Posted in Bloggers' Challenges

#BC69 : Salam Rindu dari Fetty 

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan Bloggers’Challenges yang ke-69 dari Roby dengan topik “Perpisahan”. Kali ini aku buat dalam bentuk puisi. 
Semalam, aku bermimpi 

Saat itu aku dibawa ke masa putih abu-abu lagi

Memakai seragam putih abu-abu dengan kerudung rawis putih

Di gebrak untuk mengikuti upacara senin pagi 

Mimpiku berlanjut ke memori usang yang belum pernah pergi 

Masih selalu terngiang di pikiran, terasa di hati

Cerita mondok sambil sekolah, mungkin membuat orang lain iri

Atau tidak sama sekali 

Bangun tidur pagi sekali 

Mengambil wudhu pun mengantri, apalagi mandi

Di gebrak pula di suruh mengaji

Sampai di pengajian kantuk tak tertahan sampai akhirnya tidur lagi

Kalau ada talaran mana mau untuk mengaji 

Apalagi talaran Amsilati

Selesai ngaji harus segera sekolah pagi

Kalau tidak, datanglah akang berpeci

Semangat sekolah karena akan bertemu si doi

Eh ternyata si doi di ambil sahabat sendiri

Jadinya sakit hati 

Untung tidak sampai bunuh diri 

Bolos menjadi penghias hari

Karena pelajaran yang kurang mengerti 

Apalagi Fisika bersama Pak Dedi

Pelajarannya rumit sekali

Belum pernah jatuh cinta sampai saat ini

Yang ada hanya benci

Lebih asyik kalo berorganisasi

Masuk Paskibra walau tubuh kurang tinggi 

Ikut lomba LKBB sampai se-provinsi

Walau juara hanya sesekali 

Tapi pengalaman tak pernah terganti

Ngaji sore menjadi kewajiban bagi santri

Ngaji malam apalagi 

Tertidur di kelas selalu ku alami 

Kabur-kaburan adalah kegiatan sehari-hari

Kalau merasa suntuk di asrama putri 

Dari yang dekat sampai yang jauh aku pergi

Akan di hukum pun aku tak peduli

Karena aku ingin senang kembali 

Senin adalah hari yang di tunggu-tunggu santri putri 

Karna hp di bagi

Walaupun WA, grup yang memenuhi 

Bukan si doi

Ah, kasihan sekali

3 tahun aku alami 

Walau akhirnya perpisahan menghiasi

Air mata trus membasahi 

Karena sedih sekali

Tanpa putih abu-abu telah pergi 

Perpisahan terasa berat karena di tangisi

Tapi aku tak tahan lagi

Semuanya menjadi sibuk sendiri-sendiri

Untuk mengejar mimpi 

Melihat kegiatannya hanya di Instastory 

Walaupun sepintas tapi rinduku terobati 

Sahabat-sahabat Fetty, 

Semoga kita bisa bertemu kembali. 

Bekasi, 15 Februari 2018

Advertisements
Posted in Daily Life

Terpisah di Istiqlal 

Acara yang sudah di nanti-nantikan para Ikhwan dan Akhwat BAQ akhirnya sudah di depan mata. Minggu pagi, ba’da shubuh pergi ke masjid untuk ta’lim. Sekitar pukul 6, kita pulang. Tapi, pas banget bersiap untuk sarapan pagi, Kak Lala menyuruhku untuk kembali ke masjid lagi buat ngqji kitab tafsir. Akhirnya gak jadilah kami makan. Aku langsung bersiap-siap pergi ke masjid, lagi. Jam 9 baru keluar dari masjid. Kemudian, sarapan yang sempat tertunda. Jadwalku hari ini juga harus nyuci. Mandi juga belum. Sayang juga hari ini pesanan baju buat pergi ke acara Hari Qur’an di Istiqlal belum nyampe. Yowis aku pake jubah item ini. Tapi, jam 11.30 setelah makan siang aku di panggil Dini buat ngambil baju di Kak Muna, asrama lama. Dengan alasan Kak Muna sakit. So, gak bisa ikut acara. Alhamdulillah banget, tuh akhirnya aku pake baju samaan. 

Ba’da dzuhur kita kumpul dan naik bis di satukan dengan ikhwan juga. Jam 13.21 bis kita baru berangkat dan terjebak macet. Nyampe kesana sekitar 14.30. Masya Allah masjid terbesar se-Asia dengan di depannya ada Katedral. Yang menunjukkan toleransi yang nyata, dan aku baru pertama kalinya ke sini. Disana udah penuh banget. Aku ngikutin aja rerus Kak Ju sama Kak Lala. Sampe di batas suci, kita copot sandal dan di masukkan ke kantong plastik yang udah aku siapkan sama Kak Ju. Di simpan lah sandalku ke dalam kantong plastik dan membawanya. 

Lalu, kita ke tangga. Eh, tanganku ada yang megang. Kak Hasna, kok bukan siapa-siapa. Tanganku di tarik, tuh sama Kak Hasna. 

“Ayo wudhu dulu. Nanti penuh”

“Eh yang lain udah pada ke atas. Tapi, aku juga mau wudhu lagi, sih” kataku. 

Akhirnya, aku pisah sama mereka, teman sekamarku. Fyi, Kak Hasna ini anak asrama lama. Aku pun berwudhu bareng Kak Hasna, Kak Nafi, Kak Halimah dan Kak Lusi. Masuk lorong. Langsung, barang-barang, termasuk kantong plastik sandal, tas dan kaos kaki. Kak Nafi dan Kak Hasna bagian jaga, yang lain ke kamar mandi tapi, aku ke tempat wudhu. Karena aku gak melihat lagi mereka di depanku. Okelah aku cepet-cepet jalan ke tempat wudhu. Aku ikutin yang di depan karena gak tau apa-apa. Pulangnya, aku nyampe nyasar gara-gara lupa jalan pulang. Setelah itu, berhenti di lorong. Seeeeet!!! Zonk!!! Blas gak ada yang aku kenal. Orang atau pun barang. Huwaaaaaa  kalo gak inget sama Allah, rasanya aku pengen nangis dah. Aku panik, dong. Hp, dompet semuanya ada di tas. Sedangkan tasku ilang. 

Serahin semuanya ke yang Maha Punya. Kataku dalam hati. Aku langsung dzikir terus, antara panik dan tenang juga, sih. Aku cari ke bagian kiri, gak ada. Pas liat pos informasi, pintunya di tutup. Makin panik lah aku. Terus mencoba pasrah. Semua orang aku liatin. Nihil. Aku balik lagi ke lorong. Nihil. Nanya tuh ke orang yang ada di sekitar situ. Nihil juga. 

Ya Allah Hp ku di tas. Aku gak bisa hubungin siapa-siapa kecuali diriMu. Hanya Engkau yang sekarang aku punya. Tolong aku Ya Allah, bantu aku. Aku terus sebisa mungkin untuk pasrah, terus dzikir. Gini, nih yang biasanya kemana-mana sendiri, bodo amat dengan siapa pun, jalan cepet, sekarang pergi rombongan. Bingung, akhirnya aku naik tangga. Bingung mau masuk mana. Lantai utama atau lantai 2. Tapi, karena si Bapak panitia menyuruh untuk ke lantai 2, akhirnya naik lagi ke tangga lantai 2. Disana ada ikhwan BAQ juga, aku kenal mereka dari bajunya. Orangnya mah tau lah dia siapa. Dalam hatiku bilang, tanya sama mereka. Tapi, aku tetep jalan. Sambil menghindari ikhwan lain, takut kalau wudhu ku batal. Aku juga menutupi kakiku yang terbuka dengan gamis panjangku. Karena aku bingung, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya sama si ikhwan itu. 

“Kak, dari BAQ kan?”

“Iya, kak”

“Liat akhwat lain, gak pergi kemana? Aku tadi pisah sama mereka”

“Tadi, sih kesana” sambil menunjuk ke pintu masuk lantai 2. “Coba tanya ustadz aja” 

Aku pun menjelaskan ke ustadz, guruku juga. Qadarullah, ustadz itu, Pak Anam namanya, tadi minta nomor Kak Nafi. Di telepon lah ia. Ternyata Kak Nafi masih di kamat mandi. Akhirnya, aku menunggu mereka disana. Maluuuuu. Disana semuanya ikhwan. Aku akhwat sendiri, pake cadar pula, kaos kakiku tertinggal disana. Aku turuninlah gamisku. Ketika adzan berkumandang, aku masih bingung, kata Pak Anam ikuti aja kami. Yowis aku ikuti mereka dari belakang. Astagfirullah, saat itu aku merasa Pak Anam lah satu-satunya jalan yang buat aku bertemu lagi dengan mereka. Sedangkan aku terus berdzikir. Dusta kah aku? Munafik kah aku? Kami pun berpisah, karena tempat ikhwan dan akhwat berbeda. 

“Nanti kamu tunggu aja di sekitaran sini” ucap Pak Anam. 

Masuk ke tempat akhwat, nyari tempat duduk dan bingung mau sholat ashar bagaimana? Kerudungku memang panjang, tapi kakiku kemana-mana. 

“Mba, gak sholat, kan? Ucap seorang ibu yang terlihat mau sholat dan ingin menempati tempat dudukku karena mengira aku berhalangan. 

“Eng… Ng… Nggak bu” dengan gelagapa akhirnya aku mundur ke belakang, gabung dengan yang sedang berhalangan juga. 

Saat itu aku sibuk memikirkan sholat bagaimana. Mau pinjem, ke siapa? Yaudah lah ya nanti juga bertemu sama Kak Nafi. Aku terus lihat ke arah pintu masuk lantai 2. Nihil terus. Sampe akhirnya sholat selesai, aku menunggu Pak Anam dan ikhwan lain lumayan lamaaaaa.

Nah, pas yang ditunggu mulai muncul, ikhwan BAQ itu kok melihat ke arahku dengan tatapan kasihan. Sedangkan aku merasa bodo amat yang penting bertemu Kak Nafi dan barang-barangku. 

“Duh gimana ya? Kamu tunggu di sini aja, ya. Kita mau pergi beli pulsa dulu” kata Pak Anam. 

Dari itulah aku tersadar, Pak Anam gak bakalan bisa menolongku. Kalau pun bisa itu atas izin Allah. Wong semuanya milik Allah. Dunia di atur sama Allah, yang ngasih pertolongan hanya Allah. Tapi, kenapa masih berharap sama selain Allah? Situ sehat? 

Sejak itu, aku sadar. Aku terus berdzikir dengan mulai menyatukan antara hati, akal, dan ruh dalam jasadku. Semuanya milik Allah. Tujuanku saat itu, menunggu orang di depanku yang sedang sholat karena tertinggal, untuk ku pinjam mukenanya. Karena hal yang tidak boleh d tinggalkan adalah SHOLAT. Wallahu a’lam bishowab. 

Bersambung…

Posted in Daily Life

Curcol Rindu Komorebi 

Jum’at, 26 Januari 2018

Assalamualaikum! 

Kamis, jum’at di pekan 1 dan 3 ini mungkin akan banyak muncul tulisanku. Karena, di tempat yang baru, peraturan juga baru pastinya. Apa kabar para pembaca Komorebi ku semua? Masih setia dengan Komorebi, kan? 

Sedikit curhat, kalo gak mau baca, lanjut aja ke paragraf selanjutnya. Eh, tapi, kayanya bakalan curhat semua. 

Di hari jum’at yang mendung ini, aku baru punya waktu buat mikir dan nulis kek gini di Bujo ku. Yang biasanya buat diary, aku ubah jadi sedikit lebih keren ke Bujo. Alias Bullet Journal. Gatau? Ke mbah google dulu aja lah ya sono, hehe. Walaupun gak se-aesthetic yang lain. 

Hari selasa kemarin (23/1) sebenarnya aku udah sibuk dengan setoran ke umi. Tapi, masih binnadzor (melihat). Tidak ada waktu selain dengan Al-qur’an. Sesekali mungkin hanya bercerita dengan teman-teman yang lain, dan mengerjakan pekerjaan pribadi. Untuk hari jum’at, sabtu, dan minggu kosong. Pagi ada ta’lim, sih. 

Sebenarnya aku pengen nonton Dilan. Serius. Katanya disini boleh, sih keluar. Di Grand Mall juga ada Cinema. Tapi, harus izin ke umi. Nah, permasalahannya aku harus izin apa ke Umi. Gitu. Pengen beli buku juga. Oh iya, rekomendasiin buku yang bagus, dong. Komen ya. Gabut syekali aku ini pengen baca buku. 

Okay good bye. 

Thanks 

Terimakasih 

Syukron 

Hatur nuhun. 

Posted in Bloggers' Challenges

#BC68 : Punya Temen Moody-an? 

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan Bloggers’Challenges yang ke-68 dari Kak Rina dengan topik “Cara Menghadapi Temen Moody-an”. 

Duh, ngomongin temen yang moody-an padahal aku sendirinya juga moody-an. Jadi, kek mana ya? Okelah kita bahas. 

Bagaimana kalau kita punya temen moody-an? 

Punya temen apapun It’s okay aja lah ya. Bagaimana pun sikap temen, ya kita harus nerimain. Kalo nggak bisa nerima, nantinya temen berkurang, banyak sakit hati dan lain-lain. 

Cara menghadapinya gimana? 

Kalo ada temen yang moody-an yang kadang suka ceria, kadang jadi pendiam, tiba-tiba di tanya gak di jawab, sinis, dan segala macem, kita harus levih extra perhatian sama dia. Dalam artian, lagi gimana kondisi dia itulah sikap yang kita keluarkan buat dia. Misal, dia lagi ceria, nih. Kita juga harus menunjukkan sikap yang ceria juga. Itu artinya, dia lagi seneng. Kalo tiba-tiba jadi pendiam, gak bisa di ajak ngomong  artinya dia ada sedikit masalah. Usahakan bertanya dulu. Tunjukkan kalo kita peduli sama dia. Yang ikhlas tapi lho, ya. Tapi, kalo dia jawabnya geleng-geleng kepala, keliatan marah, udah stop jangan nanya-nanya lagi. Tapi, biasanya gak akan lama. Iya, kalo aku gak akan lama. Hehe. Nanti, ajak dia lagi, tanya dia lagi, usahakan mood dia baik lagi. Begitu. Jadi, kalo kita ingin punya temen banyak, harus nerima sifat temen yang memang sifatnya berbeda dengan kita. Kita  yang harus lebih peka dengan sikap temen. Jangan sampe kita nuntut mereka, harus punya sifat kaya kita. Kan setiap orang beda-beda. Wajarlah kalo sifat si A gini sifat si B gitu. Kita harus nerima. Kita yang harus bisa menyesuaikan dengan si A, bisa menyesuaikan juga dengan si B. Yang intinya jangan sampe pengaruh buruk dari orang-orang nempel dari kita. Setiap orang punya sifat baik dan buruknya, kan. Nah, sifat baik dari temen yang kita ambil, sedangkan yang buruknya buang. Gitu, shay. 

Informasi dikit, sebenernya ini aku tulis di buku tanggal 22 Januari 2018, di waktu luangku. Karena aku kembali mencari ilmu lagi. Kali ini di Bekasi. Bukan Jogja lagi. Metropolitan bangetlah di sini. Kemarin, aku sempet ke Swalayan buat beli lemari, kasur dan kawan-kawannya. Maasyaa Allah ya penuh mobil dan motor berlalu lalang, dengan klakson saling bersahutan. Begitulah Bekasi. Tapi, alhamdulillah di Pondokku adem banget. Gak sesuai ekspektasiku juga. Ekspektasiku di pondok ini bakalan panas. Tapi, ternyata enggak. Niat ngasih info dikit, kok malah banyak, ya? Hehe. Yaudah lah ya terimakasih. 

Syukron. 

Thank you. 

Hatur nuhun.