim. Sekitar pukul 6, kita pulang. Tapi, pas banget bersiap untuk sarapan pagi, Kak Lala menyuruhku untuk kembali ke masjid lagi buat ngqji kitab tafsir. Akhirnya gak jadilah kami makan. Aku langsung bersiap-siap pergi ke masjid, lagi. Jam 9 baru keluar dari masjid. Kemudian, sarapan yang sempat tertunda. Jadwalku hari ini juga harus nyuci. Mandi juga belum. Sayang juga hari ini pesanan baju buat pergi ke acara Hari Qur’an di Istiqlal belum nyampe. Yowis aku pake jubah item ini. Tapi, jam 11.30 setelah makan siang aku di panggil Dini buat ngambil baju di Kak Muna, asrama lama. Dengan alasan Kak Muna sakit. So, gak bisa ikut acara. Alhamdulillah banget, tuh akhirnya aku pake baju samaan. 

Ba’da dzuhur kita kumpul dan naik bis di satukan dengan ikhwan juga. Jam 13.21 bis kita baru berangkat dan terjebak macet. Nyampe kesana sekitar 14.30. Masya Allah masjid terbesar se-Asia dengan di depannya ada Katedral. Yang menunjukkan toleransi yang nyata, dan aku baru pertama kalinya ke sini. Disana udah penuh banget. Aku ngikutin aja rerus Kak Ju sama Kak Lala. Sampe di batas suci, kita copot sandal dan di masukkan ke kantong plastik yang udah aku siapkan sama Kak Ju. Di simpan lah sandalku ke dalam kantong plastik dan membawanya. 

Lalu, kita ke tangga. Eh, tanganku ada yang megang. Kak Hasna, kok bukan siapa-siapa. Tanganku di tarik, tuh sama Kak Hasna. 

“Ayo wudhu dulu. Nanti penuh”

“Eh yang lain udah pada ke atas. Tapi, aku juga mau wudhu lagi, sih” kataku. 

Akhirnya, aku pisah sama mereka, teman sekamarku. Fyi, Kak Hasna ini anak asrama lama. Aku pun berwudhu bareng Kak Hasna, Kak Nafi, Kak Halimah dan Kak Lusi. Masuk lorong. Langsung, barang-barang, termasuk kantong plastik sandal, tas dan kaos kaki. Kak Nafi dan Kak Hasna bagian jaga, yang lain ke kamar mandi tapi, aku ke tempat wudhu. Karena aku gak melihat lagi mereka di depanku. Okelah aku cepet-cepet jalan ke tempat wudhu. Aku ikutin yang di depan karena gak tau apa-apa. Pulangnya, aku nyampe nyasar gara-gara lupa jalan pulang. Setelah itu, berhenti di lorong. Seeeeet!!! Zonk!!! Blas gak ada yang aku kenal. Orang atau pun barang. Huwaaaaaa  kalo gak inget sama Allah, rasanya aku pengen nangis dah. Aku panik, dong. Hp, dompet semuanya ada di tas. Sedangkan tasku ilang. 

Serahin semuanya ke yang Maha Punya. Kataku dalam hati. Aku langsung dzikir terus, antara panik dan tenang juga, sih. Aku cari ke bagian kiri, gak ada. Pas liat pos informasi, pintunya di tutup. Makin panik lah aku. Terus mencoba pasrah. Semua orang aku liatin. Nihil. Aku balik lagi ke lorong. Nihil. Nanya tuh ke orang yang ada di sekitar situ. Nihil juga. 

Ya Allah Hp ku di tas. Aku gak bisa hubungin siapa-siapa kecuali diriMu. Hanya Engkau yang sekarang aku punya. Tolong aku Ya Allah, bantu aku. Aku terus sebisa mungkin untuk pasrah, terus dzikir. Gini, nih yang biasanya kemana-mana sendiri, bodo amat dengan siapa pun, jalan cepet, sekarang pergi rombongan. Bingung, akhirnya aku naik tangga. Bingung mau masuk mana. Lantai utama atau lantai 2. Tapi, karena si Bapak panitia menyuruh untuk ke lantai 2, akhirnya naik lagi ke tangga lantai 2. Disana ada ikhwan BAQ juga, aku kenal mereka dari bajunya. Orangnya mah tau lah dia siapa. Dalam hatiku bilang, tanya sama mereka. Tapi, aku tetep jalan. Sambil menghindari ikhwan lain, takut kalau wudhu ku batal. Aku juga menutupi kakiku yang terbuka dengan gamis panjangku. Karena aku bingung, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya sama si ikhwan itu. 

“Kak, dari BAQ kan?”

“Iya, kak”

“Liat akhwat lain, gak pergi kemana? Aku tadi pisah sama mereka”

“Tadi, sih kesana” sambil menunjuk ke pintu masuk lantai 2. “Coba tanya ustadz aja” 

Aku pun menjelaskan ke ustadz, guruku juga. Qadarullah, ustadz itu, Pak Anam namanya, tadi minta nomor Kak Nafi. Di telepon lah ia. Ternyata Kak Nafi masih di kamat mandi. Akhirnya, aku menunggu mereka disana. Maluuuuu. Disana semuanya ikhwan. Aku akhwat sendiri, pake cadar pula, kaos kakiku tertinggal disana. Aku turuninlah gamisku. Ketika adzan berkumandang, aku masih bingung, kata Pak Anam ikuti aja kami. Yowis aku ikuti mereka dari belakang. Astagfirullah, saat itu aku merasa Pak Anam lah satu-satunya jalan yang buat aku bertemu lagi dengan mereka. Sedangkan aku terus berdzikir. Dusta kah aku? Munafik kah aku? Kami pun berpisah, karena tempat ikhwan dan akhwat berbeda. 

“Nanti kamu tunggu aja di sekitaran sini” ucap Pak Anam. 

Masuk ke tempat akhwat, nyari tempat duduk dan bingung mau sholat ashar bagaimana? Kerudungku memang panjang, tapi kakiku kemana-mana. 

“Mba, gak sholat, kan? Ucap seorang ibu yang terlihat mau sholat dan ingin menempati tempat dudukku karena mengira aku berhalangan. 

“Eng… Ng… Nggak bu” dengan gelagapa akhirnya aku mundur ke belakang, gabung dengan yang sedang berhalangan juga. 

Saat itu aku sibuk memikirkan sholat bagaimana. Mau pinjem, ke siapa? Yaudah lah ya nanti juga bertemu sama Kak Nafi. Aku terus lihat ke arah pintu masuk lantai 2. Nihil terus. Sampe akhirnya sholat selesai, aku menunggu Pak Anam dan ikhwan lain lumayan lamaaaaa.

Nah, pas yang ditunggu mulai muncul, ikhwan BAQ itu kok melihat ke arahku dengan tatapan kasihan. Sedangkan aku merasa bodo amat yang penting bertemu Kak Nafi dan barang-barangku. 

“Duh gimana ya? Kamu tunggu di sini aja, ya. Kita mau pergi beli pulsa dulu” kata Pak Anam. 

Dari itulah aku tersadar, Pak Anam gak bakalan bisa menolongku. Kalau pun bisa itu atas izin Allah. Wong semuanya milik Allah. Dunia di atur sama Allah, yang ngasih pertolongan hanya Allah. Tapi, kenapa masih berharap sama selain Allah? Situ sehat? 

Sejak itu, aku sadar. Aku terus berdzikir dengan mulai menyatukan antara hati, akal, dan ruh dalam jasadku. Semuanya milik Allah. Tujuanku saat itu, menunggu orang di depanku yang sedang sholat karena tertinggal, untuk ku pinjam mukenanya. Karena hal yang tidak boleh d tinggalkan adalah SHOLAT. Wallahu a’lam bishowab. 

Bersambung…

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

2 thoughts on “Terpisah di Istiqlal 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s