Posted in Sharing

Gak Harus Menuhankan Usaha 

Malem-malem aku dilanda kebingungan. Setelah aku lihat story temenku yang berbunyi “Gak harus menuhankan usaha”, seharian aku mikirin itu. Padahal awalnya berpikir kalo itu bener. Tapi, malem-malem terlintaslah banyak pertanyaan saat nulis yang membuat kepala ini pusing.  Pas nulis mengenai “Masalah” sebenernya itu panjang banget, tapi karna aku membahas ke lebih lanjut jadi ke tentang usaha dan hasil aku kebingungan. Alhasil aku  hapus. Terus aku pun akhirnya ng-chat si temenku yang bikin story itu. Karna udah malem aku juga nanya dulu, mastiin kalo dia belum tidur. Alhamdulillah, dia masih melek. 

Dia pun mengirimkan sebuah gambar hasil screenshoot yang intinya tuh ada anak yang mengeluh ke ayahnya kalo dia nilainya kecil. Trus ayahnya bilang “Yang kamu tuhankan usaha atau Allah?”. Si temenku juga bilang gini pertama, takdir itu mutlak. Dalam hadits disebutkan “Tidak ada sehelai daun pun yang jatuh ke bumi yang sebelumnya tak tertulis di lauhul mahfudz”. Dan semua perjalanan manusia sudah ada track record nya di lauhul mahfudz, takdir itu bisa diubah atas izin Allah dengan cara kita memintanya. Jadi mintalah terus kepada Allah, Allah kan lebih tau yang terbaik buat hambanya. 

Layaknya sutradara yang sudah mengatur sebuah alur cerita. Dan bisa saja di tengah pembuatan cerita itu, si sutradara mengubah alur atau peran dia, ya sesuka sutradara.

Kedua, jawaban Allah dalam setiap doa setiap makhluk cuma 3 :

  1. Iya
  2. Tunggu, aku ingin melihat perjuanganmu
  3. Tidak, aku punya yang lebih baik untukmu. 

Sederhana. 

Kenapa harus ada kata-kata proses tidak akan membohongi hasil? Ataukah itu karena si pemenang yang udah usaha dan hasilnya sangat memuaskan sehingga dia berkata seperti itu sedangkan si kalah gak akan berbicara itu karna dia pun udah berusaha tapi hasilnya tidak memuaskan? Kira-kira pertanyaanku begitulah. 

Kata-kata itu harus tetap ada karena disanalah letak kehinaan dan kebodohan manusia yang terbatas ilmu, yang tak sebanding dengan ilmunya Allah. Semacam ‘Kamu tidak akan pernah tau usaha yang ke berapa yang akan berhasil’ seperti tidak tau doa mana yang akan dikabulkan. Keduanya sama. Maka dari itu perbanyaklah. Jadi harus sadar diri akan keterbatasan. Buat motivasi untuk selalu usaha, dengan syarat ‘jangan terluka rasional dengan hasil usaha’. 

Balik  lagi ke ‘JANGAN MEREBUT PERAN TUHAN’. 

Masih bisa di masukkan ke dalam pemisalan. Misalnya kamu nanam biji apa gitu, trus kamu berusaha buat biji itu menjadi sebuah pohon dan berbuah lebat. Kira-kira kamu bakalan langsung mendapatkan apa yang di inginkan atau gagal? Yap, benar. Ada dua kemungkinan. Bisa jadi gagal, bisa juga berhasil. 

Bener aja, gak harus menuhankan usaha. 

Intinya kamu harus tetap berusaha karna kamu gatau usaha yang ke berapa yang akan berhasil. Dan itu termasuk jawaban Allah yang kedua ‘Tunggu, aku ingin melihat perjuanganmu’. Lalu bagaimana dengan jawaban Allah yang ketiga sedangkan kita sudah berusaha di jalan itu?

Allah maha tau. Allah lebih tau. Perbanyak doa. Banyak minta sama yang punya. Semuanya mudah. Toh tujuan kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. 

Wallahu a’lam bishowab. 

Advertisements

Author:

Assalamu'alaikum. Aku Fetti Lestari. Suka menulis tapi belum pandai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, sekaligus traveller yang mempunyai CEO Muslim Wedding Organizer dan bisa menjadi public speaker. Salam Komorebi, Salam Lestari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s