Posted in Self Challenge

Challenge #27 : When Rain was Fall, and I Love it

Sejak pagi tadi sepulang lari, hujan tidak berhenti sampai saat ini jam 14.33. Puncaknya tadi sekitar jam 9an. Awalnya punya niat untuk mandi tapi, Allahu akbar untuk menginjakkan kaki di lantai saja dinginnya minta ampun. Akhir-akhir ini Jogja emang hujan terus dan sangat dingin, sekitar 25°C. Hari-hari biasa, biasanya sampe 33°C. Setelah makan pagi tadi, aku hanya tiduran di lantai tanpa alas. Lama kelamaan tubuhku menggigil kedinginan. Akhirnya aku mengambil selimut A’yun untuk di jadikan alas, kujadikan bantal Mba Tamah jadi tempat kepalaku. Aku hamparkan selimut tersebut lalu aku berbaring di atasnya dan aku mengambil sisa selimut tersebut untuk di jadikan penutup tubuhku. Jadilah selimut itu sebagai alas dan the real blanket. Kerjaanku hanya tiduran, mainin hp padahal chat tidak kunjung datang. 

Eh Mba Tamah menawarkan aku makan mie instan. Karena tidak boleh menolak rezeki, aku pun makan. Hanya sedikit. Akhirnya aku balik lagi ke tempat berlayar (Amazing Blanket). 

“Fet, kok udahan. Ini abisin. Aku kenyang” ucap Mba Tamah. 

“Oke tenang”

Akhirnya aku balik lagi ke tempat dimana mie itu berada. 

“Lho kok masih banyak” ucapku. 

“Halah paling juga abis” sindir A’yun. 

“Hehe pencitraan doang tadi”. 

Bagaimana kelanjutannya? Aku memakan mie instan tersebut yang di tambahkan tic-tac dan bon cabe *mohon maaf saya tidak di endorse*.

Aku kembali ke tempat pelayaran dan men-charger hpku karena nanti akan ada ujian English Cafe. Aku baca-baca materi, tetapi mataku tidak bisa di ajak kompromi akhirnya aku tertidur.  

Bangun tidur pas adzan Dzuhur dan hujan enggan berhenti. Aku bingung dan berdo’a semoga ujian hari ini lancar dan tidak boleh ada acara pembatalan. Aku telfon dulu lah Bapak, minta ridhonya semoga ujiannya lancar. Pas telfon malah nanya lagi dimana. Mungkin di kiranya aku pulang hari ini. Aku jawab ya masih di asrama. Aku bilang belum ujian, mau berangkat tapi hujan. Bapak juga bilang mengenai kepulanganku. Ya, aku suruh pulang. Dan mungkin tidak akan kembali. 

Pas cek hp. 

Liat WhatsApp dari Grup English Cafe, ujian di undur jadi hari Sabtu. Bingung. Padahal aku udah pesen tiket. Kemungkinan aku terjadi. Tuhkan pasti ada acara cancel-cancel-an. Ya Allah, aku harus gimana. 

Pasrah saja lah aku. Mungkin tidak bisa mengikuti ujian. Aku bilang ke Chef Nana (Tutor) juga ke grup. 

Alhamdulillah Allah masih sayang sama Fetty. 

Khusus kamu ujian hari ini ketemu di Monalisa Cafe jam 4 deket UNY. 

Aku langsung siap-siap setelah melihat kabar baik dari Miss Nana. Tak lupa aku membawa payung karena berniat untuk jalan dari asrama sampe halte. Padahal jarak lumayan cukup jauh. Soalnya takut seperti kejadian dulu. Ga ada Go-jek yang mau kalo lagi hujan. Tapi, aku mencoba untuk cari driver. Lagi-lagi Allah masih tetap sayang sama Fetty yang penuh dosa ini. Nemu driver. 

Walaupun memakai jas hujan, hujan tetap menampar wajah. Tapi, aku bersyukur karena Allah memberikan banyak nikmat hari ini. Aku suka hujan. Ternyata diem di rumah ga enak. Kamu perlu berjalan keluar. Menikmati setiap turunnya hujan. Walaupun kakimu akan gatal terkena air kotor, percayalah hatimu akan tenang. 

I love rain. 

Last day, November 28th 2017

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

One thought on “Challenge #27 : When Rain was Fall, and I Love it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s