Posted in Travel

Menapaki Kembali Jejak 7. di Galunggung 

2 Desember 2017

Baru bisa ke Gunung Galunggung lagi setelah 2 tahun lamanya aku tidak ke sini. Aku seolah-olah diajak untuk bernostalgia. Bernostalgia saat dimana aku dan 6 temanku pergi nekad ke Galunggung dari pondok. Saat itu kita terinspirasi dari film 5cm.

Resolusi kurang bagus, dari hp baru dadakan Rifqi

Pergi ke Galunggung dengan modal nekad, kabur dari pondok. Padahal saat itu kita menjadi panitia MPLS. Pengalaman pertamaku nebeng ke mobil orang. Biasa dipanggil BM. 
Karena kita nebeng, gak mungkin untuk meminta sampai ke tempat tujuan. Kita turun di Gapura menuju objek wisata Cipanas Galunggung sekitar 4 km. Tidak ada cara lain selain jalan kaki. Padahal rencana awal kalau jam 4 belum sampe lebih baik pulang lagi. Melenceng dari rencana, kita baru sampe sebelum maghrib dan tidak mungkin untuk kembali. 

Gerbang tiket menuju Cipanas dan Kawah Galunggung

Gapura ini mengingatkan ku dimana kita bernegosiasi kepada tukang karcis untuk membayar dengan uang seadanya. Alhamdulillah mereka mengizinkan kita. 

Mushola terdekat dari area parkir

Tempat itu menjadi tempat istirahat kami sebelum pergi ke atas untuk tidur. Disini kami melaksanakan sholat maghrib dan isya terlebih dahulu. 

Kita juga sempat bercengkrama disini, menunggu sholat isya. Sambil memakan gorengan dengan membayar secara sukarela. Dapat gorengannya juga ya harus rela kalo gak kenyang.  Kita sempat membicarakan fanta disini. Konyol sekali. 

Tempat kita tidur

Malam itu, udara dingin sekali. Kita pake jaket, kecuali Yuni. Teguh bilang udah kaya mau pergi ke Mall aja gak pake jaket. 

Warung bersejarah di dekat Mushola tempat kita tidur

Disini, kita makan mie di malam hari. Sambil menikmati hujan yang mengguyur kota ini. Saling menyalurkan rasa. Tapi mungkin dia tak pernah merasa. 

Kolam air hangat 

Di kolam ini Aul, Rifqi, dan Teguh berenang di malam hari. Cowok, sih. Ya iya enak, renangnya gak usah pake baju. 

Persimpangan menuju Cipanas atau Kawah dari gerbang masuk

Perjalanan ke kawah dimulai setelah sholat subuh di tanggal 1 Agustus 2015. Kita mengisi air dari keran terlebih dahulu untuk perbekalan. Untuk pertama kalinya aku meminum air keran. Perjalanan lumayan memakan waktu, karena kita jalan. Sampe di puncak Gunung Galunggung sekitar pukul 07.30. Telat untuk melihat sunrise. Kita juga pergi ke kawah dan berfoto ria di sana, menggunakan hp Rifqi. Dia sengaja beli secara dadakan ditemani Aul. 

Ikut-ikutan kaya 5cm.

Sekitar jam 10.00 kita turun. Saat pulang banyak perselisihan. Pertama Yuni, dilanjut Teguh. Karena banyak perselisihan tersebut mereka jalannya cepet, dan kita juga akhirnya cepet sampe di gerbang masuk. 

Setelah keluar dari gerbang, kita kembali berjalan (lagi) menuju Cipasung. Kita beristirahat dulu untuk sholat Dzuhur. 

Mushola
Di tempat ini juga, kita makan bersama. Aku beli cemilan buat mereka. Tapi, masih lapar. Akhirnya Teguh meminta makan ke warga. Serius, ini pengalaman pertama. Warga merasa kasihan juga sama Teguh. Karena Teguh bilang dia asalnya dari Garut. Emang bener sih dia dari Garut, tapi kita mulai perjalanan dari Cipasung. Untung warganya baik. 

Setelah makan kita meneruskan perjalanan lagi, ada mobil pick up lewat. Dan BOOOOOOOM!!! Itu adalah mobil jemputan. Di sana udah ada Amir, A Ipang, Kang Ijay dan Kang Robi. Kang Robi langsung nampar Teguh dan kita semua diam. Kita diam juga selama perjalanan. Akhirnya kita dapet ceramahan dari A Ipang, ketua OSIS. 

Kita juga sempat jadi trending topic, tapi alhamdulillah gak nyampe ke pengurus. Kita aman. Kita juga kayaknya hampir mau di laporkan ke polisi. Kita di gosipkan kalo kita di culik, ada yang bilang kita tersesat karena ada orang Bandung, dan lain-lain yang lucu-lucu sekaligus menyeramkan. Padahal kita seneng-seneng di sana. 

Hahaha. 

Aul, Amel, Kiki, Teguh, Fetty. Yang di bawah adalah Yuni dan Rifqi.

Terimakasih untuk Amel, Kiki, Yuni, Aul, Rifqi dan Teguh💕

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

2 thoughts on “Menapaki Kembali Jejak 7. di Galunggung 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s