Posted in Daily Life

Gadis Cadar

8 Oktober 2017 

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 6)

Setelah di malam hari aku nangis, akhirnya Allah memberikan aku rasa bahagia. 

Mulai dari telponan sama Bapak. Allah menunjukkan petunjukNya lewat Bapak. Allah selalu tau apa isi hati kita. Sedangkan kita sendiri gak bisa mendengar apa yang dibicarakan hati kita karena tertutup oleh pikiran kita. Seolah keduanya tak ingin berdamai. 

Setelah memberi kabar kepada Bapak, dikejutkan lagi dengan ajakan teman untuk traveling ala backpacker. Whoa siapa yang gak mau ya kan? Akhirnya aku mengatur strategi untuk bisa backpacker-an yang istilah ini dihapus oleh dia dengan Ngagembel”. 

Siang harinya aku pergi ke masjid Al-Mujahidin UNY untuk mendatangi acaranya Bang Jem alias Bang Muzammil dengan tema “Menikah, menyongsong peradaban Qur’ani”. Kaget juga, sih membaca temanya. Tapi, ya namanya juga nyari ilmu. Ambil dulu aja semuanya nanti pilah lagi. Siapa tau ini akan bermanfaat buat kedepannya nanti. 

Aku berangkat ba’da dzuhur, dan cuaca kurang mendukung. Hujan tiba-tiba turun. Apa kata teman-temanku? Ya, seperti biasalah. Aku berniat untuk mengambil wudhu untuk sholat Dzuhur dan sebelum melangkah keluar aku bilang “Liat aja ya, Fetty berangkat hujan berhenti”. Lagi-lagi temanku memojokkanku “Wah pawang hujan” bla bla bla. Aku yakin, percaya aja sama Allah. Sebenernya sakit banget dipojokkin gini tuh *elah curhat*. 

Aku pun sholat dzuhur dan ba’da sholat aku berdo’a, mengamalkan apa yang bapak berikan. Apa yang terjadi? Dengan kekuasaan Allah, hujannya pun berhenti. Tapi, gak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Capek? Semoga seperti itu. 

Akhirnya aku memulai perjalanan yang cukup jauh bersama temanku menggunakan motor. Acara di undangan jam 15.30, dan Muzammil datang jam 16.00, sedangkan kita udah hadir pukul 14.05. Istirahat lah kita di masjid tersebut, dan 14.30 melakukan sholat ashar karena adzan sudah berkumandang. Aku dikagetkan dengan keadaan disini. Banyak yang pake cadar coooy. Ada juga yang cadarnya masih menggunakan masker. Mungkin ia baru, atau entahlah wallohu a’lam. Ba’da ashar, kita turun ke lantai 1, dan apa yang terjadi? Akhwat udah banyak yang memenuhi masjid. Pokoknya aku gak mau di belakang, aku pengen di depan. Setelah mengatur strategi akhirnya kita bisa duduk di barisan kedua tapi depaaaaaan banget. Jelas lah kalo liat Muzammil sama Sonia dengan syarat pake kacamata. Hehe. 

Ketika sudah duduk dengan tenang, aku dikejutkan oleh seseorang yang memakai cadar biru dongker. Dia seperti ingin menyapa tapi, dia ragu. Duh serius aku takut. Masa iya ada pembaca Komorebi yang kenal aku? Aku gak se-terkenal itu. Karena aku malu di tatap oleh mata cantik itu *karena aku gatau wajahnya*. Aku pun bilang ke temen sebelahku “Tik, cewe yang di sebelah aku, yang pake cadar, dia kaya mau nyapa aku tapi dia kaya ragu gitu. Malu gue coooy”. Trus temenku bilang “Iya dari tadi liatin mulu, kaya yang kenal sama kamu gitu”. 

Ya Allah. Dia pegang pundakku. Aku hanya bisa tersenyum. 

“Mba, namanya siapa?” ucap si wanita itu. 

“Fetty”

“Orang Banjar?” 

Duh gawat ini. Kok bisa tau? Siapa dia? 

“Iya. Kok tau?”

“Aku Sarah”

Sarah? Kakak kelasku bukan, sih? 

“Sarah Rosalia?”

“Iya, dimana sekarang?” kami pun berjabat tangan. Basa-basi nanya kabar dan “Kok kamu gendutan, sih? Ih kok bisa? Beda banget. Tadi, tuh kita mau nyapa tapi takut salah soalnya jadi gendut”. Lütfen lütfen lütfen tenggelamkan aku dari sini. Masalahnya jarak kita lumayan renggang dan itu menyebabkan para penonton drama ini mendengar. Apa daya, di skenario ku harus senyum terus. 

Dia pun mengenalkan teman sebelahnya. Nindya Khoirunnisa. Taulah. Apalagi teh Sarah ini kakak kelasku. Lumayan akrab, sih waktu itu. Tapi teh Nindy aku tau di facebook. Mereka orang Banjar. Senangnya bertemu teman lama. Hehehe. Di akhir acara, aku pun berfoto dengan mereka. Setelah berfoto aku dan temanku berniat untuk pulang karena takut kemaleman pulang ke pondok. 

“Eh gak sholat maghrib dulu?” tanya Teh Sarah. 

“Iya, nanti aja teh”

“Lah kok nanti?”

Waduuuh salah ngomong coy. Ampuni aku Ya Allah. 

Iya, sih aku harusnya melanjutkan sholat maghrib terlebih dahulu. Tapi, di tempat itu pun penuhnya minta ampun. Aku juga belum beli lauk untuk makan, alhasil kami pulang dibarengi gerimis. Untung aku ingetnya sama Allah bukan sama masa lalu. Alhamdulillah masih diberi keselamatan. Dan alhamdulillah aku masih bisa menyambung tali silaturahmi dengan alumni SMPN 1 Banjar.  

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

6 thoughts on “Gadis Cadar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s