Posted in Daily Life

Welcome Jogja? 

Sudah hampir 1 bulan aku merasakan hidup menjadi warga jogja. Menjadi anak rantau kembali setelah kemarin merasakan liburan yang teramat panjang. Bayangkan aja UN di bulan april. Setelah UN jadwal kosong banget tapi sebenarnya aku harus menjalani ujian asrama. Because I’m sun tree, man. Yang seharusnya ngaji pun, kami bolos. Karena bukan aku sendiri yang bolos, tapi bersama teman sebayaku juga. Dan april mei itu di pake untuk persiapan perpisahan gitu. Perpisahan aku mungkin beda dengan perpisahan kalian. Aku menjalani perpisahan 3 kali. Perpisahan sekolah, pesantren dan terakhir asrama. 

Sekitar tanggal 15 mei aku boyong dari Cipasung dan ini awal menjadi aku pengangguran mode on.  

Mei, juni menjadi bulan-bulanan aku pengangguran. Bagaimana tidak merasakan kebosanan, kalau aku kerjaannya hanya tidur, makan, mandi (itupun kaloo gak mager), dan ber-internet ria. Aku menghabiskan kuota 3GB sekitar 6 hari. Ada yang lebih parah dari aku gak, sih? Hehe. 

Tanggal 4 juli aku berangkat ke Jogja. Aku mondok lagi. Kali ini  aku belum mau kuliah. Rencananya akan kuliah tahun besok. Ekspektasiku masuk pondok kali ini ialah jadwal yang akan padat buat menghafal dan belajar, handphone yang akan disita, salah dikit akan kena takziran atau hal lainnya yang lumrah aku dapatkan seperti pondok pondok salaf. Karena waktu aku masih mondok di Cipasung, aturannya itu emang ketat kadang juga longgar. Begitulah. 

Tau apa yang terjadi? Selama beberapa hari aku masih merasa menjadi pengangguran. Karena jadwal akan aktif tanggal 11. Seminggu, bok. Tapi okelah no problem. Sekalian ini latihan aja buat melakukan adaptasi di pondok baru. 

Nah, untungnya temenku sepondok datang ke jogja buat tes. Dan akhirnya kita bisa meet up. Tanggal 6 juli aku ke UIN Yogyakarta untuk yang pertama kalinya dan diantar temanku. Sebenarnya aku akan meet up dengan Tiari, Fitri dan Shabrina. Tapi, karena Shabrina mengalami delay penerbangannya jadi gak bisa ketemu. Kita jalan-jalan di UIN tujuannya buat nyari ruangan aja, sih. Kita juga sempet makan kebab di Lippo Mall Yogyakarta. Etdah gaya bet ya gua😂. Karena waktu masih panjang kita pun berlanjut ke Affandi museum. Sebenarnya diantara kita itu gak ada yang suka seni. Tapi, ya sudahlah kita pun akhirnya masuk dengan harga tiket pelajar seharga Rp10. 000. 

Aku masih merasakan udara jogja. Seperti mimpi. Akhirnya apa yang aku inginkan terwujud. Hidup di jogja. 

Ada satu pelajaran yang aku dapatkan di Affandi museum. 

Tidak ada hari esok. Kalau bisa sekarang, kenapa harus besok?

Advertisements