Posted in Self Challenge

Challenge #4 : Kerinduan Yang Terpendam

Nulis apa nulis apa nulis apa sekarang? 

Sekarang aku mau menulis tentang hari ini. Oh iya, mungkin kalian akan mendapatkan bahasa yang beda dari judul Challenge #(hari ke) : (judul). Karena aku ingin membuatnya beda. Bahasanya mungkin akan seperti artikel pada biasanya. Tapi, sebenarnya konteks yang aku buat sama seperti apa yang sebelumnya aku tulis. Terbaca humoris padahal aku tidak sama sekali humoris. Apakah kalian berpendapat seperti itu? Hm.. 

Hari ini. Hari ini. Hari ini alhamdulillah aku masih di beri sehat, masih diberi nikmat yang sangat sangat banyak. Tapi, aku sedikit lapar di pagi ini. 

Tadi malam aku tergoda sekali dengan mie instan karya teman-teman yang membuat story dengan memamerkan mie ala-alanya. Aku ingin sekali makan mie. Di tambah kuah susu, apalagi di tambah keju, di tambah telor setengah matang. Mama, bolehkah aku memasak itu semua di rumah saja? Dan sekarang aku ingin pulang. Untuk mengobati kerinduanku pada keluargaku, sahabatku, Cipasungku. Ah aku rindu semuanya. Kenapa harus ada rindu, kalau susah untuk bertemu? Aku harus meminimalisir rasa rindu ini. Rindu ini tidak boleh melebihi rinduku pada Rasul. 

Aku kembali ke makanan. Aku ingin mie kuah susu keju, seblak mamah Deden (calon mertua adeku), aku ingin Cibay, gehu A Yadi, lumpia basah di depan warung ummi, cigor dan bagor kesayangan, otak-otak, Popeye, mie ayam mini, martabak mini, crepes, aku rindu semua makanan itu. Biasanya kalau pagi seperti ini, aku sekolah. Karena ini hari senin. Aku senang dengan mengingat memori dulu, karena dulu aku sering melakukan hal yang keluar dari aturan sekolah. Jangan kira aku adalah anak baik. Aku adalah anak mamah bapak yang baik sekali. Kalau mau upacara, malas sekali rasanya. Aku adalah pengurus OSIS. Jadi, aku harus menyiapkan peralatan upacara bersama teman-temanku yang juga dibantu oleh bapak guru bagian kesiswaan. Kalau merasa capek dan panas sekali, kadang-kadang aku mundur, pura-pura sakit. Dan pergi ke basecamp, yaitu Ruang Paskibra. Tapi, kalau menjadi petugas mana bisa aku seperti itu. Aku tidak pernah melewatkan makan pagi. Beragam cara makanku.

1. Sekedar beli gorengan 2k atau 3k di Bibi Barade. (Bi, neng kangen atuh kumaha ieu teh). Makannya di kobong atau depan asrama kalau si kang keamanan pusat (Topik) tiba-tiba datang menggebrak asrama tercinta, dan teriak-teriak sudah seperti yang mau demo, sambil membawa jilidan (tongkat sakti dari rotan yang ukurannya sekarang di perkecil biar sakit). Sambil belajar menghitung 1 sampai 10. Kalau dia baik hati, tidak akan di jilid, kalau emosinya lagi memuncak akan di jilid kalau telat. Aku pernah di jilid di betisku. Padahal aku tidak telat. Ternyata kesalahanku adalah memakai sepatu dari kamar. 

2. Kedua, beli lauk di bibi Barade, kalau si bibi dagang lauk. Mengambil nasi di DU atau di depan kamar pengurus. Ingin sekali mengambil nasi sendiri karena ingin banyak. Karena kalau diambilkan oleh pengurus nasinya seiprit. Oh iya, kalian harus tahu, kalau aku makan seperti ini aku memakai tempat plastik bening. Karena lumayan dapat dari si bibi. Lauk yang di wadahi plastik lalu dibuka dengan hati-hati dan langsung masukkan saja nasi. Terkadang bilang aw karena panas. Makannya di kelas kalau misalkan belum ada guru. Kalau udah ada, terpaksa harus menunda lapar dan makan di saat istirahat. 

3. Pagi-pagi beli lauk di Al-amin atau Bi Juju yang super murah meriah. Hanya 1k. Biasanya ini dilakukan kalau hari libur. Seperti hari minggu. Ini masih terbilang normal, seperti biasa. Hanya saja mengambil nasinya sekalian dengan teman-teman satu kobong. Jadi, minggu pagi adalah quality time bersama teman kobong. Seperti biasa kita gak pernah makan menggunakan piring, tapi beralaskan kresek hitam yang di sobek menjadi besar dan di gabungkan. Bukan tidak mempunyai piring. Piring banyak, dapat hadiah dari so klin cair. Sepertinya wings tidak hanya memproduksi sabun juga, tetapi piring juga di produksi oleh mereka, karena untuk hadiah. Atau bisa saja, mereka kebanyakan piring di rumahnya. 

4. Merencanakan bersama teman-teman yang satu kelas untuk makan bersama di kelas. Beli lauknya bisa di Bi Juju, Bi Barade atau al-amin. Membawa kresek besar untuk nasi. Untungnya anak-anak Ipa 1, cewenya hampir semua di asrama Al-Uswah, asramaku. Makan di tempat yang sudah sengaja di kosongkan dari kursi dan meja untuk makan bersama. Seperti biasa makan beralaskan piring terbang alias kresek hitam. Ditambah kertas nasi, karena yang cowo dapat lauk dari DU. Biasanya lauknya gorenga, bihun yang tidak berasa sama sekali, dan telor tanpa rasa juga. Makan gak pernah kenyang tapi seru. Sesuai naaibnya, kadang di beko sama si Billah. Kadang kenyang juga, sih. Menurut ku, cara ini adalah yang paling aku sukai. Karena bisa makan bersama anak kelas. 

Banyak sekali cerita di pondok, dan pondok banyak sekali cerita. Aku rindu Cipasung. Terimakasih yang sudah membaca kerinduanku, semoga bermanfaat. 

Thanks☺

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

3 thoughts on “Challenge #4 : Kerinduan Yang Terpendam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s