Posted in Daily Life

3 Hari Menjadi Santri Luar Biasa

Tanggal 22 Desember 2017 bertepatan dengan Hari ibu, aku berangkat ke Bandung. Ini untuk pertama kalinya aku pergi dari rumah ke tempat tujuan sendirian. Biasanya ke Tasik juga tidak pernah sendiri, tapi mungkin ini sudah saatnya aku harus bener-bener mandiri. Harus terbiasa kemana-mana sendiri.

Aku tiba di Stasiun Cimahi sekitar jam 2. Sholat trus pesen ojek. Cukup lama mencari si driver, padahal dia ada di sebrang, karena dia ga pake jaket ciri khas nya ojek online, aku di buat bingung.

Setibanya di Yayasan Kuntum Indonesia, tepatnya di jl. Babakan, Cipatik, Cihampelas Kab. Bandung Barat, aku melakukan registrasi calon santri Kuntum Angkatan 8 dan administrasi untuk uang makan selama 3 hari ke depan. Kemudian aku langsung di antarkan ke kamar yang di namakan Madinah. Di sana sudah ada 2 orang yang mengikuti tes sepertiku juga. Mereka adalah Kak Radhiah dan Kak Nurul dari Aceh. Masya Allah mencari ilmu butuh perjuangan banget ya. Setelah beberapa lama kemudian makin banyaklah orang yang berdatangan. Ada yang dari Bogor, Tegal, Kalimantan, Sulawesi, Jogja, Bandung, Bekasi, Medan, dan kota-kota lain.

Malam harinya kita di suruh berkumpul untuk di berikan pengarahan dan juga mengumpulkan handphone dan alat elektronik lainnya juga buku bacaan. Setelah itu kami di suruh tidur tepat jam 9. Karena kami harus bangun jam 1. Alhamdulillah bangun jam 1 kurang 1 menit, dan ngerasa badan seger banget, walaupun tidur harus berdempetan. Udara di Bandung sangat sangat dingin. Udah kaya di musim salju pokoknya nya mah. Tapi sebenarnya aku belum pernah merasakan musim itu. Bodo amat.

Jam 1 sudah mulai kegiatan, dimulai dari sikat gigi, berwudhu, dan Qiyamul Lail sampai waktu sholat subuh, kemudian piket sesuai jadwal dan membersihkan diri kemudian di wajibkan untuk sholat dhuha. Sekitar jam 8 kita dikumpulkan di masjid untuk pembukaan dan dilanjutkan dengan Tes tulis. Tes masuk santri baru di sini ada beberapa jenis. Pertama tes tulis, baca qur’an, tes hafalan 1 selama 30 menit 1 lembar dan tes hafalan 2 selama 1 hari 2 lembar, dan terakhir ada interview.

Tes tulis, baca qur’an dan tes hafalan 1 dilakukan di hari pertama, 23 Desember 2017. Tes tulis ini materinya menyangkut tahsin/tajwid, wawasan keislaman, tentang qur’an. Kemudian baca qur’an yang di uji oleh Musyrifah (Kuntum Angkatan 7) sesuai halaqah (Kelompok) masing-masing. Musyrifah ini adalah santri yang sedang mengabdi. Karena program di Kuntum ini adalah menghafal selama 6 bulan dan 6 bulan lagi untuk mengabdi sambil Muroja’ah juga, dengan biaya gratis. Hanya saja harus memenuhi syarat yaitu sudah lulus SMA dan tidak boleh sambil melakukan kegiatan apapun kecuali fokus dengan hafalan di Kuntum.

Yang paling deg-degan itu ya tes hafalan. Apalagi ini cuma ngafal selama 30 menit. Boleh sih gak selembar, semampunya kita tapi aku merasa di kejar waktu aja gitu lho. Sambil ngafal, sambil menenangkan diri aja gitu kan, tenang tenang kamu pasti bisa. Gitu. Ya alhamdulillah bisa. Walaupun tidak 1 lembar. Dan itupun aku salah ngafal. Seharusnya halaman sekian nah aku halaman ini. Karena qur’an ku beda 1 nomor halaman dengan musyrifah. Tapi alhamdulillah musyrifah nya baik jadi no problem. Ba’da ashar baru pengumuman untuk tes hafalan 2. Dari waktu itu semuanya sibuk. Sibuk. Yang biasanya ketika setelah makan bercengkrama dengan teman-teman, saat ini tidak. Setelah makan, ambil wudhu langsung mencari tempat ternyaman buat ngafal. Gitu tetus sampe malem. Malem yang biasanya tidur langsung tidur aja ini enggak. Semua pegang qur’an di kasur. Nyampe tidur pun tetap qur’an ada di pelukan. Pokoknya waktu itu adalah waktu berduaan bersama Al-qur’an.

Tibalah di hari ke-2, seperti biasa jam 1 bangun. Biasanya di hari kemarin setelah selesai sholat menunggu adzan subuh diisi dengan tidur, saat ini engga. Ga ada sama sekali santri yang tidur saat ini. Yang ada hanya ngafal terus ngafal. Ada juga yang kerjaannya bolak balik tempat wudhu buat ngilangin rasa kantuk. Semuanya sibuk. Dengan Al-qur’an. Jam 8 sudah di mulai pengetesan. Uh keringat dingin muncul dan aku berusaha tenang. Masalahnya aku baru ngafal 1 lembar dan itu pun belum lancar, yang 1 lembar lagi belum sempat di apa-apain. Belum di baca. Apalagi di hafal. Untungnya musyrifah meringankan beban kita dengan cara boleh terus setor sebelum 2 lembar sampai jam 11.30.

Tapi nyatanya, aku belum bisa. Aku setor dua kali dengan setoran pertama 1 halaman lebih dan setoran kedua sisanya. Totalnya 1 lembar. Aku berusaha mau nambah lagi setoran dengan minimal 7 baris. Tapi gak bisa. Bener-bener gak bisa. Mungkin gara-gara terlalu di tekan buat terus hafal, sedangkan hafalan yang tadi aja udah lupa. Hafalan gak mutqin. Gak kuat. Cuma mengandalkan mengejar 30 juz. Aku gak bisa bayangin kalo aku lolos. Dari sini aku udah pasrah aja sama Allah. Kalo Allah ngasih aku jalan ini, berarti Allah tau kalo aku mampu di sini dan aku berhak disini. Walaupun ada sedikit keraguan untuk masuk sini.

Setelah tes selesai, kita masuk kamar masing-masing dan mulai sedikit akrab lagi. Tertawa seperti biasa lagi. Haha hihi lagi. Anehnya kita malah membicarakan betapa anehnya kita tadi. Ngobrol cuma nanya udah berapa halaman?, udah maju belum? Doain aku ya. Gitu aja percakapan tadi. Tapi sekarang bercerita banyak. Apalagi setelah interview selesai, sekitar sebelum ashar, Kak ST yang bernama asli Sitti Khadijah N, berasal dari Kendari, Sulawesi Selatan, bercerita tentang tadi interview. Masya Allah parah emang beliau tuh.

Berikut percakapan antara Kak St (👧) dengan Musyrifah (👩).

👩 : Bagaimana seandainya jika kamu tidak di terima di sini?

👧 : Oh ustadzah jangan bilang seandainya, saya tidak mau ada kata seandainya. Nanti tiba-tiba ada malaikat lewat, mati aku. Saya jauh-jauh dari Sulawesi datang kesini ya harus d terima

*kurang lebih percakapan seperti itu

👧 : Di sini kan ada kegiatan memanah, apakah setiap cabang Kuntum ada kegiatan itu?

👩 : Hanya sebagian yang ada kegiatan memanah, ada yang 2 minggu sekali ada juga yang tiap hari.

👧 : Oh kalau begitu ya saya harus di tempatkan di tempat yang memanah setiap hari ya ustadzah. Karena tujuan saya menghafalkan Al-quran dan juga memanah, ustadzah.

Masya Allah dia emang perempuan jujur nya kebangetan. Kita yang interview aja jawabnya jujur biasa aja. Lah ini, kocak. Nyampe drngan polosnya bilang alasan masuk Kuntum kenapa karena GRATIS. Dia bilang gitu. Hebat kan, temanku. Hahaha.

Masya Allah nya lagi, mereka itu ah Subhanallah pokoknya. Sholehah semua. Akhlaknya di jaga, auratnya tertutup sempurna. Masya Allah.

Hari terakhir ini sebenarnya diisi dengan interview karena saat pendaftaran secara online, santri yang mendaftar sekitar 160 lebih sedangkan yang datang cuma 61. Jadi di hari terakhir ini sebenarnya tinggal nunggu penutupan aja sih. Dan pulaaaaang. Yeah.

Tapi, karena aku ada janji sama temen-temen baru untuk menghadiri kajian Ust. Adi Hidayat jadinya aku gak langsung pulang.

Entah kenapa pas penutupan kok rasanya sedih yak. Berasa kehilangan banget. Berasa kita berteman udah lama padahal cuma 3 hari. Masya Allah seneng ya berteman dengan orang-orang sholehah. Syukron antunna yang sudah mau berteman denganku, barakallahu fiikum.

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

4 thoughts on “3 Hari Menjadi Santri Luar Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s